DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Makhluk gaib yang berdatangan.


"Baiklah kangmas tolong tinggalkan rumahku, jangan buat keluargaku hawatir lagi, aku titip salam untuk anakku Senopati, sampaikan padanya untuk mengunjungi ibunya". Ucap Lala berderai air mata.


"Tapi Lala, aku ingin melindungimu dari kangmas Elang, dan apakah kau tau siapa yang selama ini menjagamu, Satria itu adalah perwujudanku La, selama ini aku lah yang menjagamu dan begitu mencintaimu, bisakah kau bersamaku La dan melupakan masa lalumu bersama kangmas Elang". Tukas Bagaskara memohon pada Lala.


Nampak Lala sangat terkejut setelah mendengar pengakuan Bagaskara, Lala tidak pernah menyangka jika laki-laki yang sering dia bayangkan dalam mimpi itu adalah Bagaskara.


Jadi sentuhan lembut dan aroma tubuh laki-laki itu, dia adalah kangmas Bagaskara, aku memang sangat menyukai setiap sentuhan nya tapi aku tidak boleh menerimanya lagi, batin Lala didalam hatinya.


"Maafkan aku mas, tapi aku sudah menjadi milik kangmas Elang, meski aku sudah tidak bersamanya lagi, aku tidak mungkin menghianatinya, lebih baik kau pergi saja dan jangan temui aku lagi". Tegas Lala dengan memalingkan wajahnya.


"Tapi La berjanjilah padaku, jika kangmas Elang sudah tidak menganggapmu sebagai istrinya, apakah kau mau menjadi pendampingku?". Tanya Bagaskara bersimpuh dibawah kaki Lala.


"Apa yang kau lakukan kangmas lekaslah pergi dari sini, kita akan berbicara lain waktu aku mohon pergilah dari rumahku". Jawab Lala dengan wajah cemas.


Ternyata di luar kamarnya terdengar suara mbah Karto dan juga pak Jarwo yang sedang berbincang, keduanya membicarakan pagar suci untuk menghalangi makhluk gaib sejenis buto itu masuk ke dalam rumah itu.


"Aku akan meminta pak haji Faruk untuk membuat pagar suci dari lantunan ayat-ayat suci, supaya makhluk gaib yang jahat seperti buto itu tidak dapat memasuki rumah ini lagi". Tukas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Tapi Le kita juga harus memikirkan cara lain, supaya Lala dapat tetap terlindungi di luar rumah, kita membutuhkan jimat suci untuk Lala, supaya para buto itu tidak dapat mendekati Lala di luar sana". Cetus mbah Karto dengan suara beratnya.


Terlihat Bagaskara membulatkan kedua matanya setelah mendengar percakapan kedua manusia sakti itu, dia memandang sendu wajah Lala dan menundukan kepalanya.


"Kau dengar itu kangmas, setelah ini kau ataupun kangmas Elang tidak akan pernah bisa mendekatiku lagi, cepat tinggalkan rumahku sebelum kehadiranmu diketahui semua orang". Tegas Lala dengan wajah sendu.


Kemudian Bagaskara melesat meninggalkan Ayu di dalam kamarnya, sementara Ayu yang bermuram durja nampak terisak dengan membayangkan wajah Senopati anaknya.


Jika rumah ini akan dipagari berarti anakku tidak akan bisa menemuiku disini, dan jimat suci itu akan menghalangiku untuk bertemu dengan anakku, tapi jika aku tidak mengikuti ucapan mbah Karto dan juga mas Jarwo, hidupku akan dalam bahaya sekali lagi, karena aku simbok sudah tiada dan jika aku kembali ke alam gaib bapak bisa terguncang jiwanya dan menyusul simbok ke alam baka, batin Lala berderai air mata.


Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan pintu di kamar Lala, kemudian Lala bangkit dari duduknya dan membuka pintu itu.


Cekleek...


"Ada apa mbak?". Tanya Lala pada Kasmi yang ada dihadapan nya.


"Itu ada pak haji Faruk datang untuk mendoakanmu, di luar sana juga ada Rania dan Wati yang datang bersama simbah Parti, ayo La keluar dulu sapa mereka semua". Tukas Kasmi dengan tersenyum simpul.


Setelah itu Lala keluar dari dalam kamarnya menghampiri pak haji Faruk dan juga simbah Parti, nampak Lala memgecup punggung tangan keduanya dan menyapa kabar kedua orang tua itu.


Kemudian Lala berjalan mendekati Rania dan Wati yang berada di teras rumahnya, terlihat ketiga saling memeluk dengan berderai air mata, Rania dan Wati sangat bersyukur bisa melihat Lala kembali, dan tidak lupa menanyakan kondisinya saat ini.


"Bagaimana keadaanmu La setelah kembali ke alam manusia". Ucap Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Terlihat Rania dan Wati memeluk Lala dan memberinya kekuatan supaya dia bisa menghadapi semua dukanya.


"Kau harus kuat La, semua yang terjadi padamu pasti ada hikmahnya, mungkin anakmu lebih baik bersama bapaknya di alam sana karena dunia kalian berbeda". Ujar Wati dengan menepuk pundak Lala.


"Iya La benar yang Wati katakan mungkin kalian memang tidak bisa hidup berdampingan, tapi kau kan masih bisa bertemu dengan anakmu itu, bukankah dia memiliki kesaktian dari bapaknya, jika dia merindukanmu pasti anakmu itu akan datang menemuimu kesini". Hibur Rania pada Lala yang masih sesegukan.


"Tapi tadi aku mendengar percakapan mbah Karto, jika mereka akan memberi pagar suci di sekitar rumahku, lalu bagaimana anakku bisa datang menemuiku huhuhu". Jelas Lala terisak pilu.


"Kau harus menjelaskan pada mbah Karto dan yang lain nya, jika kau masih ingin bertemu dengan anakmu, supaya mereka memikirkan sebuah cara La". Cetus Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Lala berjalan memasuki rumahnya dan mengatakan apa yang mengganjal didalam hatinya, Lala masih ingin berjumpa dengan anaknya, tapi dia mengatakan jika rumahnya dipagari maka Senopati anaknya tidak dapat memasuki rumahnya, lalu mbah Karto mengatakan jika anak Lala adalah setengah manusia, jadi dia bisa bebas memasuki rumah Lala meski rumah itu telah dipagari dengan ayat suci, kecuali tujuan anak Lala datang ke rumah itu dengan maksud yang buruk.


"Benarkah mbah Senopati masih bisa menemuiku?". Tanya Lala dengan mata berkaca-kaca.


"Iya nduk anakmu itu masih bisa menemuimu di rumah ini, sekarang bersiaplah dan ambil air wudhu karena pak haji Faruk akan segera melakukan ruqiah, supaya aura negatif yang kau bawa dari alam gaib bisa sedikit berkurang". Jawab mbah Karto dengan suara beratnya.


Setelah itu Lala mengambil air wudhu dan memakai mukena nya, sementara pak haji Faruk didampingi pak Jarwo sudah duduk dengan melipat kedua kaki nya seraya membaca ayat-ayat suci.


Dan disaat keduanya melantunkan ayat kursi, nampak tubuh Lala bergetar hebat dengan kedua mata yang membulat sempurna.


Ternyata jiwa Lala sudah menyatu dengan jiwa suami gaibnya, karena itulah tubuh Lala bereaksi seperti makhluk gaib yang sedang murka.


"Jangan ganggu aku, biarkan Lala kembali padaku jika kalian nekat memisahkanku dengan Lala, akan ku celakai semua manusia di desa ini". Pekik Lala yang bersuara berat.


"Astagfirullahaladzim". Seru semua orang di rumah itu.


Lalu mbah Karto menerawang dengan kekuatan batin nya, ternyata saat Lala tidak sadarkan diri karena mendengar lantunan ayat-ayat suci itu, suami gaibnya datang memasuki raga Lala, karena buto itu merasa ada yang sedang mengancam jiwa Lala, karena itulah buto ireng itu datang memasuki raga Lala dan murka, karena mereka yang ada disana berniat memisahkan Lala darinya.


"Pergilah kau makhluk jahat, jika kau berani bersemayam di raga manusia ini, maka aku akan memusnahkanmu menggunakan ayat-ayat suci Alloh". Seru pak haji Faruk dengan memegang tasbih di tangan kanan nya.


Nampak buto itu semakin berontak dan hendak membawa tubuh Lala pergi dari sana, kemudian mbah Karto ikut memegang tubuh Lala yang berubah sangat kuat tenaganya.


Tapi pak haji Faruk tidak menyerah begitu saja, beliau melingkarkan tasbih yang dibawanya ke leher Lala, seraya membacakan ayat-ayat suci Alloh yang membuat tubuh Lala mengeluarkan keringat dingin dan memuntahkan cairan berwarna hitam pekat.


*


*


...Bersambung....