DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kerasukan arwah!!!


Tanpa terasa sepeda motor yang mereka kendarai sudah sampai di depan rumah pak Jarwo, lalu kedua gadis itu melangkahkan kaki nya memasuki rumah dengan ornamen khas jawa itu.


Tok tok tok...


"Assalamuallaikum." seru Rania dan Lala bersamaan.


"Waalaikumsallam." sahut istri pak Jarwo.


Cekleek...


"Loh nduk kalian datang sepagi ini ada apa to?."


"Ehm kami ada perlu dengan pak Jarwo bu." jawab Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Setelah itu istri pak Jarwo memanggil suami nya, nampak pak Jarwo sedang melakukan shalat dhuha, lalu dia memanggil Lala dan memintanya untuk menunggu kangmas nya itu selesai ibadah.


"Baiklah mbak aku akan berbicara sendiri pada mas Jarwo, mbakyu kembali ke dapur saja, aku akan membuatkan minuman untuk Rania dulu." ujar Lala seraya berjalan ke arah dapur.


"Loh nduk kau datang kesini mendadak, memangnya ada apa?. tanya pak Jarwo dengan mengkerutkan kening nya.


"Itu loh mas Rania ada yang ingin disampaikan, bahkan dari semalam dia gelisah memikirkan rencana nya itu." celetuk Lala seraya menyuguhkan minuman untuk Rania dan juga pak Jarwo.


"Memangnya apa yang ingin kau katakan padaku nduk, kenapa tidak bicara pada mbah Karto dulu, aku tau ini bukanlah hal yang sepele, jika tidak pasti kau akan berbicara padaku melalui telepon." seru pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Rania menjelaskan rencana nya mencari Luna di dimensi gaib, dan untuk itu dia harus melakukan perjalanan gaib bersama Senopati anak Lala, karena Rania mendapatkan ide dari penglihatan dimata batin nya.


"Apa kau yakin nduk dengan rencanamu itu, semua selalu ada. resikonya, dan kau juga bisa dalam bahaya." jelas pak Jarwo dengan wajah cemas.


"InsyaAlloh semua akan baik-baik saja, jika kita tidak mencoba cara ini, kita akan semakin jauh dari jiwa kak Luna yang sedang mengembara entah kemana." tukas Rania mengkerutkan kening nya.


"Baiklah nduk hari ini juga aku akan berbicara dengan mbah Karto, hanya beliau saja yang dapat memberi keputusan, aku akan berusaha meyakinkan nya, tapi jika beliau menolak rencanamu ini, jangan pernah sekalipun kau nekat melakukan itu tanpa sepengetahuan kami, berjanjilah padaku nduk." ucap pak Jarwo menatap tajam wajah Rania.


Terlihat Lala membujuk Rania, untuk menuruti ucapan pak Jarwo, meski Lala sangat tau jika Rania sudah membulatkan tekadnya, tapi Lala meminta Rania untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan.


"Baiklah pak Jarwo, aku tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan kalian, tapi tolong bujuk mbah Karto ya pak, aku hanya ingin kak Luna kembali ke tempat yang semestinya." ujar Rania dengan mata berkaca-kaca.


Lalu Lala memeluk sahabatnya itu, seorang Rania yang dulu sangat takut bertemu dengan makhluk tak kasat mata, yang belum pernah dia jumpai sebelumnya, sekarang memutuskan untuk pergi ke alam mereka, gadis itu sudah bertekad untuk membantu Luna, yang sekarang sudah menjadi yatim piatu, karena kedua orang tua nya telah tiada.


Siang itu mereka memutuskan untuk kembali ke desa Rawa belatung, pak Jarwo langsung menuju ke rumah sesepuh desa itu, untuk menjelaskan apa yang ingin dilakukan Rania, dengan perlahan pak Jarwo mengatakan segalanya, dan membujuk mbah Karto untuk memberikan ijin pada Rania.


"Tidak Le, aku tidak bisa membiarkan Rania pergi seorang diri, sebelum simbahnya tiada aku sudah berjanji akan menjaga semua keluarga nya, tapi sekarang aku diminta untuk memberikan nya ijin pergi ke alam gaib, itu mustahil Le, aku tidak akan menyetujuinya." seru mbah Karto dengan terbatuk-batuk.


Dan dengan berbagai pertimbangan, akhirnya sesepuh desa itu luluh, dan menyetujui keinginan Rania, lalu mbah Karto mengatakan jika dia harus mencari hari yang tepat, supaya Rania tetap aman melakukan perjalanan gaibnya.


"Kau sampaikan pada Rania, jika aku membutuhkan waktu untuk bersemedi, dan menentukan hari yang tepat untuknya pergi, aku tidak menyangka Rania rela melakukan semua ini untuk Luna, padahal mereka baru saja kenal, tapi gadis itu selalu perduli dengan orang lain." tukas mbah Karto dengan wajah sendu.


"Dia sudah menyadari kemampuan yang dimilikinya, bisa membantu banyak orang, karena itu lah Rania dengan tulus ingin melakukan perjalanan gaib ini." ujar pak Jarwo dengan menundukan kepalanya.


Sementara itu Rania yang sedang menunggu kepastian dari mbah Karto, sedang duduk termenung di depan jendela kamar nya, tapi tiba-tiba ada udara dingin yang berhembus menerpa wajahnya.


Angin apa ini aura nya tidak enak sama sekali, batin Rania dengan memandang ke segala arah.


Karena merasa tidak ada yang perlu dia hawatirkan, Rania bergegas menutup jendela kamarnya, dia sedang menata buku nya yang berantakan di atas meja, lalu samar-samar Rania mendengar suara dari luar kamarnya.


Bruk bruk bruk...


Suara apa sih itu, seperti ada yang dibentur-benturkan di tembok rumah ini, gumam Rania dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Tapi tiba-tiba Rania mendengar teriakan Wati, yang menangis histeris dengan menyebut nama ibu nya, kemudian Rania berlari ke kamar bude Walimah, dan nampal dikedua mata nya kening bude nya itu sudah berlumuran darah, nampak tembok yang semula berwarna putih menjadi kemerahan, karena noda darah dari kening bude Walimah.


"Ja jadi suara tadi itu, Astagfirullohaladzim." pekik Rania dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian Rania berusaha menenangkan bude Walimah, nampak Lala yang baru saja keluar dari kamarnya tidak kalah terkejutnya, Lala yang sudah lama tinggal dengan makhluk gaib dapat melihat dengan mata terbuka, jika tubuh bude Walimah dirasuki oleh hantu suster itu, lalu Rania meminta Wati dan Lala untuk menahan tubuh bude Walimah, karena dia akan membacakan ayat-ayat suci, supaya hantu suster itu dapat segera terlepas dari raga bude nya, tapi tenaga bude Walimah terlalu kuat, Lala dan juga Wati tersungkur ke lantai, sontak Rania merasa jika mereka tidak akan bisa mengatasi semuanya sendiri, setelah itu Wati memutuskan untuk menghubungi pak Jarwo, dan memintanya segera datang ke rumah nya.


"Huhuhu ibu sadarlah jangan seperti ini bu." seru Wati berderai air mata.


"Sudah Wat jangan menangis lagi, lebih baik kau membaca doa supaya arwah itu tidak melakukan sesuatu yang berbahaya pada tubuh ibumu." cetus Lala dengan nafas yang berderu kencang.


Tapi disaat mereka sedang ingin membacakan doa, nampak tubuh bude Walimah merangkak ke atas atap rumahnya, dia berjalan merayap dengan posisi tubuh yang terbalik.


"Jangan hiraukan dia, kita harus tetap membaca ayat-ayat suci, supaya dia terbakar ketika mendengar nya." pekik Rania dengan membulatkan kedua matanya.


"Jika kalian membaca ayat-ayat suci lagi, aku akan mencelakai tubuh perempuan ini hihihi." seru nya mengancam dengan mata melotot.


*


*


...Terus dukung novel ini ya kak, dan jangan lupa baca karya ku yang terbaru, Dendam perempuan berjubah merah, semakin seru loh ceritanya 😉...


...Bersambung....