DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Diselamatkan hantu Belanda yang baik hati.


"Wah pak Dahlan ini asal bicara saja, tahun 1943 itu yang menjajah negara kita sudah ganti negara Jepang, mungkin saja tadi hantu noni Belanda yang menjadi korban pembunuhan orang Jepang". Celetuk Anto yang keceplosan berbicara tanpa berpikir.


"Huss... Jangan kencang-kencang To nanti dia bisa kembali kesini lagi". Bisik pak Dahlan yang mendekatkan badan nya ke samping Anto.


Lalu kedua nya memandang ke segala arah karena hawatir jika ada orang lain disana yang mendengar ucapan mereka.


"Untunglah pak noni Belanda tadi tidak mendengar perkataanku, kan gawat jika dia kembali dengan wujud yang menyeramkan". Jelas Anto dengan menghembuskan nafas yang panjang.


"Mari kita langsung mencari ranjang bu Ema". Ajak pak Dahlan seraya berjalan melewati lorong ruang rawat inap itu.


Mereka berjalan melewati beberapa ranjang yang tertutup tirai berwarna putih, tangan Anto meraih tirai kain berwarna putih itu untuk melihat siapa pasien yang berada didalam sana, nampak Anto membuka tirai pertama dan ternyata ranjang didalam sana kosong, lalu mereka melanjutkan membuka tirai berikutnya.


Sampai pada tirai yang ketiga, terlihat seorang lelaki Belanda yang sedang terbaring disana, dilihat dari keadaan nya sepertinya dia sedang dalam proses penyembuhan karena seluruh tubuh nya nampak memar dan terluka sedangkan kepala nya di ikat menggunakan perban yang melingkar di atas kepala nya.


"Wah pak kasihan laki-laki ini sepertinya dia terluka parah". Ucap Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang banyak sedang menghentakan kaki nya di lantai Rumah sakit itu.


Bruk bruk bruk...


Samar-samar terdengar suara perempuan yang sedang berbicara serius menggunakan bahasa Belanda, dan tiba-tiba saja suara langkah kaki orang banyak itu semakin mendekat ke dalam ruangan dimana Anto dan pak Dahlan berada didalam sana.


Lalu Anto dan pak Dahlan membalikan badan nya untuk melihat siapa yang datang ke dalam ruangan itu, nampak keduanya terkejut ketika mengetahui suara langkah kaki yang banyak itu ternyata adalah sekelompok tentara Belanda yang sedang mendekati mereka.


"O inboorlingen, hoe durf je de bevelen van de Nederlanders niet te gehoorzamen, we zullen jullie beiden arresteren en voor het gerecht brengen zodat je gestraft kunt worden (hai pribumi, beraninya kalian melanggar perintah Belanda, kami akan tangkap kalian berdua dan bawa kalian berdua ke pengadilan agar kalian bisa dihukum)". Pekik salah satu tentara Belanda yang sedang menatap tajam ke arah Anto dan pak Dahlan.


Sementara laki-laki yang tadinya terbaring diranjang Rumah sakit itu nampak terbangun dan duduk di ranjang nya, tangan laki-laki itu menunjuk ke arah kanan seakan meminta Anto dan pak Dahlan untuk segera pergi dari sana.


Akhirnya pak Dahlan yang menyadari kode dari laki-laki itu bergegas menyeret tangan Anto untuk segera melarikan diri dari sana, dengan tergesa-gesa keduanya berlari menjauhi beberapa tentara Belanda yang ada dibelakang mereka.


Terdengar oleh keduanya jika tentara Belanda yang sedang memakai seragam berwarna coklat dengan sepatu kulit setinggi betis sedang berteriak kepada mereka "stop, anders schieten we je neer (berhenti, atau kami akan menembakmu)". Seru seorang tentara Belanda dibelakang mereka.


Dengan langkah yang sudah tertatih Anto dan pak Dahlan nampak sudah tidak sanggup berlari lagi dan mereka berhenti disebuah lorong yang sedikit gelap.


Door door...


Terdengar suara dua kali tembakan yang mengagetkan kedua nya, mereka saling memandang dengan nafas yang tersengal-sengal.


Bruk bruk bruk bruk...


Suara langkah kaki berlarian kesana kemari, seakan mereka tidak akan melepaskan Anto dan pak Dahlan begitu saja, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik mereka berdua sampai terjungkal kedalam sebuah ruangan yang sangat gelap.


"Ma maaf Tuan, kami tidak melakukan apapun disini". Sahut pak Dahlan dengan menyatukan kedua tangan nya didepan dada nya.


Dan orang yang menarik mereka berdua pun berkata dengan suara yang lirih "Aku sedang menolong kalian dari tentara Belanda yang ingin menangkap kalian berdua, lebih baik kalian jangan mengeluarkan suara jika tidak ingin tertangkap". Bisik seorang lelaki dengan logat aneh ketika berbicara menggunakan bahasa Indonesia.


Lalu Anto dan pak Dahlan menuruti perintahnya untuk tidak mengeluarkan suara selama tentara Belanda itu sedang mencari keduanya diluar sana, dan setelah mereka menunggu selama beberapa saat terdengar suara langkah kaki mereka meninggalkan gedung tempat Anto dan pak Dahlan bersembunyi.


"Keluarlah dan segera pergi dari sini, tempat kalian berdua bukan disini". Tukas laki-laki yang tadi menolong mereka berdua.


"Tapi kami harus kemana". Sahut pak Dahlan dengan mengusap wajahnya kasar.


Kreeek...


Pintu di depan mereka tiba-tiba terbuka dan secercah cahaya memasuki ruangan gelap tempat mereka bersembunyi, samar-samar wajah laki-laki itu terlihat dipandangan mata Anto dan pak Dahlan, terlihat keduanya terkejut dan membulatkan kedua matanya setelah melihat wajah laki-laki yang telah membantu mereka terlepas dari kejaran tentara Belanda itu.


Laki-laki keturunan Belanda yang sedang terbaring di ranjang Rumah sakit tadilah yang telah menolong mereka berdua, nampak laki-laki itu menyeringai dengan tatapan mata yang nanar membuat Anto dan pak Dahlan sedikit ketakutan karena bulu dibadan nya meremang.


"Kau... Bukankah kau yang tadi sedang berbaring di ranjang sana". Ucap pak Dahlan dengan badan yang gemetar.


"Kalian tidak usah takut padaku, aku hanya ingin menolong kalian dari tentara Belanda itu, karena jika kalian tertangkap sudah dapat dipastikan kalian tidak akan bisa bertemu dengan keluarga kalian lagi selamanya". Jelas laki-laki itu dengan logat seperti orang luar yang susah berbicara bahasa Indonesia.


"Apa maksudmu Tuan?". Tanya Anto dengan menelan ludahnya kasar.


"Kalian masih belum mengerti rupanya, apakah kalian tidak tau jika sekarang kalian berada di dimensi gaib, semua yang kalian lihat saat ini adalah berbagai kejadian yang pernah terjadi di masa lampau". Jawab laki-laki itu dengan ramah meski wajahnya sangat pucat dan mengerikan.


Nampak Anto dan pak Dahlan saling memandang dengan wajah yang cemas setelah mendengar penjelasan seorang laki-laki Belanda yang telah menolong mereka.


"Lalu bagaimana caranya supaya kami dapat segera keluar dari dimensi gaib ini Tuan". Ucap pak Dahlan dengan mengusap peluh dikening nya.


"Baiklah aku akan membantu kalian sekali lagi, tapi bisakah kalian membantuku setelah kalian berdua keluar dari sini". Jelas laki-laki Belanda itu dengan memandang kedua mata pak Dahlan yang sedikit menyipit karena agak takut melihat dirinya.


"Kami berjanji Tuan akan membalas kebaikanmu jika kami bisa keluar dari dimensi gaib ini". Tukas pak Dahlan mewakili Anto yang sudah terduduk lemas di lantai.


"Sebelum aku membawa kalian keluar dari dimensi gaib ini, dengarkanlah ucapanku baik-baik, setelah kalian bisa keluar dari sini pergilah ke sebuah sekolah yang paling tua di dekat desa Rawa belatung dan tulislah sepucuk surat untuk anakku Petter yang dulu bersekolah disana, beritahu dia jika papa nya masih berada di Rumah sakit tempat nya dulu bekerja dan minta dia segera menemui papa nya Jansen, tulislah seperti itu dan letakan surat itu dibawah pohon besar yang ada didepan sekolah tua itu karena dulu aku sering menunggu nya dibawah pohon besar itu, pasti suatu saat Petter akan membaca surat yang kalian tulis untuk dia". Cetus laki-laki belanda itu dengan wajah sedihnya.


*


*


...Bersambung. ...