DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Petualangan gaib Rania eps 8 (Jiwa yang menyatu dengan raga)


Rania seakan mengenal orang-orang yang ada dalam cerita Simbah Genuk, lalu perempuan tua itu mengeluarkan pakaian yang dulu diberikan manusia yang telah menolongnya. Ada bros bunga anggrek yang terselip didalam kain jarik, bros itu menggelinding di tanah. Rania mengernyit seraya mengambil nya, dia menatap lekat bros yang ada ditangan nya. Terlintas kenangan disaat dia kecil simbahnya pernah memiliki sepasang bros semacam itu, sontak saja Rania bertanya pada Simbah Genuk dimana tempat tinggal perempuan yang telah menolongnya ketika di alam manusia.


Hanya tiga kata saja yang di ucapkan Simbah Genuk, membuat mata Rania berkaca-kaca. "Desa Rawa Belatung." Ucap perempuan tua itu dengan mendongakan kepalanya ke atas.


Rania berlinang air mata, dia tidak mampu berkata-kata. Dia menyebutkan nama Simbah Parti berulang kali.


Kenapa gadis ini terlihat sedih setelah mendengar nama desa itu, batin Simbah Genuk didalam hatinya.


Simbah Genuk melesat mendekat pada Rania, dia meletakan telapak tangannya di atas kening Rania. Lalu muncul gambaran yang ada didalam pikiran Rania saat itu. Beberapa wajah orang yang dikenali nya, ada didalam ingatan gadis yang ada dihadapannya. Simbah Genuk mengernyit lalu menatap tajam pada Rania seraya menanyakan siapa dirinya sebenarnya.


"Aku aku adalah cucu Simbah Parti, beliau sudah tiada sehingga aku kembali merindukan nya saat melihat barang miliknya." Ucap Rania berurai air mata.


"Jadi kau benar-benar memiliki hubungan dengan nya? Baiklah aku akan berusaha membantu mu sebisaku. Kita tidak perlu menunggu bulan purnama. Karena aku hawatir jika ragamu tidak dapat bertahan lama menunggu jiwamu." Perempuan tua itu menengadahkan tangannya ke atas. Suar cahaya keemasan melesat ke dalam rumahnya. Simbah Genuk sedang memagari jiwa Rania dari sentuhan makhluk tak kasat mata yang ada disana.


Dari luar pondoknya Tini berlari dengan berteriak memanggil simbahnya, gadis kecil itu datang membawa berita. Jika ada pangeran buto dari wilayah utara yang datang ke wilayah nya, untuk mencari seorang manusia. Hawatir jika pangeran buto itu akan mencelakai jiwa Rania, simbah Genuk menyembunyikan nya di dalam pondok. Dan di luar pondoknya, nampak sesosok pangeran buto yang sangat tampan sedang meminta bantuan warga desa gaib untuk menemukan manusia yang dicarinya.


Senopati memandang satu-persatu jiwa-jiwa yang berada di tempat itu. Dia tidak dapat menemukan keberadaan Rania hingga dia tertunduk tidak berdaya. Karena pencarian nya hanya tinggal satu hari saja, jika dia tidak berhasil membawa jiwa Rania kembali ke dalam raganya. Sudah dipastikan jika Rania akan meninggal dunia. Tini memandang wajah sendu Senopati, dia memberanikan diri untuk mendekati nya.


"Kakak ini anak dari Raja buto yang terkenal jahat itu bukan? Kami semua disini sangat takut pada kalian, tapi aku melihatmu malah bersedih. Dan aku tidak merasa jika kau kejam seperti yang diceritakan para orang tua disini." Ucapan lugu Tini membuat Senopati menyunggingkan senyumnya.


"Buto yang tinggal di wilayah ku kebanyakan adalah penganut ilmu putih, aku berasal dari wilayah utara. Kedatangan ku kesini bukan untuk mengganggu siapapun. Aku sedang mencari sahabat dekat ibuku, ibuku adalah seorang manusia. Dan sahabat nya menghilang dan tersesat di alam ini, apakah kau melihat seorang manusia di antara kalian?." Jelas Senopati dengan menatap wajah Tini.


Seorang sesepuh di desa gaib itu mengetahui, jika Simbah Genuk menyembunyikan anak manusia yang dicari oleh Senopati. Karena tidak ingin berurusan dengan pangeran buto, Ki Wastagi mencari keberadaan Rania di rumah Simbah Genuk. Dengan paksa Ki Wastagi mengikat jiwa Rania, sehingga gadis itu tidak sanggup berontak. Dan Simbah Genuk yang baru saja kembali ke pondok nya terkejut, karena dia tidak dapat menemukan keberadaan cucu dari manusia yang pernah menolong nya. Dia melihat Rania sudah berada ditangan Ki Wastagi, dan di depan sana sesosok pangeran buto sedang bersama dengan Tini cucunya. Di antara dua pilihan, simbah Genuk dilema harus menyelamatkan siapa lebih dulu. Tapi sang cucu meyakinkan jika pangeran buto yang sedang bersama nya tidak memiliki niat jahat.


"Kau tidak percaya begitu saja pada para buto itu Tini! Kau lupa siapa yang telah memusnahkan kedua orang tua mu!." Seru Simbah Genuk dengan lantang.


"Senopati tolong bantu Simbah Genuk." Ucap Rania seraya bangkit berdiri.


Rania menghampiri Senopati dan memohon untuk membantu perempuan tua yang telah berusaha melindunginya. Pertarungan sengit terus berlanjut di antara kedua sesepuh itu, lalu dengan kesaktiannya Senopati mengikat kedua jiwa sesepuh desa gaib itu. Dia menjelaskan jika semua hanya salah paham.


"Manusia ini adalah kerabatku, aku datang ke tempat kalian bukan untuk membuat keributan. Kalian tidak perlu saling menyakiti, jangan salah sangka dengan maksud kedatangan ku. Aku tidak sepenuhnya berdarah dingin seperti buto-buto lainnya, tanyalah pada gadis ini siapa aku yang sebenarnya." Senopati berusaha menjelaskan pada mereka semua, dan kedua sesepuh desa itu hanya diam dengan amarah yang tertahan.


Rania mendekati Simbah Genuk dan menceritakan segalanya, jika Senopati tidak seperti yang mereka bayangkan. Dia datang ke tempat itu hanya untuk membawa jiwa nya kembali.


"Seno tolong lepaskan belenggu yang mengikat mereka, bukankah kita harus segera kembali ke alam manusia. Pasti semua orang sudah sangat mencemaskan ku."


Setelah belenggu yang mengikat keduanya terlepas, Simbah Genuk mengusap pipi Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih atas apa yang pernah simbah mu lakukan, waktu itu aku belum sempat berterima kasih padanya. Dan kali ini aku sudah kehilangan kesempatan untuk membalas budinya. Lekas kembalilah pada ragamu, sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Jika ada kesempatan kami akan mengunjungi mu di alam manusia." Ucap Simbah Genuk dengan mendekap Tini cucunya.


Setelah berpamitan pada penghuni desa gaib itu, Senopati segera membawa jiwa Rania pergi, tanpa hambatan sama sekali, Senopati berhasil membawa jiwa Rania menembus dimensi gaib.


Di Rumah Sakit itu, Mbah Karto sudah menjaga portal gaib supaya makhluk gaib tidak bisa melintasi dimensi itu dengan bebas. Nampak Mbah Karto menyunggingkan senyumnya, disaat beliau melihat jiwa Rania sedang melesat bersama Senopati. Terdengar Mbah Karto berbicara melalui batinnya, dia memerintahkan Rania segera masuk ke dalam raga nya. Gadis itu sedang berdiri mengambang di depan tubuh nya yang terbujur dingin. Dengan berlinang air mata, Rania memandang wajah sendu mama nya. Dengan mengucapkan basmallah Rania melesat masuk ke dalam raga nya. Ingatan nya tentang Malik tiba-tiba saja kembali, tapi dia tidak dapat melakukan apapun. Beberapa saat kemudian Dokter datang ke ruangan itu, Dokter sangat terkejut mengetahui jika seluruh organ Rania kembali berfungsi normal.


"Selamat ibu, putri ibu sudah kembali stabil. Semoga ke depannya dia akan baik-baik saja." Jelas Dokter itu pada Anggi.


Anggi bergegas masuk ke dalam ruangan Rania, sesaat kemudian gadis itu membuka matanya perlahan. Rania mengedipkan kedua matanya perlahan, memberi isyarat pada mamanya jika dia sudah jauh lebih baik.


...Tamat!!!...