
Lalu Bambang menceritakan pada Rania penyebab tentang kematian nya, malam itu suasana di warung bakso berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Karena di setiap malam jum'at kliwon pak Rahmat selalu menutup warung bakso nya sebelum jam lima sore hari, entah apa alasan dibalik semua itu, karena hari itu Bambang bekerja seorang diri tanpa teman nya yang biasa membantu, dan pekerjaan Bambang jadi lebih lambat.
Sore itu pak Rahmat datang untuk membantu menutup warung baksonya, dan dia berpesan pada Bambang jika semua pekerjaan nya harus sudah selesai sebelum magrib.
Dan setelah itu tidak ada yang boleh masuk ke dalam gudang apapun yang terjadi, dan setelah memberi pesan larangan pada Bambang justru pak Rahmat sendiri yang masuk ke dalam gudang itu dengan membawa beberapa bungkusan yang entah isinya apa.
Bambang yang masih sibuk merapikan perkakas nampak menata semua ke tempatnya, dan tidak lama setelah itu pak Rahmat keluar dari dalam gudang dengan aroma dupa yang menyegat.
"Mbang sudah selesai belum pekerjaanmu, jika semua sudah selesai kau boleh kembali ke mess dan kunci semua pintu nya, dan ingat jangan buka pintu gudang itu kalau besok aku belum datang membukanya sendiri". Tukas pak Rahmat seraya memberikan beberapa kunci warungnya.
"Iya pak setelah semuanya selesai, saya akan langsung mengunci semua pintunya". Sahut Bambang yang masih sibuk merapikan mangkok-mangkok bakso ke dalam lemari.
Kemudian pak Rahmat berjalan meninggalkan warung baksonya tanpa curiga sama sekali, tanpa terasa saat itu sudah hampir magrib dan Bambang masih berada di dapur itu karena tugasnya merapikan perkakas baru saja selesai.
Glodak glodak glodak...
Terdengar suara gaduh dari dalam gudang yang berada tepat di belakang dapur itu, Bambang yang awalnya mengacuhkan suara gaduh itu bersiap untuk kembali ke mess yang disiapkan pak Rahmat untuk para pegawainya.
Baru beberapa langkah saja Bambang nampak mengkerutkan keningnya, karena mendengar suara gaduh dari dalam sana.
Suara apa to itu berisik sekali, aku jadi penasaran karena pak Rahmat selalu melarang kami masuk ke dalam gudang itu disetiap malam jum'at kliwon, jangan-jangan pak Rahmat menggunakan ilmu hitam untuk dagangan nya, batin Bambang didalam hatinya.
Tapi Bambang tetap mengacuhkan suara gaduh itu dan bersiap untuk menutup semua pintu warung bakso itu, dan setelah semua terkunci Bambang berjalan ke mess nya yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja.
Dan sesampainya di depan pintu rumah mess nya, nampak Bambang merogoh sesuatu di kantong celananya, rupanya Bambang ingin mengambil kunci rumah itu, tapi Bambang melupakan sesuatu jika kunci rumah mess nya tertinggal di atas kulkas warung bakso tadi.
Aduh payah sekali aku sampai lupa mengambil kunci itu, gumam Bambang pada dirinya sendiri.
Setelah itu Bambang kembali ke warung bakso tadi untuk mengambil kunci yang tertinggal di atas kulkas, tanpa curiga Bambang memasuki warung bakso itu dan berjalan ke arah dapur, terdengar di telinga Bambang jika ada suara seseorang di dalam gudang itu.
Siapa yang ada di dalam sana, padahal semua pintu sudah terkunci, kenapa ada suara geraman dari dalam gudang itu, batin Bambang dengan mengkerutkan keningnya.
Lalu Bambang berjalan perlahan dan berusaha membuka pintu gudang yang ternyata masih terkunci, tangan Bambang hendak mendorong pintu gudang itu karena mengira pintu itu tidak terkunci.
Cekleek cekleek...
Pintu itu tidak dapat terbuka karena kuncinya belum terbuka, Bambang yang melupakan pesan pak Rahmat untuk tidak membuka pintu gudang itu nampak mengacuhkan pesan juragan nya, supaya jangan membuka pintu gudang itu apapun yang terjadi, hanya pak Rahmat saja yang boleh membukanya.
Dengan nafas yang berderu kencang Bambang membuka pintu gudang yang masih terkunci itu, dan mendorong paksa pintu nya sampai terbuka lebar.
Kreeaaaak...
Nampak di dalam sana ada sesosok pocong yang sedang menikmati sesajen yang disiapkan pak Rahmat, pocong itu berdiri mengambang dan membalikan tubuhnya menatap ke arah Bambang yang sedang terkejut karena melihat penampakan hantu di dalam gudang itu.
Sedangkan pocong sesembahan pak Rahmat nampak marah dan membulatkan kedua matanya yang sebelahnya keropos dan dimakan belatung, dengan hidung yang sudah tidak berbentuk lagi.
Pocong itu melesat menghampiri Bambang yang masih berdiri mematung, karena otot-otot ditubuhnya kaku dan dia kehilangan kekuatan untuk melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Wuuuush...
Kemudian pocong itu melesat menghampiri Bambang dan menyemburkan ludah ke wajahnya, seketika Bambang merasa kepanasan dan kedua matanya kehilangan fungsi untuk melihat sesuatu.
Bambang berteriak meminta tolong seraya berjalan tak tentu arah karena pandangan matanya sudah tidak berfungsi lagi, dan tanpa Bambang sadari dia berjalan ke arah meja yang di atasnya ada tumpukan gelas dan beberapa pisau.
Braaaks...
Tubuh Bambang tergeletak di lantai karena menambrak meja yang ada didepan nya, dan tumpukan gelas beserta pisau yang ada di atas meja itu terjatuh dan mengenai Bambang, nampak pecahan kaca gelas itu mengenai kaki dan tangan nya, sementara pisau itu menancap di atas perut Bambang.
Setelah itu Bambang berteriak kencang meminta tolong, karena setiap kali Bambang ingin bergerak tubuhnya akan semakin kesakitan karena pecahan kaca yang ada di kakinya dan juga pisau yang masih menempel di perutnya.
"Wah kemana to Bambang pergi nya biasanya jam segini warung bakso kan sudah tutup, kok dia belum datang juga ya". Ucap Pardi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu Pardi meraih ponselnya dan berusaha menghubungi Bambang melalui panggilan suara, tapi setelah menelepon selama empat kali, tetap tidak ada jawaban dari Bambang.
Kemana ya dia pergi nya, apa iya dia masih membereskan perkakas di warung, batin Pardi seraya melangkahkan kakinya ke warung bakso juragan nya.
Sesampainya di warung bakso itu, nampak pintu depan terbuka lebar dan Pardi pun bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam dapur, setelah sampai di dapur itu nampak Pardi terkejut dia membulatkan kedua matanya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Bambang kau kenapa mbang". Pekik Pardi yang melihat Bambang sudah tergeletak di lantai dapur itu dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Setelah itu Pardi menghububgi pak Rahmat melalui panggilan telepon dan memberitau tentang keadaan Bambang.
"Kau diam disitu dulu Di, jangan kemana-kemana apalagi memberitau orang lain, aku akan segera kesana". Cetus pak Rahmat dengan suara beratnya.
Lalu Pardi berjongkok ketakutan di depan warung bakso itu, nampaknya Bambang sudah tiada karena tubuhnya sudah tidak bernafas lagi, Pardi semakin ketakutan berada disana seorang diri, dan tanpa Pardi sadari pak Rahmat sudah ada di sebelahnya dan menepuk pundaknya, membuat Pardi berjingkat ketakutan dan berteriak meminta tolong.
"Di diamlah tutup mulutmu itu, ini aku pak Rahmat lihatlah". Seru pak Rahmat dengan menepuk pundak Pardi.
Kemudian Pardi menghembuskan nafasnya panjang, karena sudah ada pak Rahmat disana.
"Bambang pak di diaa... Su su sudaah tiadaa". Jelas Pardi dengan suara terbata-bata.
"Ayo kita lihat keadaan nya bersama-sama". Ajak pak Rahmat seraya berjalan ke arah dapur.
Sesampainya di dapur itu nampak pak Rahmat terkejut dan membulatkan kedua matanya, memandang Bambang yang tergeletak tidak bernyawa.
Jangan-jangan dia melihat sosok pocong di dalam gudang itu, bukankah aku sudah memperingatkan nya untuk tidak membuka pintu gudang itu apapun yang terjadi, tapi dia melanggar perintahku dan bernasib buruk seperti ini, batin pak Rahmat dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Bagaimana ini pak, Bambang sudah meninggal dunia, dan aku tidak ingin dituduh atas kematian nya, karena aku lah yang pertama kali menemukan nya disini". Seru Pardi dengan wajah ketakutan.
"Aku juga tidak ingin usahaku ini menjadi bangkrut karena kabar meninggalnya Bambang di warung baksoku ini". Tukas pak Rahmat dengan mengkerutkan keningnya.
"Bagaimana kalau kita menguburkan jenazah Bambang di suatu tempat, dengan begitu semua akan aman dan tidak akan ada yang mencurigaimu dan warung bakso ku akan tetap laris seperti biasanya". Cetus pak Rahmat memberi saran.
Nampak Pardi sempat tidak menyetujui saran juragan nya itu, tapi Pardi tidak punya pilihan lain selain menyutujui usul pak Rahmat.
"Baiklah pak mari kita kuburkan jenazah Bambang, supaya tidak ada yang mencurigaiku". Ujar Pardi dengan menelan ludahnya kasar.
Setelah itu Pardi membungkus mayat Bambang menggunakan kain dan mengikatnya dengan rapi supaya tidak ada yang mengetahui jika didalamnya ada sesosok mayat.
Lalu pak Rahmat dan juga Pardi membersihkan lantai dapur itu dan melihat situasi di sekitar warung bakso, karena mereka berdua akan menggotong mayat Bambang ke dalam mobil.
Nampak pak Rahmat keluar dari warung baksonya dan memantau keadaan sekitar, terlihat suasana agak sepi dan hanya ada beberapa warga yang akan pergi ke mushola, lalu pak Rahmat bergegas menggotong mayat Bambang dibantu dengan Pardi yang tubuhnya bergetar hebat karena mengangkat mayat Bambang.
"Kau jangan menunjukan wajah ketakutanmu itu Di, kalau ada warga yang melihatnya mereka akan mencurigaimu". Cetus pak Rahmat yang memasukan mayat Bambang ke dalam bagasi mobilnya.
"Bagaimana lagi pak, ini pertama kalinya aku akan mengubur mayat seseorang dengan tanganku sendiri". Jelas Pardi dengan tubuh yang masih bergetar.
"Kau pikir aku sudah pernah melakukan nya hah, tapi aku bisa mengendalikan diriku bodoh". Seru pak Rahmat dengan wajah yang kesal.
Dan tanpa mereka sadari ada beberapa warga yang sedang berjalan melewatinya, dan mereka menyapa pak Rahmat yang malam itu masih berada di depan warung bakso nya, lalu pak Rahmat pun menjelaskan jika dia ingin mengantar pegawainya yang sakit ke dokter, lalu warga itu memperhatikan Pardi yang sedang berkeringat dingin dengan badan yang gemetaran, mereka semua mengira jika Pardi lah pegawai yang dimaksud pak Rahmat, dan mereka pun berpamitan dari sana karena takut ketinggalan berjamaah shalat magrib di mushola.
*
*
...Yuk kak berikan Vote dan hadiah nya, insya Alloh akan ada buku baru setelah novel ini selesai 😊...
...Bersambung....