DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Misteri peralatan sajen???


"Apa maksudmu mbakyu". Ucap Bagaskara dengan mengkerutkan keningnya.


"Bukankah kau tertarik dengan istri baru kangmasmu itu". Tukas Sekar dengan seringai diwajahnya.


"Tidak begitu mbakyu aku hanya kaget saja, melihat ada gadis muda dengan senyum manisnya di istana kita ini". Terang Bagaskara tersenyum simpul.


"Bagaimana jika aku membantumu untuk memiliki perempuan itu". Celetuk Sekar membuat Bagaskara tercekat.


Lalu Mekar datang menghampiri keduanya, karena Raja Buanamukti memanggil mereka berdua.


"Kita bicarakan nanti lagi Bagas, percayalah padaku, aku akan membantumu". Jelas Sekar seraya berjalan beriringan dengan Mekar dan Bagaskara.


Nampak Bagaskara hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab ucapan Sekar, sedangkan Mekar yang berada di antara mereka hanya terdiam dengan menerka-nerka.


Apa yang mbakyu Sekar bicarakan dengan Bagaskara ya, batin Mekar dengan mengkerutkan kening nya.


*


*


Sementara itu di desa Randu garut nampak mbah Karto mulai menyelidiki siapa Bima sebenarnya, mbah Karto meminta Bima untuk berbicara empat mata dengan nya, tapi disaat mbah Karto sedang berbicara dan berusaha menatap mata Bima, Bima selalu menundukan kepala nya.


"Le tak perhatikan kok kau selalu menunduk setiap kali berbicara padaku, apa kau sedang melakukan kesalahan dibelakangku?". Seloroh mbah Karto dengan tersenyum simpul.


"E anu mbah, aku hanya tidak biasa bertatap mata langsung dengan orang yang lebih tua". Ucap Bima yang masih menundukan kepalanya.


"Baiklah, apakah kau bisa membantuku untuk menembus alam gaib tempat buto ireng itu tinggal, karena jika hanya berdua dengan Jarwo, gerbang gaib itu tidak mau terbuka untuk kami, siapa tau dengan adanya kau gerbang gaib itu bisa terbuka dengan mudah". Cetus mbah Karto dengan menatap tajam pada Bima.


Gawat, jika aku membantu mereka memasuki gerbang gaib itu, Ki Ageng sedo bisa murka padaku, tapi jika aku tidak membantunya kangmas Karto akan curiga padaku, batin Bima cemas dengan mengusap peluh dikeningnya


Nampak diluar rumah itu ramai warga yang datang untuk melihat keadaan Erwin, dan sebagian dari mereka ingin mengantar bu Fatimah ke rumah sakit untuk menjenguk pak Bagio yang akan melakukan operasi di kornea mata nya.


Bima menggunakan kesempatan itu untuk menghindari mbah Karto yang mulai mencurigai dirinya.


"Mbah Karto, saya permisi dulu mau ikut menjenguk pak Bagio di rumah sakit, besok saya akan kembali kesini lagi". Tegas Bima seraya berjalan meninggalkan mbah Karto yang masih duduk di bangku.


Lalu Bima masuk ke dalam mobil rombongan warga yang akan pergi ke rumah sakit, pak Jarwo hanya diam menatap punggung Bima dengan pikiran nya yang menerka-nerka.


Dan setelah Bima benar-benar pergi dari rumah mbah Sumi, nampak Evana dan Jansen mulai keluar dari persembunyian nya, kedua hantu itu melesat mendekati pak Jarwo.


"Loh kalian teman hantu Rania kan? ". Tanya pak Jarwo dengan membulatkan kedua matanya.


Terlihat kedua hantu itu hanya menganggukan kepalanya, disusul mbah Karto yang menjelaskan semua kecurigaan Evana dan Jansen pada pak Jarwo.


"Sebenarnya warga desa juga baru mengenal si Bima itu mbah, dia datang ke desa ini karena bapaknya sakit, dan semenjak dia disini, semua tugas bapaknya yang biasa membantu warga, dia semua yang menggantikan, mungkin bapaknya sudah tidak bisa apa-apa lagi". Tukas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Mungkin lebih baik kita menjenguk bapaknya, apalagi dari semalam Bima sibuk disini dan sekarang dia sedang pergi bersama warga lain nya". Cetus mbah Karto seraya berjalan keluar rumah.


Kemudian Evana dan Jansen melesat terlebih dulu untuk memberitau jalan yang benar ke pondokan Bima, jalan itu memasuki hutan-hutan yang lebat.


"Sebenarnya aku pernah tidak sengaja bertemu dengan Bima di dekat hutan ini, dan dia menyuguhkan ku secangkir teh, tapi aku lupa jalan ke arah pondok itu karena saat itu aku tidak sengaja menemukan pondokan nya". Jelas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Disepanjang perjalanan mbah Karto melihat sesuatu melalui mata batin nya, tempat dimana Lala direnggut paksa kehormatan nya.


"Aku juga melihatnya mbah, tapi buto itu meminjam raga manusia sehingga kita tidak bisa melihat siapa manusia yang telah meminjamkan raga nya itu". Tukas pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Bisa Le, kita pasti bisa mengetahui siapa manusia yang bersekutu dengan makhluk gaib itu, kita harus mencari waktu yang tepat dan kita juga harus menyatukan kekuatan supaya semua misteri ini cepat terpecahkan dan Lala bisa segera ditemukan". Ucap mbah Karto dengan mendongakan kepala nya ke atas.


Wuuush...


Evana dan Jansen melesat berhenti disebuah pondokan yang tertutup dan di gembok dari luar, nampak mereka tercekat melihat jika pondokan itu di gembok dari luar, sedangkan Evana dan Jansen pun tidak dapat masuk ke dalam pondokan itu seperti ada kekuatan yang menghalangi mereka.


"Bukankah bapaknya Bima ada di dalam?". Tanya mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya.


"Entahlah mbah, mungkin Bima sudah memindahkan bapaknya". Jawab pak Jarwo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lalu mbah Karto pun berjalan mengelilingi pondokan itu, kedua matanya tertuju pada sebuah benda di pojokan pondok itu.


Ini seperti tempat sesajen yang biasa digunakan oleh seseorang, aku mengenali barang-barang adikku itu, batin mbah Karto dengan memeriksa bekas-bekas sesajen di tempat itu.


"Ada apa mbah, kenapa kau memeriksa peralatan sesajen itu". Seru pak Jarwo heran.


"Aku pernah melihat peralatan sajen seperti ini, karena barang-barang ini tidak umum digunakan untuk sesajen, dulu hanya adikku Wongso saja yang aku lihat memakai peralatan seperti ini". Cetus mbah Karto mengkerutkan keningnya.


Lalu mbah Karto memejamkan kedua matanya, dan membaca rapalan mantra untuk mengetahui siapa pemilik peralatan sajen itu, tapi mata batin mbah Karto tidak dapat mengetahui lebih dalam lagi, karena sebelumnya Bima sudah menutup semua akses untuk menembus apapun yang ingin menyelidiki dirinya.


Kekuatan aneh apa ini, aku sama sekali tidak bisa melihat apapun, aku semakin curiga jangan-jangan memang ada campur tangan Wongso dibalik semua ini, batin mbah Karto seraya bangkit berdiri.


Lalu mbah Karto meminta bantuan Evana dan Jansen untuk mengawasi Bima di tempat ini.


"Evana bukankah kau pernah melihat Wongso adikku yang dulu pergi meninggalkan desa Rawa belatung". Ucap mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Iya mbah, aku pernah melihatnya, memangnya ada apa mbah?". Tanya Evana.


"Jika kau melihatnya ada disekitar tempat ini, lekaslah pergi menemuiku, dia sangat berbahaya, aku tidak ingin warga di desa ini menjadi korban ilmu hitam nya". Jawab mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Maaf mbah jika aku lancang bertanya seperti ini, memangnya siapa Wongso itu". Seru pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.


"Dia adalah adikku Le, Wongso sudah tersesat memilih jalan yang salah, dulu dia sempat ingin menumbalkan nyawa Rania, untung saja aku berhasil menghentikan nya, tapi dia pergi meninggalkan desa Rawa belatung, dan sampai saat ini aku tidak tau dia berada dimana". Jelas mbah Karto menundukan kepalanya.


"Jadi mbah Karto mencurigai dia adalah dalang dibalik semua musibah ini, tapi bagaimana mbah Karto bisa mengetahuinya". Tukas pak Jarwo menyipitkan kedua matanya.


"Kita akan segera mengetahui siapa yang melakukan semua ini, kau tunggu saja, biarkan Evana dan Jansen mencari tau lebih dalam lagi". Tegas mbah Karto seraya berjalan meninggalkan pondokan itu.


*


*


...Bersambung....