DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Detik-detik terakhir!!!


Setelah sampai di depan pintu kamar, nampak pak Jarwo menghentikan langkah kaki nya, karena dia dapat mendengar percakapan antara simbah Parti dan mbah Karto.


"Kang aku titip anak dan cucuku, anggaplah mereka seperti keluargamu srndiri, aku dapat merasakan jika malaikat maur semakin sering mendatangiku, mungkin waktuku tidak akan lama lagi di dunia ini, biarkan saja aku pergi dengan bahagia tanpa merasa ada beban yang ku bawa." ucap simbah Parti di atas ranjang.


"Baiklah jika itu permintaanmu, tapi kau tau sendiri jika cucu mu Rania dapat melihat sesuatu yang tak kasat mata, aku hanya cemas dia bisa melihat bayangan hitam yang sering menghampirimu akhir-akhir ini, dan tentang keluargamu mereka sudah seperti anak cucuku sendiri, jadi kau tidak perlu mencemaskan mereka, karena aku akan selalu ada untuk membantu mereka. " tukas mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Kemudian pak Jarwo mengintip ke dalam kamar simbah Parti, nampak di dalam sana terlihat sesosok bayangan hitam yang mengawasi simbah Parti.


Astagfirullohaladzim bayangan itu kan, bayangan... Batin pak Jarwo tidak melanjutkan apa yang dipikirkan nya.


Kemudian pak Jarwo berjalan ke ruang tengah menemui semua orang, terlihat semua keluarga tengah menangis meratapi apa yang akan terjadi dengan simbah Parti.


"Kalian tidak usah cemas seperti itu, aku tau apa yang sedang kalian pikirkan, kita harus banyak berdoa pada Alloh supaya simbah Parti selalu dalam lindungan Nya." tukas pak Jarwo berusaha menenangkan hati semua orang.


"Benarkah simbah akan baik-baik saja pak?." tanya Rania yang masih sesegukan.


"Nduk cah ayu kau harus ikhlas apapun yang terjadi, lebih baik kita berdoa saja supaya semua baik-baik saja." jawab pak Jarwo dengan menundukan kepalanya.


Dan tidak lama setelah itu, mbah Karto datang menemui semua orang, beliau mengatakan pada semua keluarga, jika mereka harus membuat simbah Parti tidak merasa sedih.


"Aku tau kalian semua sudah menebak apa yang akan terjadi, karena itu lah aku meminta pada kalian semua, supaya tidak menunjukan kesedihan di depan nya, karena itu akan membuat nya semakin tertekan, ikhlaskan saja semuanya mungkin itu yang di inginkan nya." jelas mbah Karto dengan mata yang berkaca-kaca.


Lalu terdengar suara mesin mobil yang memasuki halaman rumah, nampak nya Dedy sudah pulang dengan membawa obat-obatan untuk simbah.


"Assalamuallaikum." seru Dedy seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsallam." sahut semua orang di dalam rumah.


Nampak Rania berlari menghambur ke pelukan papa nya, dia terisak tanpa kata dengan wajah yang pucat.


"Kau kenapa sayang wajahmu pucat sekali." tukas Dedy seraya mendongakan wajah Rania ke atas.


"Tidak ada apa-apa pa, mana obat untuk simbah biar Rania saja yang memberikan nya." ucap Rania.


Lalu Dedy memberikan beberapa obat pada Rania, nampak Rania bergegas berjalan ke kamar simbahnya, terlihat simbah Parti masih terjaga di atas tempat tidur nya.


"Simbah harus minum obat dulu, untuk mengurangi rasa sakit yang simbah rasakan." cetus Rania seraya menyiapkan beberapa butir obat yang akan simbah minum.


"Obat apa ini nduk, aku tidak merasakan sakit kenapa harus minum obat." ucap simbah Parti seraya duduk disamping Rania.


"Simbah minum saja ya, kali ini Rania mohon pada simbah supaya meminum obat-obatan yang dokter resepkan." jelas Rania seraya mengecup punggung tangan simbahnya.


Setelah itu simbah Parti menuruti ucapan Rania, dan segera meminum obat-obatan itu, terlihat Rania mengkerutkan kening nya dan memandang ke segala arah.


Untung saja bayangan hitam itu tidak ada disini, batin Rania didalam hati nya.


Nampak semua keluarga datang mendatangi simbah di kamar nya, mereka semua sangat lega karena simbah mau meminum obatnya.


"Simbah istirahat lagi ya, kami semua akan menunggu di ruang tengah." tukas bude Walimah dengan menundukan kepalanya.


"Untuk apa kalian menjagaku, memangnya ada apa denganku, wanita tua ini baik-baik saja apalagi setelah meminum obat yang cucu ku berikan." jelas simbah Parti dengan menyunggingkan senyumnya.


"Baiklah jika memang simbah baik-baik saja malam ini Rania ingin tidur disamping simbah." cetus Rania seraya memeluk simbah Parti.


Nampak Wati mengerucutkan bibirnya, seraya berjalan mendekati simbahnya, dan dia berkata jika dia ingin tidur disamping simbahnya juga.


"Ya sudah kalian berdua temani simbah malam ini, kami semua akan bergantian untuk melihat kondisi simbah." tegas Anggi dengan tersenyum simpul.


Lalu semua orang kembali ke kamar nya masing-masing, sementara Rania dan Wati berbaring disamping simbahnya, nampak Rania gelisah tidak dapat memejamkan kedua matanya.


Aku tidak boleh tertidur, aku harus menjaga simbah dari bayangan hitam itu, batin Rania didalam hatinya.


Sedangkan di ruang tengah sana, terdengar suara mbah Karto yang sedang berbicara dengan pak Jarwo dan juga papa Rania, mereka terdengar membicarakan kondisi simbah saat ini, Rania yang mendengar percakapan ketiganya akhirnya terlelap di dalam tidur nya.


Waktu berjalan tanpa terasa tepat jam dua tengah malam, datanglah sekelebatan bayangan hitam yang mendatangi simbah, lalu tiba-tiba nafas simbah Parti berubah tidak beraturan, detak jantung simbah melemah dengan nafas yang tersengak-sengal.


Rania yang tidur disamping simbah akhirnya terbangun dari tidurnya, dia nampak panik melihat kondisi simbahnya yang tersiksa seperti itu, sedangkan bayangan hitam itu sedang berada di atas langit-langit kamar dan memandang ke raga simbah yang sedang kesakitan.


"Wati bangunlah panggilkan semua orang cepatlah." pekik Rania yang menggoncang-goncangkan tubuh Wati.


Lalu Wati membuka kedua matanya dan terkejut melihat Rania sudah berderai air mata, dia bangkit dari tidurnya dan membulatkan kedua matanya melihat simbahnya sedang berjuang antara hidup dan mati.


Dengan cepat Wati melompat dari tempat tidur, dia berlari membangunkan semua orang yang ada di ruang tengah, nampak mbah Karto terkejut dan segera berlari ke kamar simbah Parti.


Akhirnya mbah Karto memeriksa denyut nadi simbah, dan terdiam dengan wajah yang sendu.


"Nduk bangunkan ibu dan bulekmu, minta mereka untuk membacakan doa, dan mempersiapkan diri apapun yang terjadi." ucap mbah Karto dengan mata berkaca-kaca.


Terlihat semua orang hanya bisa menundukan kepalanya tanpa kata, sementara Rania hanya bisa berderai air mata seraya memeluk simbahnya.


"Sudah nduk jangan menangis lagi, sekarang waktu yang tepat untukmu mengucapkan salam perpisahan, dan membimbing simbah untuk mengucapkan syahadat, bisikanlah ditelinga simbahmu, semoga dia masih bisa mendengar ucapanmu." tukas mbah Karto dengan suara yang bergetar.


Lalu semua orang mulai membacakan ayat-ayat suci dibimbing oleh pak Jarwo yang berada di dekat simbah, semua keluarga membacakan doa dengan meneteskan air mata kesedihan.


Sedangkan Rania yang berada disamping simbahnya masih berusaha membisikan syahadat ditelinga simbah Parti, nampak simbah mulai merespon bisikan Rania, beliau berusaha membuka mulutnya dan mengucapkan kalimat syahadat.


"Pelan-pelan saja nggih mbah, jangan buru-buru insyaAlloh simbah bisa mengucapkan nya." ujar pak Jarwo berusaha berbicara dengan simbah Parti.


"A**yshadu Alla ilaha illallah wa ayshadu Anna Muhammadarrasulullah." ucap Rania ditelinga simbah.


Terdengar ucapan simbah Parti lirih mengikuti perkataan Rania, tapi lidah simbah terasa kelu untuk melanjutkan kalimat syahadat tersebut, tapi Rania dengan penuh kasih sayang membimbing simbahnya untuk terus mengucapkan kalimat syahadat itu.


*


*


...Bersambung....