
Rania terbangun dari tidurnya, dia menatap seorang gadis kecil yang berjongkok di depan nya.
"Kau siapa? Aku dimana?." Tanya Rania dengan memegangi kepalanya.
"Aku menemukan kakak sudah tergeletak di hutan sendirian, memangnya kakak datang darimana? Kenapa pakaian kakak berbeda dengan kami yang tinggal disini." Ucapan gadis kecil itu membuat Rania mengerutkan keningnya, lalu dia memandang ke segala arah.
Sepertinya aku sedang berada di alam lain, kenapa aku bisa berada di tempat ini, batin Rania didalam hatinya.
"Bisakah kau menolong ku kembali ke tempat asalku? Aku memang tidak berasal dari tempat ini."
"Memang kakak datang darimana?."
"Aku datang dari alam manusia, entah kenapa aku berada di tempat ini. Apakah kau tau jalan kembali ke alam manusia?." Rania mencoba bertanya pada gadis kecil yang memakai kain jarik yang dililitkan ditubuh nya.
Lalu gadis kecil yang bernama Tini mengajak Rania untuk menemui neneknya yang sedang bercocok tanam di kebun nya, karena tidak tau harus kemana Rania menerima ajakan anak itu.
"Nduk Tini kau datang bersama siapa?." Tanya Simbah Genuk dengan mengernyitkan keningnya.
"Darimana asalmu? Disini ada pantangan yang harus kau patuhi. Tidak ada siapapun yang boleh mengucapkan kata-kata yang kau ucapkan tadi! Dan jangan pernah lagi mengulangi nya, jika tidak jiwa mu akan terancam!." Seru nya dengan memalingkan wajahnya.
"Maaf Mbah aku tidak akan mengulanginya lagi, aku tersesat ke tempat ini. Bisakah Simbah menolong ku kembali ke tempat asalku?." Rania menundukan wajahnya, dia takut jika permintaan nya di tolak.
"Aku hanya bisa menolong mu ketika bulan purnama tiba, karena waktu itu gerbang dimensi gaib akan terbuka. Dan kau bisa kembali ke alam manusia, selama kau menunggu disini kau harus menyamar menjadi penduduk di alam ini. Jika tidak jiwa-jiwa hampa itu akan mengenalimu, jika kau bukanlah bagian dari kami."
Apakah benar yang dikatakan nya, harus berapa lama aku berada disini, batin Rania dengan wajah resah.
"Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan mencelakai mu. Mari ikutlah ke pondok ku, ada yang ingin ku perlihatkan padamu." Simbah Genuk melangkahkan kakinya dengan tongkat disebelah tangannya.
Nampak Tini kembali ke kebun untuk mengambil beberapa sayuran yang akan dimasak. Rania duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari kayu jati tradisional. Mata nya memandang ke seluruh pondok dengan atap rotan, dia kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Disaat dia bersama Petter tersesat di alam gaib, tapi sekarang dia sendiri. Dan tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi. Terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat ke arahnya, Simbah Genuk datang membawa bungkusan kain yang sudah usang. Dia menceritakan sebuah cerita di masa lalu nya, ketika dia terjebak di alam manusia. Dan akan ditangkap oleh manusia yang memiliki ilmu agama yang kental.
"Waktu itu malam bulan purnama, kedua orang tua Tini pergi ke alam manusia untuk meminta bantuan pada manusia sakti. Karena Raja buto dari wilayah timur menyerbu wilayah kami, saat itu Tini masih kecil dia di tawan oleh kawanan musuh. Aku menunggu sekian lama berharap kedua orang tua Tini akan datang membawa bantuan, tapi sampai saat ini mereka tidak pernah muncul kembali. Aku yang waktu itu sangat cemas menembus batas waktu ke dimensi manusia, di alam manusia aku hanyalah jiwa tanpa raga yang tak memiliki kekuatan spesial. Seorang dukun bernama Wongso hampir saja menangkapku, dan akan menjadikan ku budak untuk pesugihan nya. Beruntung nya seorang manusia melihat kejadian itu, ternyata perempuan itu memiliki kemampuan melihat makhluk seperti ku. Dia mendengar semua ucapan Wongso, yang berniat menjadikan ku budak. Saat itu aku terus memohon untuk dilepaskan, karena Tini masih berada di alam ini sendirian. Perempuan bernama Parti menolong ku dari cengkeraman Wongso, dengan susah payah dia membawa ku pergi dari gubuk manusia jahat itu. Dia memberikan ku beberapa pakaiannya, untuk menyamarkan aroma kegelapan yang ada padaku, untuk sesaat Wongso terkecoh dan kami berhasil melarikan diri. Tapi tiba-tiba dia mengetahui jejakku karena aku terbang melayang sementara Parti menapakan kaki nya di tanah. Wongso berusaha menyerangku, dan aku sempat kehilangan semua energi. Entah bagaimana Parti bisa melawannya, dan aku berhasil bertemu dengan manusia sakti yang ingin ditemui kedua orang tua Tini." Simbah Genuk menceritakan semua kenangan lamanya dengan wajah sendu. Sementara Rania hanya terdiam dengan mengerutkan keningnya.
...Bersambung....