
Terlihat wajah ketakutan dari kedua tukang gali kubur itu, namun pak haji Faruk menenangkan mereka berdua dan memintanya kembali kebawah liang lahat untuk membantu warga menguburkan jenazah Rara.
Setelah jenazah Rara dimasukan kedalam liang lahat proses pemakaman dilangsungkan dengan cepat, mengingat kondisi jenazah yang sudah rusak.
Pak haji Faruk sudah selesai membacakan lantunan ayat suci para pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman tapi ketika beberapa warga akan membawa keranda mayat itu pulang, keempat warga yang mencoba mengangkat keranda nya merasa tidak kuat.
"Duh pak haji kok rasanya keranda ini berat sekali ya, kami tidak kuat mengangkatnya". Seru pak Budi dengan mengusap peluh di kening nya.
"Benar pak haji keranda ini kosong tapi seperti ada isi nya". Sahut pak Eko dengan wajah yang keheranan.
Kemudian pak haji Faruk mendekati keranda mayat itu dan membacakan ayat suci setelah beberapa saat akhir nya keranda itu bisa di angkat dengan mudah oleh mereka.
"Alhamdulillah". Seru mereka berempat secara serempak.
Sementara itu kedua orang tua Rara masih berada didepan nisan anak perempuan mereka, nampak ibu Rara begitu terpukul dengan kepergian anaknya yang mendadak itu.
Dia menangis meraung meratapi kepergian anaknya sampai akhirnya perempuan tua itu tidak sadarkan diri didepan nisan anak perempuan nya.
Beberapa warga membantu membopong ibu Rara ke tempat yang teduh, terlihat ayah Rara menyadarkan istri nya.
"Bu bangunlah kita harus ikhlas dengan kepergian anak kita, kasihan Rara jika kita terus menangisinya seperti ini". Ucap ayah Rara dengan mata berkaca kaca.
"Anak kita pak hu hu hu, aku tidak terima jika dia meninggal dengan cara tidak wajar seperti ini". Cetus ibu Rara berlinang air mata.
"Sudah bu jangan kau tangisi lagi anakmu, ayo kita pulang saja ke rumah menantumu kasihan dia pasti sangat terguncang setelah kepergian ibu dan istri nya yang berjarak hitungan hari saja". Tukas ayah Rara memapah istri nya berjalan.
Pak haji Faruk bersama kedua orang tua Rara kembali ke rumah Ari nampak disana masih banyak keluarga yang melayat, tapi Ari masih saja seperti orang linglung dia hanya berdiam diri di kamar nya menatap sedih tempat tidur yang sebelumnya menjadi tempat terakhir istri nya menghembuskan nafas
Tiba tiba Ari berteriak seperti orang tidak waras, dia meronta ronta sebentar menangis sebentar tertawa semua orang panik melihat kondisi Ari yang sangat terguncang itu.
Anto adiknya berinisiatif untuk mengikat kakak laki laki nya itu supaya tidak mengamuk dan mengganggu orang yang masih melayat di rumah nya.
"Pak haji bagaimana ini mas Ari malah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya". Ucap Anto dengan wajah cemas.
"Kau tenang saja dulu To, mungkin mas mu itu hanya sedang sedih berlebihan saja, biarkan dia sendirian dulu menenangkan hati nya, pindahkan saja kamar nya supaya dia tidak terlalu mengingat kematian istri nya". Cetus pak haji Faruk yang masih memainkan tasbih nya.
*
*
Sementara bu Ani yang berada di rumah nya tertawa bahagia melihat kematian Rara dan mendengar jika Ari menjadi tidak waras karena ditinggal mati istri nya.
"Pak dendam kita sudah terbayarkan secepatnya aku akan membawamu ke mbah Sapto supaya dia bisa menyembuhkan kedua matamu ini". Terang bu Ani dengan senyum kecil di wajah nya.
"Kau benar bu hanya sekali tepuk dua lalat terjebak bersamaan, cepatlah kau ke rumah mereka dan pergi melayat supaya tidak ada warga yang curiga padamu". Seru pak Slamet memerintah istri nya.
"Tapi pak kenapa aku harus pergi kesana?". Tanya bu Ani dengan mengernyitkan dahi nya.
"Kau harus berpura pura berduka atas kematian Rara supaya tidak ada orang yang mencurigai perbuatanmu bu". Jawab pak Slamet menepuk punggung tangan istri nya.
"Baiklah pak apa kau mau ikut bersamaku juga". Ujar bu Ani menatap mata buta suami nya.
Setelah itu bu Ani melangkahkan kaki nya menuju rumah Ari yang masih banyak orang melayat disana, beberapa warga menatap pada bu Ani yang berjalan memasuki rumah duka itu.
"Kok bu Ani mau datang melayat ya". Ucap bu Siti pada bude Walimah yang membantu membersihkan rumah Ari.
"Entahlah bu mungkin bu Ani sudah tidak marah lagi pada Rara setelah mengetahui dia tiada". Ujar bude Walimah yang sedang melipat karpet.
Terlihat bu Ani sedang mengucapkan bela sungkawa pada kedua orang tua Rara, dia berbasa basi menanyakan keadaam Ari dan pura pura meneteskan air mata buaya nya.
"Semoga ibu sabar ya yang tabah dengan cobaan yang Tuhan berikan". Cetus bu Ani dengan air mata palsu nya.
"Terima kasih bu sudah mau datang kesini". Ucap ibu Rara dengan suara sendu nya.
Kemudian bu Ani juga mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Ari yang lain nya, dan berpamitan pulang karena suami nya tidak bisa melihat apapun dirumah sendirian.
Tidak ada kecurigaan dari keluarga besar Ari atau pun kedua orang tua Rara, namun tanpa mereka sadari bu Ani lah yang menjadi penyebab kematian Rara malam itu.
Wuuusshh...
Petter mengikuti langkah bu Ani kembali ke rumah nya, dia tertawa bahagia begitu sampai didalam rumah nya, dia berkata pada pak Slamet jika dia puas melihat kesedihan keluarga mereka.
Akhirnya Petter benar benar tau jika bu Ani lah yang mengirimkan santet pada keluarga bu Jamilah, dia bergegas kembali ke rumah Rania dan memberitahu simbah nya.
Tapi simbah berkata jika dia harus menunggu kepulangan mbah Karto untuk menghentikan perbuatan jahat bu Ani, karena mbah Karto baru saja pergi kemarin siang simbah Rania tidak tau kapan mbah Karto akan kembali.
Cekleek...
Terlihat bude Walimah kembali ke rumah dan mendengar simbah Parti berbicara sendiri.
"Simbah sedang berbicara sama siapa to, kok aku jadi takut melihatnya". Seru bude Walimah menatap wajah simbah yang terkejut dengan kedatangan nya.
"Tidak ada nduk aku hanya bicara sendiri saja, bagaimana kondisi Ari apakah sudah membaik?". Tanya simbah dengan mengernyitkan dahi nya.
"Oalah mbah kasihan si Ari itu sepertinya dia sangat terguncang hatinya, dia semakin menjadi seperti orang yang tidak waras bahkan sekarang Anto mengikat nya didalam kamar". Jelas bude Walimah seraya berjalan ke arah dapur.
Nampak guratan cemas di wajah simbah mendengar ucapan bude Walimah, simbah takut jika bu Ani melakukan niat jahat nya pada Ari yang sudah tidak berdaya itu.
Tapi dia juga tidak dapat menghentikan perbuatan bu Ani begitu saja karena simbah tidak punya bukti untuk mengatakan jika bu Ani adalah dalang dari kematian bu Jamilah dan juga Rara menantu nya.
Lalu simbah meminta bude Walimah untuk mencoba menghubungi ponsel mbah Karto, siapa tau ponselnya bisa tersambung, tapi setelah bude Walimah mencoba menghubungi ponsel mbah Karto terdengar ucapan operator selular jika nomer ponsel mbah Karto sedang tidak ada jaringan.
Terlihat wajah simbah Parti semakin panik menantikan kepulangan mbah Karto dari puncak gunung Kerinci, untuk menghentikan makhluk yang di utus untuk mencelakai keluarga bu Jamilah.
*
*
...Bersambung....