
Setelah Rania dan Wati selesai dengan urusan pendaftaran sekolah mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah, tapi ketika mereka melewati sebuah hutan yang lebat mereka melihat sepasang suami istri sedang melakukan ritual di bawah pohon besar.
"Apa yang mereka lakukan Rania sore sore begini kok sudah menaruh sesajen disana". Ucap Wati yang menghentikan laju sepeda motor nya.
"Entahlah Wat, aku juga heran". Ujar Rania dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Sudahlah kita pulang saja yuk, sudah sore nanti kita kemalaman di jalan". Seru Wati yang hendak mengendarai sepeda motor nya kembali.
"Tunggu Wati". Terang Rania dengan mata membulat menatap ke arah sepasang suami istri yang sedang melakukan ritual itu.
Ternyata Rania melihat sesosok makhluk gaib yang keluar dari dalam pohon besar itu, dia nampak sedang berkomunikasi dengan bapak bapak yang sedang duduk bersila didepan pohon besar.
Rania tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, tapi dia mengerti jika bapak itu sedang meminta sesuatu pada makhluk gaib itu, tiba tiba Wati menepuk tangan Rania yang sedang terlihat fokus melihat sesuatu.
"Rania ayo kita pulang kenapa kau malah turun dari atas motor". Ujar Wati dengan berkacak pinggang.
"Wati apa kau mengenal siapa bapak dan ibu itu?". Tanya Rania dengan mengernyitkan dahi nya.
"Oalah kau masih memperhatikan mereka to, tapi aku tidak mengenal mereka Rania". Jawab Wati dengan menggandeng tangan Rania kembali ke motor nya.
Kemudian mereka mengendarai motornya kembali ke rumah, disana sudah ada Petter yang menanti kedatangan Rania.
Wuuush...
Petter melesat menghampiri Rania dan menceritakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Kau serius Pet". Seru Rania dengan membukatkan kedua mata nya.
"Aku serius Rania tadi aku melihatnya di hutan lebat sebelum memasuki desa ini". Tungkas Petter dengan wajah yang sangat tegang.
...🍃 Flashback on 🍃...
Setelah Rania meminta Petter kembali ke rumahnya, Petter terbang melesat melewati hutan lebat yang wingit itu tiba tiba dia melihat sesosok hantu perempuan dengan punggung yang berlubang sedang berada di salah satu pohon besar yang ada disana.
Petter melihat ada sepasang suami istri yang sedang berbicara dengan hantu perempuan itu, mereka menyebut nyebut akan membalaskan dendam atas kematian hantu perempuan dengan punggung berlubang yang sedang memandang keduanya dengan tatapan nanar.
Bapak tua itu berkata jika orang yang membuatnya tiada harus tiada juga sama sepertinya, sedangkan sund.l bo.ong itu hanya tertawa dengan suara yang menyeramkan, meski Petter juga hantu tapi dia sangat takut melihat wujud hantu yang lebih menyeramkan dari dirinya.
...🍃 Flashback off 🍃...
"Sepertinya apa yang kau lihat ada hubunganya dengan yang ku lihat bersama Wati tadi". Seru Rania dengan wajah cemas nya.
"Apa ada yang meninggal tidak wajar di desa ini?". Tanya Petter dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Tentu saja ada bukankah tempo hari ada dua warga yang meninggal hanya dengan jarak hitungan jam saja". Jawab Rania dengan memegangi kening nya.
"Jangan jangan itu adalah hantu perempuan yang meninggal di desa ini". Tukas Petter dengan wajah serius.
Tiba tiba simbah Rania datang mengagetkan kedua nya yang sedang berbicara serius itu.
"Ada apa nduk kenapa kalian terkejut dengan kedatanganku?". Tanya simbah Parti dengan memakan sirih nya.
"Kami melihat kejadian aneh mbah". Jawab Rania seraya duduk disamping simbahnya.
Setelah itu Rania menceritakan semua yang dia dan Petter lihat di hutan angker sebelum memasuki kawasan desa itu, terlihat wajah cemas simbah Parti setelah mendengar cerita cucu perempuan nya itu.
Terlihat bu Ani sedang duduk di ruang tamu nya seorang diri dengan memandangi bingkai foto almarhum suami nya, dia menangis terisak merindukan suaminya yang telah tiada.
Sementara diluar sana angin berhembus kencang dan hujan tiba tiba datang membuat petir menggelegar, tidak ada warga yang berani keluar dari dalam rumah nya karena badai akan segera datang.
Sedangkan bu Ani yang seorang diri di rumah nya karena anak laki laki nya sedang menginap di rumah sepupu nya nampak terkejut karena mendengar suara tawa perempuan di dekat rumah nya.
Lalu hantu sund.l bo.ong itu menembus tembok rumah bu Ani dan menampakan wujud nya yang menyeramkan.
Kedua mata bu Ani terbelalak menatap hantu perempuan dengan punggung berlubang yang mengeluarkan aroma busuk dan anyir darah.
Belatung berjatuhan di lantai ruang tamu nya membuat lidah bu Ani semakin kelu dan tidak dapat mengeluarkan suara dari tenggorokan nya.
Braaakss...
Sund.l bo.ong itu menghempaskan tubuh bu Ani ke segala arah, tubuh nya terpelanting dengan memar di beberapa bagian tubuh nya.
Kedua mata bu Ani menatap tajam wajah setengah busuk sund.l bo.ong itu dan dia mengenali hantu perempuan itu.
"Raraa". Seru bu Ani dengan berderai air mata, nampak wajah ketakutan dan rasa bersalah yang menyeruak didalam dirinya.
Bu Ani berteriak minta tolong tapi tidak ada seorang pun yang mendengar teriakan nya.
Sementara hantu Rara mencekik leher bu Ani sampai membuatnya kesusahan untuk bernafas dan membanting nya keluar dari dalam rumah nya.
Kemudian bu Ani berlari menuju belakang rumah nya karena hantu Rara berada didepan teras.
Wuuussh...
Sund.l bo.ong itu terbang mendahului bu Ani dan mengangkat tubuh nya ke atas membawanya terbang bersama di kegelapan malam, lalu tiba tiba sund.l bo.ong itu melemparkan tubuh bu Ani kedalam sumur tua yang ada di belakang rumah nya.
Kepala bu Ani membentur tembok sumur itu membuat kepala nya berdarah dan pingsan didalam sumur tua itu, setelah dia kehilangan kesadaran nya tubuh nya tenggelam ke dasar sumur.
Terlihat tawa puas dari hantu Rara, dia terbang menghilang di kegelapan malam meninggalkan bu Ani yang terjebak didalam sumur tua itu.
Karena hujan masih lebat kedua hansip yang berada di pos kampling memutuskan untuk tetap berada disana, tapi pak Eko mengatakan jika dia takut lama lama di pos itu karena masih terbanyang wujud sund.l bo.ong yang menakuti nya semalam.
"Kau tenang saja kang semoga malam ini hantu itu tidak datang menakuti kita lagi". Ucap pak Dahlan dengan mata yang memandang ke segala arah.
"Kau sedang melihat apa Lan". Tukas pak Eko menepuk pundak pak Dahlan.
"Tidak ada kang, aku hanya sedikit cemas saja". Ujar pak Dahlan dengan mengernyitkan dahi nya.
"Kau juga merasa ada yang janggal dengan malam ini Lan". Seru pak Eko dengan wajah cemas nya.
"Entahlah kang tiba tiba saja hujan badai seperti ini tentu saja perasaanku menjadi tidak enak". Tukas pak Dahlan dengan memijat pangkal hidung nya.
*
*
...Bersambung....