DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Murka buto ireng.


Bima nampak panik karena Lala akan segera melahirkan, tapi di rumah itu sedang ramai warga yang ingin mengusir Lala dari desa mereka, dengan wajah yang panik Bima menghampiri Kasmi dan mengajaknya masuk ke dalam kamar Lala, karena bayi itu akan segera lahir.


Terdengar suara Lala yang memekakan telinga, Lala menjerit sangat kencang karena bayi nya sudah keluar dan membuat seluruh tubuhnya terasa remuk sehingga dia menjerit sangat kencang.


Nampak Kasmi membopong seorang bayi yang laki-laki dengan wujud normal seperti manusia tapi sorot matanya sangat tajam.


"Mas Bima apakah bayi ini harus di adzan kan?". Tanya Kasmi yang menatap heran wajah bayi Lala.


"Tidak perlu bu, mungkin bayi ini berwujud manusia tapi di malam tertentu dia akan berubah seperti buto, karena didalam darahnya ada darah bapaknya". Tukas Bima seraya memberikan secangkir darah ayam cemani yang langsung diminumkan ke bayi laki-laki itu.


Kasmi terbelalak melihat ada seorang bayi yang baru lahir sedang meminum darah ayam cemani melalui secangkir gelas, lalu Bima menepuk pundak Kasmi dan menyadarkan nya dari lamunan untuk membersihkan badan Lala yang sudah kotor karena cairan ketuban yang berwarna hitam tadi.


Dan setelah bayi laki-laki itu meminum habis secangkir darah ayam cemani terdengar bayi itu mulai menangis normal seperti bayi manusia.


Oek oek oek...


Tangisan bayi itu terdengar sampai ruang tamu, membuat semua warga yang berada disana semakin naik pitam, mereka meminta Lala segera dibawa keluar dari dalam kamarnya, karena mereka semua ingin mengusir Lala saat itu juga.


Kegaduhan itu terdengar ditelinga mbah Sumi yang sedang terbaring di kamarnya, lalu perempuan tua itu berjalan keluar kamarnya dan menemui semua warga yang sudah berdiri dan akan membuka paksa kamar Lala.


Mbah Sumi terjatuh dan tersunhkur dibawah lantai rumahnya, kedua tangan nya menyatu dan memohon ampunan dari para warga itu.


"Tolong jangan usir anakku hu hu hu, anakku tidak salah apa-apa, dia anak yang baik hanya nasibnya saja yang buruk, aku mohon pada kalian jangan bawa anakku Lala". Ucap mbah Sumi berderai air mata dengan duduk bersimpuh di depan semua warga.


Lalu pak Jarwo membantu mbah Sumi bangkit dan memapahnya berdiri kembali, terlihat semua warga saling memandang dan tidak tega untuk mengusir Lala dari desa itu.


"Begini mbah Sumi, kami bukan nya jahat dan berbuat semena-mena, tapi kan mbah Sumi tau sendiri jika kepercayaan di desa kita itu tidak boleh dilanggar, salah satu nya ya itu kalau ada gadis yang mengandung sebelum menikah maka gadis itu harus di usir jika tidak ya di asingkan di tengah hutan". Jelas pak Bagio dengan mengusap peluh dikeningnya.


"Tapi anakku tidak melakukan perbuatan seperti itu, jadi kalian semua tidak berhak mengusirnya". Sahut mbah Sumi yang masih terisak.


"Baiklah kami tidak akan mengusirnya tapi Lala harus di asingkan di tengah hutan, dia tidak boleh keluar dari hutan itu". Seru pak Bagio seraya berjalan masuk ke dalam kamar Lala.


Terlihat oleh semua orang jika Lala baru saja melahirkan seoarang bayi yang berada disampingnya, Lala tetap terdiam dengan tatapan kosong tapi pak Bagio dan pak Erwin menyeret paksa Lala dari atas tempat tidurnya.


Setelah itu Lala berteriak kencang dan meracau tidak jelas dengan sesekali merintih kesakitan, mbah Karto dan pak Jarwo berusaha menenangkan para warga itu, tapi mereka semua tidak ada yang mau mendengarkan, lalu bayi Lala menangjs kencang karena melihat ibu nya diseret dan merintih kesakitan.


Kemudian beberapa anak buto ireng yang berada di luar rumah itu menampakan wujudnya dan membuat semua warga itu ketakutan dan melepaskan tangan Lala saat itu juga.


"Astagfirullahaladzim, makhluk menyeramkan apa itu". Pekik pak Bagio seraya melepaskan genggaman tangan nya di tangan Lala.


Sementara pak Erwin dan warga lain nya langsung lari tunggang langgang meninggalkan pak Bagio yang masih berada di rumah mbah Sumi.


"Makhluk menyeramkan apa itu". Ucap pak Bagio dengan badan yang bergetar hebat.


Kemudian setelah anak-anak buto ireng itu kembali ke alamnya mereka memberitau romo nya jika ibu dari adiknya akan di usir beberapa warga desa, nampak amarah di wajah buto ireng itu, kedua matanya membulat sempurna dengan warna semerah darah.


Buto itu bangkit dari duduknya menghilang seketika dan menghampiri satu persatu warga yang berniat mengusir Lala dari desa itu, semua warga itu telah dicelakai oleh buto ireng termasuk pak Erwin yang kini tengah terkapar di dekat sawah dan luka disekujur tubunya.


Sedangkan pak Bagio yang akan kembali ke rumahnya nampak di cegah oleh mbah Karto.


"Kau disini dulu, tunggu sampai semuanya aman". Cetus mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


"Tapi mbah saya harus pulang, saya takut berada disini, tadi saya melihat makhluk menyeramkan di kamar Lala". Sahut pak Bagio dengan keringat yang mengucur membasahi wajahnya.


"Bukankah sudah aku bilang, jika Lala sedang sakit tapi kalian semua tidak ada yang mau mendengar ucapanku, jika kau nekat pergi dari rumah ini aku tidak akan menjamin kau bisa selamat sampai ke rumahmu". Tegas mbah Karto membuat pak Bagio semakin ciut nyali nya.


"Sebenarnya ada apa to mbah, siapa makhluk menyeramkan tadi?". Tanya pak Bagio dengan mengusap peluh dikeningnya.


"Lala sudah menjadi korban keserakahan seseorang, ada yang menumbalkan nya pada makhluk gaib, seperti yang tadi sempat kau lihat, tapi aku minta tolong padamu supaya merahasiakan ini dari warga lain nya, supaya tidak ada warga yang ketakutan". Tegas mbah Karto dengan mendongakan kepalanya ke atas.


Aku mencium aroma singkong bakar, jangan-jangan buto ireng itu sedang berada disekitar sini, batin mbah Karto dengan memandang ke segala arah mencari keberadaan buto ireng.


"Cobalah kau cium bau apa ini". Seru mbah Karto memandang wajah pak Bagio yang sudah pucat pasi.


"Ba bau singkong bakar mbah". Sahut pak Bagio beringsut dibawah kolong meja.


"Keluarlah dari sana, kau akan aman selama kau didekatku, bukankah aku sudah mencegahmu untuk pergi dari sini, kau sudah membuat buto itu marah dengan berusaha mengusir Lala dari desa ini, jika kau nekat pergi dari rumah ini mungkin kau akan celaka". Cetus mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Lalu bagaimana dengan warga yang lain nya mbah, mereka sudah terlebih dulu pergi dari rumah ini". Tukas pak Bagio dengan badan gemetaran.


"Entahlah semoga mereka semua selamat". Sahut mbah Karto dengan memejamkan kedua matanya berusaha melihat dimana keberadaan buto ireng itu.


Terdengar suara langkah kaki Kasmi yang terburu-buru berjalan menghampiri mbah Karto dan memberi tau jika simboknya sedang tidak sadarkan diri di ruang tamu, dengan berjalan tergesa-gesa mbah Karto masuk ke dalam rumah mbah Sumi dan meninggalkan pak Bagio di teras rumah itu seorang diri.


Semua orang yang ada disana sedang sibuk menolong mbah Sumi dan berusaha menyadarkan nya dari pingsan, sementara itu Buto ireng yang sudah bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk mencelakai pak Bagio segera melesat menghampiri pak Bagio yang masih berada di kolong meja teras mbah Sumi.


*


*


...Maaf ya belum bisa double up lagi, Author sedang sibuk menjelang lebaran selain itu list Vote dan hadiah naiknya hanya sedikit jadi Author kurang semangat nulis nya, Maaf lahir batin ya akak semuanya 😊🙏...


...Bersambung....