
"Santi apa yang almarhumah Icha lakukan, sehingga kau menilainya telah menghianatimu?." tanya Wati dengan mengaitkan kedua alia matanya.
"Kau tidak akan mengerti Wati, pasti kau juga akan menyalahkanku nanti nya." jawab Santi mendengus kesal.
"Kau belum mengatakan apa-apa padaku, bagaimana aku bisa mengerti San." seru Wati.
"Bukankah kalian pernah mendengarkan curhatku, jika aku menyukai seorang lelaki tampan di kampus ini, lelaki itu adalah Wisnu Wat, dan Icha dengan sengaja menjalin hubungan dengan nya, meski dia tau jika aku sering memberi perhatian pada Wisnu, tapi Icha tidak pernah memperdulikan perasaanku huhuhu." terang Santi berderai air mata.
"Astagfirullohaladzim San, jadi lelaki yang kau maksud itu adalah Wisnu, bagaimana Icha bisa tau San, karena sebelum dia berpacaran dengan Wisnu, kita semua memang berteman baik dengan Wisnu kan, dan perhatian lebih yang kau berikan pada Wisnu, kami semua juga memberikan nya, sebagai bentuk persahabatan kita semua, karena itu lah almarhum Icha dan aku pun, tidak menyadari jika kau memiliki perasaan yang lebih untuk Wisnu, lagipula kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya, pasti Icha pun akan mengerti, dan dia akan merelakan Wisnu untukmu, kenapa kau harus berdebat dengan nya San, kenapa kau harus melakukan semua itu." pekik Wati dengan menggoncang-goncangkan tubuh Santi.
"Hentikan Wati, kenapa kau menyalahkanku hah, itu semua salah kalian, yang tidak pernah memperhatikan sikapku yang berbeda pada Wisnu, dan sudah ku bilangkan kau pasti menyalahkanku." tukas Santi dengan mendorong tubuh Wati.
Braak...
Tubuh Wati terhempas ke lantai dan keningnya terbentur dinding ruangan itu, nampak Wati memegangi keningnya yang terluka dan mengeluarkan darah, tapi tiba-tiba arwah Icha menampakan wujudnya dihadapan Santi, terlihat Santi membulatkan kedua mata nya, tubuh Santi bergetar ketakutan dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya, lalu Santi beranjak pergi dari ruangan itu, dia berlari dengan tertatih seraya memegangi kepalanya yang pusing.
Wuush...
Nampak arwah Icha melesat ke hadapan Santi, dia berdiri mengambang dengan air mata darah, yang menetes dari kedua matanya, tempurung kepalanya yang menganga lebar, membuat isi kepala Icha terlihat jelas.
Aaaargg... Tolooong...
Terdengar teriakan Santi ke seluruh penjuru lorong kampus, tapi mahasiswa yang ada disana tidak melihat apapun, selain melihat Santi yang berlari-lari, dan berteriak ketakutan meminta tolong, sampai akhirnya Santi berlari tanpa melihat apapun di depan nya, dia menabrak Wisnu lelaki yang dicintai nya, nampak Santi mendapatkan kesadaran, jika orang yang ditabraknya adalah Wisnu, lelaki yang menjadi pujaan hati nya.
"Wisnu to tolong aku, arwah Icha mengejarku Wis huhuhu." seru Santi seraya memeluk Wisnu.
"Apa maksudmu San, tidak ada arwah Icha disini, itu hanya halusinasimu saja, pasti semua ini karena pengaruh kejadian di aula tadi, kau kerasukan hantu San, dan hantu itu menyebut jika kau telah membunuhnya, tapi aku belum tau pasti, Santi yang disebutnya adalah kau atau bukan." tukas Wisnu dengan menepuk pundak Santi.
"Aku aku tidak mungkin membunuh seseorang Wis, kau mengenalku dengan baik kan, apa menurutmu aku tega membunuh seseorang." ujar Santi dengan menelan ludahnya kasar.
"Aku tidak mengatakan jika kau pembunuhnya San, aku hanya memberitaumu jika kau menyebut nama Santi, ketika kau kerasukan di panggung aula tadi, mungkinkah hantu yang merasukimu dibunuh oleh orang yang bernama Santi, dan kebetulan kau yang kerasukan San." ucap Wisnu dengan mengkerutkan keningnya.
Nampak dari kejauhan arwah Icha bersembunyi, dia tidak mau menampakan wujud menyeramkan nya di depan Wisnu, arwah Icha melesat pergi dengan tangisan pilu, karena dia mengira jika Wisnu sudah mulai membuka hatinya untuk Santi.
Kenapa kau melupakanku secepat ini Wisnu huhuhu, gumam arwah Icha dengan tangisan darah yang membasahi wajahnya.
Sementara di ruang kesehatan nampak Wati tidak sadarkan diri, karena kening nya yang terbentur dinding ruangan itu, dan arwah Icha pun tersadar dengan keadaan sahabatnya Wati, lalu arwah Icha melesat pergi mencari keberadaan Rania, supaya dia bisa memberi pertolongan pada sepupunya itu.
Arwah Icha melesat menghampiri Rania, dia membisikan ditelinga Rania jika sepupunya Wati, sedang tidak sadarkan diri di ruang kesehatan.
Terlihat Lala ikut berlari dibelakang Rania, sesampainya di ruang kesehatan Rania bersama Lala segera menolong Wati, mereka bersamaan membopong Wati ke atas brangkar, supaya mereka bisa mengobati luka dikening Wati.
Setelah Rania mengobati luka dikening Wati, gadis itupun tersadar dan membuka kedua matanya, Wati hanya mengatakan nama Santi berulang kali.
"Tenangkan dirimu dulu Wat, Rania pasti akan membantu menyelesaikan masalah ini, tapi kau harus beristirahat dulu, dan katakan perlahan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi padamu." ucap Lala dengan wajah cemas.
"Santi memang melakukan nya huhuhu, dia berdebat dengan Icha dan tidak sengaja mendorongnya, dan aku memintanya untuk mengakui perbuatan nya, tapi dia berubah marah dan mendorongku sampai aku terjatuh ke lantai itu." jelas Wati terisak.
"Jika Santi tidak mau mengakui perbuatan nya, arwah Icha akan terus gentayangan dan menghantuinya Wat, meski dia tidak sengaja mendorong Icha, dia tetap harus mengatakan yang sebenarnya pada polisi, sebelum pihak kepolisian menemukan bukti-bukti, jika Santi terlibat dalam kasus tewasnya Icha, karena Santi bisa terjeram hukuman berlapis, dengan dia terus bungkam seperti itu." cetus Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Setelah itu Rania meminta Lala menemani Wati di ruang kesehatan, karena dia ingin mencari keberadaan Santi, Rania ingin meyakinkan Santi sebelum semua terlambah, dan polisi mengetahui jika dia terlibat didalam kasus tewasnya Icha.
Nampak Rania berjalan ke semua tempat, dia memandang ke segala arah supaya dia lebih mudah menemukan Santi, dan Rania tidak sengaja bertabrakan dengan Aldo, Aldo adalah senior Rania di kampus itu, karena mereka berasal dari desa yang sama, mereka sudah saling mengenal dan akrab.
"Maaf Aldo aku tidak sengaja menabrakmu." ucap Rania dengan memandang ke segala arah.
"Tidak apa-apa Rania, memangnya apa yang sedang kau cari, kau sepertinya terburu-buru sekali?." tanya Aldo dengan mengkerutkan keningnya.
"Ehm Aldo apakah kau mengenal Susi Susanti anak fakultas ekonomi yang satu angkatan dengan Wati." jawab Rania dengan pertanyaan.
"Maksudmu gadis yang selalu bersama Wati, dan juga almarhum teman nya yang meninggal bunuh diri itu ya Ran." seru Aldo dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ehm iya Do Santi yang itu, apakah kau melihatnya baru-baru ini." tukas Rania.
"Sepertinya dia bersama Wisnu di kantin, nampaknya gadis itu sedang bersedih, dan Wisnu sedang menenangkan nya Ran." jelas Aldo.
Apakah arwah Icha menakuti Santi ya, kenapa sekarang dia malah bersama Wisnu, batin Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Setelah itu Rania berpamitan dengan Aldo, nampak Rania berlari terburu-buru ke kantin kampus nya, Aldo yang merasa penasaran dan ingin tau, mengikuti Rania dari belakang, bagaimanapun Aldo memiliki perasaan pada Rania, dan dia ingin membantu Rania yang nampak sedang kesusahan itu.
*
*
...Berikan boom like sebanyak mungkin dan tinggalkan komentar disetiap bab nya, bagi yang beruntung berada di daftar list teratas dengan dukungan terbanyak, selama dua minggu kedepan akan mendapatkan hadiah kecil dari Author, terima kasih 🙏...
...Bersambung....