
Kemudian para warga meletakan Harto di bangku panjang ruang tamu, dengan cepat bu Ani membersihkan luka di kepala Harto dan mengobatinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi to kang?". Tanya bu Ani memandang semua orang yang ada di ruang tamu nya.
"Kami tidak ada yang tau kenapa Harto bisa terluka seperti itu, karena kami menemukanya di gorong gorong dengan kondisi yang sudah terluka dibagian kepala nya". Jelas pak Eko dengan mengernyitkan dahi nya.
Karena hari masih malam bu Ani tidak bisa membawa adiknya ke Puskesmas yang ada di desa, terlihat raut wajah bu Ani yang sangat menghawatirkan adiknya.
"Begini saja Yu tak panggilkan mantri yang ada di desa sebelah, siapa tau dia bisa kesini untuk mengobati Harto". Cetus pak Dahlan menenangkan bu Ani.
Kemudian semua orang pergi tinggalah bu Ani yang sedang meratapi kondisi adiknya yang belum sadarkan diri, lalu pam Slamet berjalan dengan meraba setiap bagian tembok yang ada di rumah nya, karena mata nya masih buta dan belum bisa melihat sama sekali.
Gubraakk...
Pak Slamet tersandung meja yang ada disamping nya, badan nya tersungkur ke lantai membuat kalung jimat yang dia pakai terpelanting entah kemana.
Sementara bu Ani yang mendengar suara gaduh dari arah kamar nya segera berlari kesana.
"Kau kenapa bisa jatuh begini to kang, sudah aku bilang jika mau keluar dari kamar berteriaklah memanggilku jangan berjalan sendiri". Seru bu Ani membantu suami nya berdiri.
"Bagaimana aku mau memanggilmu, sedangkan aku berjalan keluar karena mendengar suara tangisanmu, memangnya kenapa kau menangis tengah malam begini?". Tanya pak Slamet yang dibantu berjalan oleh istri nya.
"Harto kang dia sedang terluka hu hu hu". Jawab bu Ani terisak menatap adiknya yang belum sadarkan diri.
"Lalu bagaimana keadaan nya sekarang dek". Ucap pak Slamet yang sedang berdiri tanpa bisa melihat apapun.
"Dia masih belum sadarkan diri kang, entah apa yang akan terjadi padanya, aku tau semua ini karena ulah hantu perempuan lintah darat itu". Jelas bu Ani dengan nada suara yang tinggi.
*
*
Setelah menunggu beberapa jam pak Dahlan kembali membawa mantri untuk mengobati luka yang ada di kepala Harto, setelah itu pak Mantri memberikan nya beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan Harto.
Kemudian pak Dahlan mengantar mantri itu kembali ke rumah nya, sementara Harto yang sudah tersadar dari pingsan nya memberitahu mbakyu nya jika tadi dia dikejar kuntilanak yang mirip dengan bu Jamilah sampai akhirnya dia terperosok ke dalam gorong gorong yang tertutup semak semak.
Mendengar cerita Harto bu Ani nampak hawatir dengan keselamatan adik laki laki nya itu.
"Tapi bagaimana denganmu Yu?". Tanya Harto yang hawatir dengan keselamatan mbakyu nya itu.
"Kau tidak perlu menghawatirkanku karena mbah Sapto sudah memberiku jimat, bagaimana luka dikepalamu apa kau masih merasakan sakit". Cetus bu Ani dengan mengernyitkan dahi nya
"Kepalaku masih sedikit sakit mbakyu, tapi sepertinya kau benar aku harus segera kembali ke desa ku". Seru Harto yang berusaha bangkit dari tempat duduknya tapi dia masih merasakan sakit disekitar belakang kepala nya.
*
*
Hari sudah pagi beberapa warga mendengar kejadian tentang Harto yang ditemukan terluka di gorong gorong, semua warga mengaitkan nya dengan hal gaib.
Bahkan berita itu telah sampai di telinga mbah Karto, sesepuh di desa rawa belatung.
Kenapa firasatku mengatakan jika terluka nya Harto ada hubungan nya dengan hal gaib yang ada di rumah nya Ani, batin mbah Karto didalam hati nya.
Setelah itu mbah Karto memutuskan untuk melihat kondisi Harto, dia berjalan melewati ladang warga mereka membicarakan jika sudah dua hari ini mereka mendengar suara cekikikan perempuan ditengah malam.
Mereka mengatakan jika suara tawa itu mirip suara kuntilanak yang sedang tertawa, sedangkan mbah Karto yang mendengar cerita warga itu menanyai mereka.
"Apa kalian melihat sendiri wujud kuntilanak itu?". Tanya mbah Karto menatap pada dua warga yang sedang berdiri di ladang nya.
"Kami hanya mendengarnya mbah jadi kami tidak tau wujud nya, lagipula mana mungkin kami berani melihat wujud kuntilanak itu". Jawab salah satu dari mereka.
Kemudian mbah Karto melanjutkan perjalanan nya menuju rumah bu Ani, dia berpikir keras tentang berbagai hal gaib yang ada di desa nya.
Jangan jangan kuntilanak itu ada hubungan nya dengan semua kecurigaan ku selama ini pada Ani, batin mbah Karto didalam hati nya.
*
*
...Bersambung....