DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kecemburuan Sukma melati.


"Tenanglah nduk mungkin saja suamimu sedang lembur bekerja, lebih baik sekarang kau tidur bersamaku di kamar ini". Ucap bu Ema membohongi Rara.


"Tapi bu perasaanku tidak enak". Tukas Rara dengan wajah sendu nya.


"Sudahlah nduk jangan berpikiran yang tidak tidak, mari kita tidur saja". Seru bu Ema mengajak Rara berbaring ke atas tempat tidur nya.


Disaat Rara berbaring ditempat tidur, pikiran nya melayang memikirkan suami tercinta nya yang tidak biasa nya lembur bekerja tanpa mengabarinya terlebih dulu.


Sementara Ari yang sedang tertidur dipelukan Sukma melati seakan merasakan kehawatiran Rara yang sedang memikirkan nya di rumah, dia nampak terbangun dengan wajah yang cemas, membuat istri gaibnya Sukma menjadi terbangun dengan menatap wajah suami nya yang nampak gelisah.


"Ada apa kangmas, kenapa wajahmu terlihat gelisah?". Tanya Sukma melati dengan bergelayut manja di pelukan Ari.


"Aku hanya teringat istriku di rumah dek". Jawab Ari dengan wajah sendu nya.


"Kangmas kau tidak boleh memikirkan ataupun membicarakan perempuan lain di kamar ini apalagi ketika kau bersamaku, jika kau disini bersamaku semua yang ada didalam dirimu adalah milikku dan kau tidak bisa membaginua dengan perempuan lain". Pekik Sukma melati dengan membulatkan kedua mata nya.


"Ma maaf dek, aku tidak akan mengulangi nya lagi". Ucap Ari dengan wajah ketakutan melihat istri gaib nya nampak murka ketika dia memikirkan Rara.


Kemudian Sukma melati mendorong tubuh Ari hingga terbaring di ranjang, dan dengan menggebu gebu Sukma memainkan milik Ari yang ada dibawah sana, dengan sekali lahap saja membuat Ari meringis tidak karuan.


"Aduh dek pelan pelan saja". Ucap Ari dengan nafas yang berderu kencang.


Tanpa menjawab ucapan Ari terlihat Sukma semakin menggilai permainan nya memainkan milik suami nya dengan saliva nya.


Suara suara aneh Ari mulai terdengar membuat Sukma semakin panas dan memulai kembali penyatuan nya malam itu, Sukma melati duduk diatas sana menguasai permainan nya.


Kali ini Sukma yang memainkan hentakan demi hentakan membuat Ari melupakan kecemasan nya pada perempuan lain yang sedang mencemaskan dirinya di rumah sana.


Terlihat Sukma tanpa ampun memainkan milik Ari tanpa henti membuat lenguhan panjang mulai terdengar di kamar itu.


"Dek kau hebat sekali malam ini". Ucap Ari dengan sesekali mengeluarkan suara aneh nya.


Dan tanpa Ari sadari sesuatu didalam dirinya keluar begitu saja tanpa perintah darinya menembus dinding pertahanan Sukma menjadi goyah, seketika tubuh Sukma ambruk ke samping tubuh Ari yang sudah lemas karena dalam semalam sudah dua kali dirinya melakukam permainan dengan istri gaib nya itu.


Kemudian Sukma memeluk erat Ari dan membisikan kata kata cinta dan berkata jika dia akan memberikan keturunan pada suami nya itu, terlihat Ari hanya menyeringai dengan menggenggam erat jari tangan Sukma dan keduanya tertidur sampai subuh tiba.


Ketika hari sudah hampir pagi nampak Sukma melati membangunkan Ari yang masih tertidur disamping nya dan akan membawanya kembali ke alam manusia.


"Kangmas bangunlah, aku akan membawamu kembali ke alam manusia". Ucap Sukma melati seraya mengecup kening suami nya itu.


Setelah itu Ari berpakaian dan mengikuti Sukma kembali ke alam manusia, dan dengan satu kedipan mata saja Ari sudah sampai didepan pohon keramat hutan angker itu.


"Kita berpisah sampai disini saja ya mas, minggu depan kita berjumpa lagi dan tolong malam jumat depan kau bawalah sepasang ayam cemani untukku". Perintah Sukma seraya memeluk tubuh Ari yang masih terlihat lemas.


"Baiklah dek, aku akan menuruti kemauanmu". Seru Ari mengecup kening istri gaibnya itu.


Setelah itu Sukma menghilang begitu saja karena mendengar suara adzan subuh dari Masjid yang ada di desa Rawa belatung.


Terlihat Ari terkejut karena istri gaibnya menghilang begitu saja tanpa berpamitan pada dirinya.


Ah sudahlah mungkin Sukma takut mendengar suara adzan itu, gumam Ari pada dirinya sendiri.


Kemudian Ari berjalan keluar dari hutan angker itu dan kali ini dia bertemu dengan kedua hansip yang baru saja selesai melakukan patroli dan akan kembali ke rumah nya masing masing.


"Loh Ar, kau darimana subuh begini baru pulang?". Tanya pak Dahlan dengan seringai kecil di wajah nya.


"Aku baru saja pulang kerja pak, tadi malam aku harus lembur menggantikan shift temanku". Jawab Ari membohongi pak Dahlan.


"Walah pak soal upah ya sama saja dengan pekerja yang lain nya". Cetus Ari dengan nafas yang berderu kencang.


"Nampaknya kau lelah sekali Ar, nafasmu kencang sekali, cepatlah pulang ke rumahmu dan istirahatlah". Seru pak Dahlan dengan menepuk pundak Ari.


Lalu Ari berpamitan pada keduanya dan mulai melangkahkan kaki nya ke arah rumah nya.


Ditengah tengah perjalanan tiba tiba saja koin emas yang diberikan Sukma melati terjatuh menggelinding ke arah pak Dahlan dan pak Eko.


"Eh kang berhentilah sebentar sepertinya Ari menjatuhkan sesuatu". Seru pak Dahlan dengan membulatkan kedua mata nya menatap pada bulatan emas yang tengah menggelinding ke arah nya.


Setelah itu pak Dahlan mengambil koin emas itu dan memperhatikan nya dengan serius, sedangkan pak Eko yang menggaruk kepala nya nampak bingung dengan tingkah partner kerja nya itu.


"Kau sedang apa to Lan, lihat uang koin saja sampai tidak berkedip". Tukas pak Eko dengan menepuk pundak pak Dahlan.


"Ini bukan sekedar uang koin kang, sepertinya ini koin emas asli lho". Cetus pak Dahlan seraya menunjukan koin emas itu pada pak Eko.


Kemudian kedua nya melihat dengan seksama koin berwarna emas itu dan memastikan nya jika itu adalah emas sungguhan.


"Wah kau benar Lan ini koin emas sungguhan, tak gigit aja rasanya gak asin". Ucap pak Eko dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Ayo kita kembalikan ini pada Ari, kasihan dia jika sampai di rumah pasti kebingungan mencari koin emas ini". Seru pak Dahlan dengan wajah yang serius.


Setelah itu keduanya memutuskan untuk mengembalikan koin emas itu ke rumah Ari karena mungkin saja Ari sudah sampai di rumah nya.


Ceklek...


Terdengar Ari membuka pintu rumah nya, dan membuat Rara yang masih terjaga sepanjang malam terperanjat dari atas ranjang dan membuat ibu nya terbangun dari tidur nya.


"Kau mau kemana nduk?". Tanya bu Ema dengan mata sayu nya.


"Mas Ari sudah pulang bu, aku ingin menemuinya". Jawab Rara dengan wajah cemas.


"Kau disini dulu nduk, biar ibu yang keluar kamar terlebih dulu, takutnya Anto juga ada diluar kamar nya". Perintah bu Ema seraya berjalan keluar dari kamarnya.


Lalu bu Ema berjalan menemui Ari yang sedang terduduk lesu di sofa ruang tamu nya.


"Kau kenapa Le, wajahmu nampak tidak sehat". Ucap bu Ema dengan wajah cemas.


"Aku tidak apa apa bu, hanya kelelahan saja setelah melayani kemauan Sukma melati". Ujar Ari dengan nafas tersengal sengal.


"Cepatlah bersihkan dirimu, jangan sampai Rara curiga melihat keadaanmu yang seperti ini, karena sejak semalam dia terus menghawatirkanmu". Tukas bu Ema dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Kemudian Ari bangkit dari duduknya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara diluar sana nampak kedua hansip yang sudah sampai didepan rumah nya.


Tok tok tok...


Siapa ya pagi pagi begini kok sudah ada yang bertamu, batin bu Ema didalam hati nya.


Ceklek....


*


*


...Bersambung....