DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Mimpi atau nyata?


"Kami bisa melakukannya sendiri, jadi kau tidak perlu repot-repot untuk membantu kami." ucap Lala dengan menyunggingkan senyumnya.


" Baiklah kalau begitu jika ada yang kau butuhkan katakan saja padaku." tukas Yudistira memandang Lala.


Kenapa selalu ada Senopati disini, usahaku belum berhasil juga sampai saat ini, entah apa lagi yang harus aku lakukan, batin Yudistira mendengus kesal.


Tanpa Yudistira sadari mbah Karto dan pak Jarwo telah keluar dari dalam rumah, nampak pak Jarwo memandang lelaki yang sedang berbincang dengan Lala.


Kenapa aku merasakan aura negatif disekitar lelaki itu, apakah ada makhluk gaib yang bersamanya, meskipun ada Senopati disana dia tidak memiliki aura negatif yang aku rasakan saat ini, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.


Nampak pak Jarwo ingin memberitau tentang kecurigaan nya pada Yudistira, tapi tiba-tiba Rania berteriak memanggil mbah Karto, sehingga beliau melangkahkan kaki nya kembali ke dalam rumah, lalu pak Jarwo memutuskan untuk menghampiri Lala yang sedang berbicara dengan Yudistira.


"Assalamuallaikum, ada tamu kenapa tidak di ajak masuk to nduk." seru pak Jarwo seraya berjalan ke arah mereka.


"Waalaikumsallam, tadi aku sudah mengajaknya masuk mas, tapi dia belum menjawabnya." sahut Lala.


Nampak Yudistira hanya menundukan kepalanya, dia tidak berani menjawab salam dari pak Jarwo, dan munculah kecurigaan pak Jarwo, kenapa Yudistira tidak menjawab salam nya, dan sebelum pak Jarwo menanyakan hal yang lain nya, terdengar Yudistira berpamitan karena ada urusan di desa sebelah.


"Maaf ya La aku tidak bisa mampir ke rumah, sebenarnya aku lewat desa ini karena ada urusan di desa sebelah, maaf pak saya permisi dulu." jelas Yudistira berpamitan seraya masuk ke dalam mobil nya.


Kenapa dia tidak menjawab salam ku, dan sepertinya dia sedang menghindariku, batin pak Jarwo didalam hatinya penuh tanya.


"La siapa laki-laki itu, kenapa aku merasa ada yang janggal darinya." tukas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Senopati melesat mendekati ibunda nya, dan dia mengatakan hal yang sama dengan pak Jarwo.


"Benar katanya bu, aku juga merasakan aura negatif didekatnya, tapi dipenglihatanku dia hanya seorang manusia biasa, kalau ibunda mau mendengar saranku, lebih baik ibunda tidak usah berurusan lagi dengan nya, aku takut terjadi sesuatu pada ibunda." bisik Senopati pada Lala.


Kemudian Lala berbicara melalui batin nya pada anak lelakinya itu, Lala mengatakan jika Seno tidak perlu hawatir, karena dirinya tidak terlalu dekat dengan Yudistira.


"Mas sebenarnya ada misteri apa dengan teman lelaki ku itu, baru saja Senopati memintaku untuk menjauh darinya, bukankah dia seorang manusia sama seperti kita?." tanya Lala dengan mengkerutkan keningnya.


"Entahlah nduk dipenglihatanku memang dia manusia, tapi perasaanku mengatakan hal yang sama, jika ada sesuatu yang disembunyikan nya, mungkin kesaktianku sedang menurun karena aku terlalu lelah, setelah menjaga raga Rania yang bepergian ke alam gaib." jelas pak Jarwo seraya mengusap peluh dikening nya.


Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah, nampak disana Rania sedang tertunduk dengan air mata yang membasahi wajahnya, dan mbah Karto terlihat pun menenangkan nya.


"Sudah nduk kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, mungkin ini sudah takdir hidup Luna nduk, kau sudah bersusah payah menolongnya, jika memang dia harus mengalami semua ini, kita harus dapat menghiburnya supaya kelak dia dapat menjalani hidupnya dengan tabah." cetus mbah Karto dengan menepuk pundak Rania.


Lalu Lala berjalan mendekati Rania, dia memeluk erat sahabatnya itu, terdengar Lala mengatakan jika tidak ada orang yang sebaik dirinya.


"Kau jangan terlalu bersedih dan menyalahkan diri sendiri, apapun yang menimpa kak Luna adalah musibah, yang terpenting sekarang kak Luna sudah terbebas dari pengaruh arwah penasaran itu, ketika besok dia kembali kita harus memberinya semangat, terlebih sekarang dia sudah tidak memiliki orang tua, kitalah keluarganya yang tersisa di dunia ini." ujar Lala seraya mengusap air mata Rania.


"Kau adalah gadis terbaik yang pernah ada, kau selalu membantu semua orang tanpa memandang siapa orang itu, terkadang kemampuanmu tidak bisa sepenuhnya membantu orang yang ingin kau tolong, tapi ingatlah Alloh mengetahui semua niat baikmu itu, pasti akan ada jalan keluarnya, lebih baik sekarang kau istirahat, besok kita ada acara di kampus, aku tidak mau kau kelelahan dan jatuh sakit." cetus Wati dengan mengkerutkan kening nya.


Kemudian Rania beranjak pergi ke kamar nya, nampak langkahnya gontai dengan kepalanya yang berat, seperti ada beban yang mengganggu dirinya, malam itu Rania terlalu lelah untuk melakukan ibadah, tanpa sadar dia merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa berdoa seperti biasanya, didalam lelapnya Rania bermimpi bertemu dengan seorang lelaki, yang memakai jubah dan sorban dikepalanya, lelaki itu berperawakan tinggi nampak seperti keturunan orang arab, dengan mata berwarna biru dan hidung mancung nya.


"Assalamuallaikum dek." sapa lelaki itu.


"Waalaikumsallam, maaf kamu siapa ya." seru Rania didalam mimpi nya.


"Maaf aku mengikutimu sampai kesini, setelah aku melihatmu di sekitar rumahku, aku merasa ingin mengenalmu lebih dekat lagi, jika boleh tau siapakah namamu?." tanya nya seraya menjabat tangan Rania dan memperkenalkan dirinya sebagai Malik.


"Memangnya kau melihatku dimana Malik, perkenalkan namaku Rania." jawabnya dengan menyunggingkan senyumnya.


"Aku datang dari jauh hanya untuk menyapamu, jika kau berkenan bolehkah aku menjadi temanmu." ucap Malik dengan ramah.


"Baiklah kau bisa berteman denganku, aku tidak pernah memilih-milih teman, memangnya kau tinggal dimana." ucap Rania seraya memandang wajah tampan paripurna Malik.


Nampak Malik mengatakan jika dia tidak bisa menjelaskan dimana tempat tinggalnya, dan jika Rania berkenan lain waktu Malik akan mengajaknya ke rumahnya.


Tanpa terasa Rania menghabiskan waktunya bersama Malik di alam mimpi, banyak hal yang Rania ceritakan tentang bakatnya yang dapat melihat makhluk tak kasat mata, lalu Malik mengatakan jika Rania harus pergi ke suatu petilasan wali, dan memintanya untuk berdoa disana, supaya Rania dapat mengendalikan kekuatan nya sama seperti mbah Karto dan juga pak Jarwo.


"Darimana kau bisa mengenal beliau berdua." seru Rania terkejut.


"Aku bukanlah makhluk biasa seperti yang lain nya, aku datang menemuimu karena aura mu sangat hangat, apakah kau masih belum sadar siapakah jati diriku yang sebenarnya." tukas Malik dengan mengkerutkan keningnya.


Nampak Rania hanya menundukan kepalanya, gadis itu tengah bertanya-tanya didalam hati nya.


Apakah ini nyata kenapa aku meraaa sangat akrab dengan nya, padahal aku baru sekali ini bertemu dengan nya, batin Rania penuh tanya.


*


*


...Maaf jarang update selain kurang enak badan, Author juga kurang semangat menulis, karena dukungan dari kalian juga berkurang, tolong berikan Vote dan hadiahnya di semua karya ku ya kak, supaya author cepet sembuh dan kembali bersemangat, jangan lupa baca novelku yang berjudul Dendam perempuan berjubah merah, terima kasih 😊...



...Bersambung....