
Kemudian pak Jarwo berjalan perlahan masuk ke dalam Lala, aroma gaib semakin terasa didalam nya, nampak pak Jarwo menghentikan langkah kaki nya menghadap pojokan kamar Lala.
"Astagfirullahaladzim". Ucap pak Jarwo tercekat.
Mau apa makhluk ini di dalam kamar Lala, jangan-jangan benar dugaanbah Darmi dan juga simbah Parti kalau Lala sakit karena ulah makhluk gaib itu, gumam pak Jarwo pada dirinya sendiri.
Plaaak...
Nampak Kasmi menepuk pundak pak Jarwo dari belakang, membuyarkan pikiran pak Jarwo tentang makhluk gaib itu.
"Kau ini mengagetkanku saja dek". Seru pak Jarwo menghembuskan nafasnya panjang.
"Lagian mas Jarwo ngomong sendiri, bikin aku takut saja". Sahut Kasmi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Sedangkan pak Jarwo yang membalikan badan nya untuk melihat sosok buto ireng itu nampak kaget, karena makhluk menyeramkan itu sudah tidak ada di dalam kamar Lala.
"Sejak kapan Lala jadi seperti ini dek?'. Tanya pak Jarwo pada istrinya.
"Sudah tiga hari ini mas, dan kami sudah meminta tolong pada mas Bima anaknya orang pinter juga yang tinggal di desa ini, kemarin dia memperlihatkan jika Lala sudah dinodai oleh sesosok makhluk tinggi besar mas hu hu hu". Ucap Kasmi berderai air mata seraya memeluk Lala yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
"Apa kau jangan asal bicara dek, jangan langsung percaya dengan orang yang baru saja kita kenal". Pekik pak Jarwo dengan membulatkan kedua matanya.
"Bagaimana aku tidak langsung percaya mas, aku dan kedua orang tuaku melihat gambaran itu dari air bunga yang sudah dibacakan mantra oleh mas Bima". Seru Kasmi terisak.
"Ya sudah dek tenangkanlah dirimu, setelah itu siapkan semua yang ku perlukan untuk ritualku biar aku yang akan mencari tau, ada apa sebenarnya dibalik semua ini". Tukas pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Setelah itu Kasmi pergi ke sebuah kamar kosong yang akan dia siapkan sebagai ruangan khusus bagi suami ya yang akan melakukan ritual, karena Kasmi tau betul jika suaminya sedang melakukan ritual atau pengobatan, suaminya memerlukan ruangan tersendiri supaya dia lebih fokus dan leluasa melakukan ritualnya.
Sedangkan pak Jarwo yang masih berada di kamar Lala berusaha menerawang lagi lewat mata batin nya, lalu pak Jarwo memegang kening Lala dan berusaha menembus ke kejadian beberapa hari lalu, tapi mata batin pak Jarwo seperti tertutup oleh kekuatan lain, yang terlihat olehnya hanya sesosok makhluk tinggi besar sedang merenggut paksa kehormatan Lala.
Kenapa aku tidak bisa melihat lebih jauh lagi, siapa sebenarnya makhluk gaib itu, kenapa dia bisa memilih Lala sebagai korban nya, aku tau pasti ada orang lain dibalik buto ireng itu, batin pak Jarwo didalam hatinya.
"Kangmas aku sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan". Seru Kasmi membuyarkan penglihatan pak Jarwo.
Kasihan sekali kau nduk, aku akan berusaha menyembuhkanmu dan menjauhkanmu dari buto ireng itu, gumam pak Jarwo pada dirinya sendiri seraya mengusap lembut rambut Lala.
Setelah itu pak Jarwo menemui Kasmi yang berada di dapur karena pak Jarwo ingin membuatkan ramuan obat untuk ibu mertua nya.
"Dek apakah di dekat sini ada akar daun anting-anting?". Tanya pak Jarwo pada istrinya Kasmi.
"Buat apa to mas kok aneh-aneh saja yang kau cari". Jawab Kasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Aku membutuhkan itu untuk membuat ramuan obat dek". Tukas pak Jarwo dengan mengkerutkan kening nya.
"Coba cari di sekitar rumah mas, aku tidak bisa membantumu dulu karena masakanku belum matang". Sahut Kasmi yang masih sibuk didepan kompor.
Kemudian pak Jarwo melangkahkan kaki nya keluar dari rumah mbah Sumi, nampak dia berjalan menyusuri jalanan setapak di desa Randu garut untuk mencari akar tumbuhan yang dia perlukan untuk membuat ramuan obat, tanpa terasa pak Jarwo berjalan memasuki kawasan hutan di desa itu dan samar-samar dari kejauhan pak Jarwo menghentikan langkahnya karena dia melihat seseorang yang tidak asing di mata nya.
Bukankah itu Ari, kenapa dia ada di hutan ini, apa yang dia lakukan disini, batin pak Jarwo didalam hatinya bertanya-tanya.
Terlihat Ari sedang berjalan keluar dari kawasan hutan itu dengan seorang laki-laki yang tidak pak Jarwo kenal, lalu pak Jarwo yang penasaran dengan kehadiran Ari disana berusaha mendekati mereka, tapi pak Jarwo menghentikan langkah kaki nya karena dia sudah menemukan akar tumbuhan yang sedang dicarinya sedari tadi.
Sedangkan Ari yang sedang berjalan bersama pak Sukir mengucapkan terima kasih seraya memberikan sedikit uang lelah karena telah mengantarnya menemui Bima.
"Terima kasih ya pak sudah mengantarku, ini ada sedikit uang lelah buat beli rokok". Tukas Ari seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada pak Sukir.
"Sudah mas tidak usah, saya ikhlas kok, ngomong-ngomong mas ini darimana kok bisa sampai ke desa ini?". Tanya pak Sukir penasaran.
"Wah terima kasih sekali lagi ya pak, saya dari desa Rawa belatung pak tadinya kesini mau bantu adek yang sedang ada pekerjaan di tempat orang hajatan, tapi saya stres memikirkan masalah pribadi". Jawab Ari dengan memijat pangkal hidung nya.
"Ya sudah mas, sampai sini saja saya pamit pulang dulu mau jemput anak sekolah". Tukas pak Sukir seraya berjalan kembali ke rumahnya.
Setelah itu Ari duduk termenung di bawah sebuah pohon yang besar, nampak dia melamun dan meratapi nasibnya yang selalu saja kehilangan orang yang dicintainya.
Aku akan merebut Sukma kembali, tidak perduli bagaimanapun caranya, seru Ari pada dirinya sendiri.
Sedangkan pak Jarwo yang sedang berada di dalam hutan tidak sengaja menemukan jalan ke pondokan mbah Wongso, nampak pak Jarwo memperhatikan pondokan itu dari luar.
Sepertinya ada yang tinggal di pondokan ini, mungkin lebih baik aku menyapa orang yang tinggal disini, batin pak Jarwo didalam hatinya.
Semakin dekat langkah kaki pak Jarwo ke pondokan itu aroma mistis semakin tercium olehnya, lalu pak Jarwo mendongakan kepalanya ke atas dan memandang ke segala arah.
Di dekat sini aku dapat mencium bau amis darah seperti yang tercium di kamar Lala, jangan-jangan kejadian itu terjadi di dekat sini, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan kening nya.
Dan disaat pak Jarwo berusaha menerawang melalui mata batin nya tiba-tiba ada seorang pemuda yang menepuk pundaknya dari belakang.
Plaaak...
Lalu pak Jarwo membalikan badan nya dan melihat ada seorang laki-laki muda yang sedang berdiri di belakang nya.
"Permisi pak ada yang bisa saya bantu?". Tanya Bima menyeringai didepan pak Jarwo.
"Ehm tidak ada mas, saya hanya sedang mencari akar tumbuhan anting-anting". Jawab pak Jarwo menutupi maksud tujuan nya yang sebenarnya.
Sepertinya laki-laki ini bukanlah orang biasa, terlihat aura terang didalam dirinya, batin Bima dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Perkenalkan pak saya Bima, anaknya mbah Wongso yang tinggal di pondokan itu". Jelas Bima dengan mengarahkan jari telunjuknya ke pondokan yang ada di belakang nya.
"Oh jadi ini mas Bima yang sudah menolong adik ipar saya Lala, perkenalkan saya Jarwo suaminya Kasmi mbakyu nya Lala". Ucap pak Jarwo seraya berjabat tangan dengan Bima.
Terlihat pak Jarwo berterima kasih pada Bima, sedangkan Bima hanya menyunggingkan bibirnya, nampak raut wajah Bima berubah cemas, dia hawatir karena kehadiran pak Jarwo di desa itu sehingga Bima berusaha menutupi jati dirinya yang sebenarnya.
*
*
...Yuk panjangkan list Vote dan hadiahnya supaya aku semangat buat nulis double up setiap hari nya, yang berkenan memberi dukungan padaku terima kasih banyak ya teman-teman, aku sayang kalian semua readers 💞🙏...
...Bersambung. ...