
Terlihat Anang sedang berdiri mematung didepan pintu rumah pak Jarwo, dia mengatakan jika bayi perempuan nya mendadak demam dan pucat, dia takut jika ananknya akan di jadikan oleh siluman kuda tadi.
"Mari pak ikutlah bersamaku untuk melihat kondisi anakku, aku tidak mungkin membawa nya ke rumah sakit di tengah malam seperti ini". Ucap Anang dengan wajah sendu nya.
"Sebentar Nang, kau tunggu disini aku akan mengambil tas obat-obatan tradisional ku". Tukas pak Jarwo.
Kemudian mereka bergegas kembali ke rumah bu Ratih, nampak Mira berdiri di depan pintu menanti kedatangan pak Jarwo, dan setelah sampai disana pak Jarwo segera memeriksa keadaan bayi mungil itu dan memberikan nya ramuan tradisional dari daun-daunan untuk diminumkan dan di kompreskan di kening nya.
Setelah itu bu Ratih berjalan gontai menghampiri pak Jarwo yang sedang duduk dengan mengusap peluh nya.
"Pak bagaimana keadaan cucu ku?". Tanya bu Ratih dengan mata berkaca-kaca.
"Cucu mu tidak apa-apa bu dia hanya demam saja, sepertinya ari-ari cucu mu sudah di gunakan untuk bahan kecantikan Tuan puteri gaib itu, sehingga badan bayi itu kaget karena sebagian tubuh nya telah di mangsa oleh makhluk gaib, tapi insyaAllah dia akan baik-baik saja jika kalian sering meminumkan ramuan yang aku berikan tadi, dan ingat jangan tinggalkan shalat lima waktu nya supaya rumah ini semakin aman meski sudah ku pagari secara gaib". Jawab pak Jarwo dengan keringat yang bercucuran.
Lalu Mira datang dengan membawakan teh hangat dan juga kue kembang goyang kesukaan warga desa nya.
"Monggo pak di unjuk riyin (silahkan pak diminum dulu)". Tukas Mira dengan wajah lesu nya.
"Suwun Mir (makasih Mir)". Ucap pak Jarwo.
Setelah meminum teh hangat itu pak Jarwo berpesan pada Anang, jika di desa mereka terjadi sesuatu yang tidak beres pak Jarwo meminta Anang atau warga yang lain nya untuk segera menghubungi nya melalui ponsel atau mencarinya di desa Rawa belatung karena pagi ini dia berniat pergi ke desa tetangga nya itu, meski desa mereka bertetangga jarak dari kedua desa itu cukup memakan waktu jika dalam keadaan genting.
Sedangkan Mira yang berada di dalam kamar nya berjalan keluar seraya menggendong bayi nya dan memberitau keluarga suami nya jika demam bayi nya sudah berangsur turun, terlihat wajah lega dari semua orang mereka nampak tersenyum dengan mengucapkan terima kasih sekali lagi pada pak Jawo.
"Sudah kalian tidak perlu berterima kasih padaku, semua ini atas kuasa Allah SWT yang memberikan kuasa untuk mengangkat penyakit dari tubuh bayi kecilmu itu". Cetus pak Jarwo seraya menepuk pundak Anang.
Karena keadaan bayi itu sudah lebih baik pak Jarwo memutuskan untuk kembali ke rumah nya supaya dia dapat beristirahat terlebih dulu sebelum berangkat ke desa tetangga nya.
*
*
Sementara itu keadaan di desa Rawa belatung setiap hari nya selalu saja ada warga yang kerasukan karena iman nya goyah dan tidak melakukan ibadah sesuai pesan pak haji Faruk yang sekarang sudah pergi menemui guru besar nya, tidak banyak yang bisa dilakukan warga lain nya selain membantu membacakan lantunan ayat-ayat suci supaya makhluk halus yang merasuki warga desa nya dapat keluar secepat nya.
Nampak simbah Parti berderai air mata karena kondisi di desa nya benar-benar kacau.
Seandainya Walimah tidak sakit, mungkin saat ini dia sudah pergi menemui Jarwo di desa nya, karena semua orang tidak ada yang tau dimana rumah Jarwo, apakah harus aku sendiri yang mencari Jarwo di desa nya, batin simbah Parti didalam hati nya dengan mengusap air mata yang membasahi wajah keriput nya yang sudah dimakan usia.
Wuusshh...
Petter datang melesat menghampiri simbah Rania yang nampak bersedih itu, hantu Belanda itu berniat membantu simbah Parti untuk mencari keberadaan rumah pak Jarwo dan meminta nya segera datang ke desa Rawa belatung, tapi simbah Parti ragu untuk memberi ijin Petter keluar dari desa nya, karena simbah sudah tau tentang papa Petter yang sudah ditemukan tapi sekarang dia berada di alam gaib bersama jiwa mbah Karto.
Lalu pak Sapri datang dengan berjalan tergesa-gesa ke rumah simbah Parti untuk memberi kabar jika kondisi fisik mbah Karto sudah sangat lemah dan sekarang kondisi Ari yang jiwa nya menghilang juga mulai tampak pucat, simbah Parti sudah tidak sanggup mendengar kabar buruk lagi di usia senja nya, setelah mendengar kabar dari pak Sapri tubuh tua simbah Parti pun tumbang dan tidak sadarkan diri untuk sesaat.
"Loh pak Sapri simbahku kenapa?". Tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku ya nduk, seharusnya aku tidak memberi tau kabar buruk ini pada simbah Parti, tapi aku juga tidak tau harus berbicara pada siapa lagi, karena saat ini sesepuh desa Rawa belatung hanya tersisa simbah Parti saja dan aku membutuhkan saran dari beliau". Jawab pak Sapri dengan wajah sendu nya.
Nampak jari-jari tangan simbah bergerak, dan tidak lama kemudian simbah tersadar dan memegang tangan pak Sapri seraya berkata jika dia tidak salah karena menceritakan masalah itu pada dirinya.
"Le kembali lah ke rumah mbah Karto lalu bacakan ayat-ayat suci didekat tubuh mbah Karto dan juga Ari, supaya jiwa nya yanv berada di alam gaib dapat tenang setelah mendengar lantunan ayat suci yang kau bacakan". Ucap simbah Parti dengan berlinang air mata.
"Tapi mbah aku tidak hafal bacaan ayat suci bagaimanapun aku hanya seorang Marbot di masjid". Seru pak Sapri dengan menundukan kepala nya.
"Tidak apa-apa Le, yang terpenting kau ikhlas membacakan ayat suci itu untuk mereka, insyaAllah lantunan ayat suci itu akan terdengar oleh mereka di alam gaib sana". Jelas simbah Parti meyakinkan pak Sapri.
Setelah itu pak Sapri berpamitan pada simbah Parti seraya mengecup punggung tangan nya untuk kembali ke rumah mbah Karto, sedangkan Rania yang diberi tau Petter tentang pak Jarwo yang mungkin dapat membantu warga desa nya berniat untuk pergi ke desa tetangga nya itu.
"Simbah bagaimana jika Rania saja yang akan pergi mencari rumah pak Jarwo?". Tanya Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Tapi nduk nyawa mu akan terancam jika keluar dari desa ini". Jawab simbah melarang Rania pergi.
"Aku juga ingin pergi menemani Rania mbah". Sahut Petter dengan berjalan mengambang.
Sedangkan Wati yang ketakutan tidak ingin sepupu nya itu pergi seorang diri dan Wati memutuskan untuk menemani Rania.
"Wati jika kau takut di rumah saja ya, rawatlah bude Walimah dan simbah juga sedang tidak enak badan, biarkan aku yang pergi lagipula Petter akan menemani ku". Ucap Rania dengan senyum manis nya.
Lalu datanglah Evana yang melesat dengan cepat sampai membuat bulu halus di tengkuk Wati meremang lalu mengusap tengkuk nya kasar.
Ih kok aku merinding to, pasti ini karena teman-teman hantu nya Rania, batin Wati didalam hati nya.
"Aku akan pergi bersama kalian sayang aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada kalian berdua". Tegas Evana memandang wajah Rania dan juga Petter.
Karena Rania ingin pergi ditemani dua teman hantu nya, simbah Parti pun luluh dan memberi ijin Rania untuk pergi ke desa tetangga dan meminta bantuan pada pak Jarwo.
*
*
...Bersambung....
...Yuk berikan semangat untuk Author dengan memberikan like, hadiah atau Vote nya supaya aku semakin semangat update bab baru di novel ini, terima kasih ya buat kalian semua pembaca setia novel desa Rawa belatung doakan Author supaya viewers naik dan dapat melakukan give away lagi, salam sayang selalu untuk kalian semua Love u all 💕...