
"Makanya jangan melamun dong, dari tadi aku memanggilmu Rania, tapi kau malah diam saja." tukas Wati dengan mengerucutkan bibir nya.
Sepertinya aku harus bertanya pada Wati, siapa teman dekat Icha delain dirinya, batin Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Wati apakah kau berteman baik dengan gadis yang meninggal tadi?." tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Kami bertiga berteman baik dengan Icha, karena kami sering mengerjakan tugas bersama, sehingga kami dekat satu sama lain." jawab Wati dengan mendongakan kepala nya ke atas.
"Jadi kalian berempar sering menghabiskan waktu bersama, bolehkah aku melihat foto kalian berempat." tukas Rania memandang serius wajah Wati.
"Memangnya ada apa Ran, tumben sekali kau ingin tau tentang teman-teman dekat ku." ucap Wati dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Jika aku mengatakan yang sebenarnya pada Wati, pasti dia akan ketakutan dan mengacaukan segalanya, batin Rania dengan mengkerutkan kening nya.
"Aah tidak ada apa-apa kok Wat, aku hanya ingin tau saja, siapa tau aku mengenal mereka." seru Rania tidak mengatakan yang sebenar nya.
"Nih teman-teman dekatku di kelas, mereka dekat juga dengan almarhum Icha." ujar Wati seraya memberikan ponsel nya pada Rania.
Nampak Rania mengaitkan kedua alis mata nya, dia sedang berusaha mengingat wajah perempuan yang ada dipenglihatan batin nya.
Aduh kenapa aku jadi tidak bisa mengingat wajah perempuan itu, batin Rania dengan mengusap rambut nya kasar.
"Kau kenapa Rania, sepertinya kau kesal sekali melihat foto mereka." seru Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Kemudian Rania memutuskan untuk pergi ke kantor polisi, karena mata kuliah nya sudah selesai.
"Ini ponselmu lain kali aku akan melihat foto itu lagi, tapi sekarang kita harus ke satlantas dulu." cetus Rania seraya bangkit dari duduknya.
Terlihat kedua gadis itu berjalan beriringan, dan jauh dibelakang mereka ada sosok arwah pak Parjo yang melesat mengikuti Rania.
Hanya butuh waktu dua puluh menit saja, akhirnya sepeda motor yang dikendarai Rania dan Wati, sampai juga di kantor polisi, kedua nya menemui petugas satlantas, dan menanyakan pemilik nomor polisi kendaraan bermotor.
"Pak saya ingin tau siapa pemilik nomor kendaraan itu, beberapa hari yang lalu tetangga saya menjadi korban tabrak lari, oleh sopir truk dengan nomor kendaraan tersebut, bisakah bapak menyelidiki pemilik atau sopir truk itu, kasihan keluarga korban pak, mereka tidak terima jika pelaku itu masih bebas berkeliaran." ucap Rania pada petugas kepolisian yang sedang sibuk melihat ke monitor komputer.
"Darimana adek mendapatkan nomor kendaraan ini?." tanya polisi itu dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Saya menyelidiki ke tempat kejadian perkara, dan kebetulan ada saksi mata yang melihat nomor kendaraan itu, dia adalah seorang tukang tambal ban, bapal bisa memperoleh informasi dari nya." jawab Rania dengan mengusap peluh dikening nya.
"Baiklah dek laporan adek sudah kami terima, dan kami akan segera meminta keterangan pada saksi mata, dan segera mencari pengemudi truk yang sudah membuat nyawa seseorang melayang." ucap petugas kepolisian itu dengan suara yang tegas.
Setelah menyelesaikan laporan nya, Rania nampak menghembuskan nafas nya panjang, karena arwah pak Parjo kini tidak mengikuti nya lagi, hantu itu terlihat bertahan di kantor kepolisian, mungkin arwah pak Parjo ingin turut serta dalam penyelidikan kasus kematian nya.
"Alhamdulillah akhirnya satu masalah sudah hampir menemukan titik kejelasan, dan hantu pak Parjo sudah tidak mengikutiku lagi." tukas Rania dengan meregangkan otot-otot yang ada ditubuh nya.
Terlihat Wati mengusap tengkuk nya, karena bulu-bulu halus ditubuh nya meremang, dan Wati akhirnya menjadi ketakutan setelah mendengar perkataan Rania, tentang hantu pak Parjo, karena setau Wati wujud pak Parjo sudah tidak utuh lagi ketika dia meninggal dunia.
"Rania aku takuut." bisik Wati lirih dengan memeluk sepupu nya itu.
"Apa yang kau takutkan lagi, hantu pak Parjo sudah tidak mengikuti ku lagi, lebih baik kau jangan mencoba membayangkan wujud nya, karena arwah nya bisa merasa terpanggil ketika kau memikirkan nya." celetuk Rania menatap tajam ke arah Wati.
"Hahaha... Kau tidak perlu setakut itu, lagipula hantu seperti pak Parjo tidak akan menyakiti manusia, yang tidak pernah berbuat jahat padanya." tukas Rania dengan menyunggingkan senyum nya.
Wati Wati seandainya kau tau, jika teman dekatmu itu juga menjadi hantu, kau pasti akan sangat ketakutan, dan tidak akan berani menyebut nama nya lagi, batin Rania dengan menggeleng-gelengkan kepala nya.
Kemudian mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, karena hari sudah sore, dan matahari sudah tenggelam, tak menampakan sinar nya lagi, dan disepanjang perjalanan, nampak Rania menceritakan berbagai kejadian janggal yang di alami nya selama di kampus, tapi tiba-tiba Rania menghentikan laju sepeda motor nya, gadis itu membulatkan kedua mata nya melihat ada bayangan hitam tinggi besar tengah menghalangi laju sepeda motor nya.
Astagfirullohaladzim, batin Rania didalam hati nya seraya membacakan ayat-ayat suci.
Ternyata itu adalah makhluk peliharaan yang dikirim mbah Ngatimin, lagi-lagi dukun itu berusaha mencelakai Rania, tapi Rania yang sudah beranjak dewasa, sudah dibekali sedikit pengetahuan untuk melindungi dirinya sendiri.
"Rania ta tadi aku melihat bayangan hitam di depan sana, apa karena itu kau membaca doa?." tanya Wati dengan suara yang bergrtar.
"Hah kau juga melihatnya Wati." jawab Rania dengan membulatkan kedua mata nya.
"I iya seram sekali Ran." tukas Wati dengan keringat dingin yang membasahi kening nya.
"Sudahlah Wati insyaAllah semua akan baik-baik saja, lebih baik kita lekas pulang ke rumah." ujar Rania seraya mengendarai sepeda motor nya.
Tanpa terasa kedua nya sampai di desa Rawa belatung, terlihat pak Dahlan sedang berjalan tergesa-gesa menuju rumah Anto, menurut pak Dahlan di rumah Anto, banyak ular yang berdatangan kesana, sehingga Anto kuwalahan menangkap ular-ular itu, sementara Ari yang mengurung diri di kamar nya, tidak melakukan apapun untuk membantu Anto.
"Hati-hati ya pak Dahlan, bisa jadi itu ular jadi-jadian mengingat kejadian di masa lampau, mas Ari memiliki istri siluman ular." jelas Rania dengan mengkerutkan kening nya.
Benar juga perkataan Rania, jangan-jangan itu adalah ular kiriman, batin pak Dahlan dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Lalu dengan langkah gontai pak Dahlan berjalan ke rumah Anto, nampak beberapa ular berada di halaman rumah itu, sedangkan Anto yang kerepotan menangkap ular-ular itu, terlihat sangat kelelahan karena keberadaan ular itu di beberapa sudut halaman rumah nya.
"Untunglah pak Dahlan segera datang, aku takut ular ini masuk ke rumah pak." seru Anto seraya mengusap peluh dikening nya.
Tapi pak Dahlan justru diam tidak melakukan apa-apa, kedua mata nya sedang memperhatikan ular-ular itu yang hanya menggeliat di halaman rumah itu saja, hewan melata itu sama sekali tidak ada yang memasuki rumah Anto, padahal pintu rumah itu teebuka lebar, lalu pak Dahlan pun memberi tau Anto jika ada yang aneh dengan ular-ular itu.
"To lihatlah, semua ular itu tidak ada yang bisa memasuki rumahmu, mereka seakan terhalang sesuatu di luar sini." tukas pak Dahlan dengan mengarahkan jari telunjuknya.
*
*
...Hai semuanya 🤗...
...Mau referensi novel Romantis yang beda dari yang lain? ...
...cekidot aja nih novel pertama dari Author Black_Queen dengan judul Supir untuk sang nyonya....
...Jangan lupa untuk dukung ya agar Author nya semakin semangat....
...Bersambung....