
Malam itu Bima melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar Lala, kedua mata nya memandang mbah Karto yang sedang duduk bersila.
Apa yang kangmas Karto lakukan jangan-jangan dia sedang mencari tau tentang aku, batin Bima seraya mempersiapkan sesajen untuk calon bayi Lala.
Sedangkan Kasmi yang berada di depan ruang tamu nampak gelisah menunggu Lala yang akan segera melahirkan.
Plak plak plak...
Terdengar suara langkah kaki yang berlarian di depan rumah mbah Sumi, nampak Kasmi mengkerutkan keningnya karena mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlarian di depan rumahnya.
Lalu Kasmi bangkit dari duduknya berjalan dengan membuka tirai jendela nya, nampak kedua mata Kasmi terbelalak melihat ada beberapa anak kecil yang berbulu hitam dan lebat sedang berlarian di depan teras rumahnya.
"Astagfirullahaladzim". Seru Kasmi dengan membulatkan kedua mata nya.
Siapa anak-anak menyeramkan itu, kenapa mereka berada disini, batin Kasmi yang gemetaran.
Sedangkan mbah Karto yang sudah bangkit dari duduknya, nampak penasaran melihat ada seorang laki-laki muda yang ada di depan nya, pemuda itu sedang sibuk menata sesajen untuk ritual kelahiran anak buto ireng itu.
"Kau siapa Le?". Tanya mbah Karto dengan tatapan tajam.
"Saya Bima mbah, ini sesajen untuk calon jabang bayi Lala, karena begitu bayi itu lahir sesuai kebiasaan di alam buto itu mereka akan memberikan persembahan seekor ayam cemani yang akan langsung dihisap darahnya oleh bayi itu". Jawab Bima dengan menundukan kepalanya.
Aku tidak berani bertatap muka langsung dengan kangmas Karto, bagaimanapun dia mengenali sorot mataku, batin Bima didalam hatinya.
Bruuukh...
Terdengar suara keras yang mengagetkan pak Jarwo di dalam kamarnya, dengan segera pak Jarwo berlari keluar dari dalam kamarnya, ternyata Kasmi sudah jatuh pingsan di depan jendela rumah nya.
"Ya Allah dek, kau kenapa". Ucap pak Jarwo dengan menepuk-nepuk wajah Kasmi supaya dia sadar.
Dan setelah Kasmi sadar, Kasmi menceritakan pada suaminya jika di teras rumahnya ada beberapa anak kecil yang berbulu hitam dan lebat sedang berlarian disana.
"Aku takut mas, tolong usir mereka semua". Tukas Kasmi dengan suara bergetar.
"Kau masuklah ke dalam kamar, biar aku yang akan mengurusnya". Ujar pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Terlihat Kasmi melarang pak Jarwo untuk berurusan dengan hal mistis karena kesehatan nya belum sembuh benar, tapi pak Jarwo meyakinkan istrinya jika kondisinya sudah lebih baik setelah meminum ramuan obat dari mbah Karto.
Lalu pak Jarwo membaca rapalan mantra untuk menggunakan mata batin nya, dengan usaha kerasnya akhirnya pak Jarwo dapat menggunakan sedikit mata batin nya, ternyata anak kecil yang dimaksud Kasmi adalah anak-anak dari buto ireng itu, mereka semua datang ke rumah itu untuk menyambut kelahiran adiknya, sehingga mereka terlalu senang dan berlarian di depan rumah itu.
"Astagfirullah, ternyata mereka semua anak buto itu". Ucap pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Sedangkan Bima dan mbah Karto yang berada di dalam kamar Lala nampak saling terdiam dengan melakukan aktifitasnya masing-masing, nampak Lala berteriak kencang karena air ketuban nya yang berwarna hitam pekat sudah keluar dan membanjiri tempat tidurnya.
"Pak tolong panggilkan istrimu untuk membantu Lala yang akan segera melahirkan". Ujar Bima pada pak Jarwo.
"Le apakah kau sudah tau jika bayi yang akan lahir itu, akan di ambil oleh buto ireng?". Tanya mbah Karto memandang Bima yang selalu menunduk ketika mbah Karto menatap mata nya.
"Iya mbah, saya sudah tau karena buto itu berkomunikasi dengan saya disini, dia akan membawa keturunan nya kembali ke alamnya". Jawab Bima yang selalu tertunduk.
"Apakah kau juga sudah mengatakan pada keluarganya jika Lala kemungkinan akan dibawa beserta bayi nya". Cetus mbah Karto mengagetkan Kasmi yang sudah masuk ke dalam kamar Lala.
"Apa maksudmu mbah, mas Bima berkata pada kami semua jika hanya bayi Lala saja yang akan dibawa buto itu". Pekik Kasmi dengan mata berkaca-kaca.
Ternyata ketegangan di dalam rumah mbah Sumi terdengar oleh beberapa warga yang sedang berpatroli melewati rumah mbah Sumi, nampak mereka semua sangat terkejut ketika mendengar suara Kasmi yang berteriak jika bayi Lala akan dibawa buto.
"Loh tapi kan Lala belum menikah dan dia masih bersekolah bagaimana dia bisa mempunyai bayi". Tukas pak Erwin dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan-jangan dia hamil diluar nikah, ayo kita gerebek saja di rumahnya". Ajak pak Bagio pada warga lain nya.
Tok tok tok...
Terlihat semua warga itu mengetuk pintu rumah mbah Sumi dengan wajah yang nampak marah, mereka semua tidak terima jika ada warga desa nya yang melakukan tindakan tidak senonoh dan melanggar norma agama.
"Buka Kas, buka pintunya". Pekik pak Bagio dengan menggedor-gedor pintu rumah itu.
Kemudian Kasmi bergegas membuka pintu rumahnya dan kebingungan melihat kedatangan bapak-bapak itu di jam malam seperti ini.
"Ada apa ya pak, kok tumben malam-malam bertamu". Ucap Kasmi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Dimana Lala". Pekik pak Bagio dengan berkacak pinggang.
"Lala sedang sakit di kamar nya, ada apa to pak?". Tanya Kasmi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kami sudah mendengar semuanya, bukankah Lala sudah mengandung diluar nikah, dia harus segera di usir dari desa ini, jika dia tetap berada di desa ini, maka dia akan menjadi pengaruh buruk untuk anak-anak remaja yang lain nya". Jawab pak Bagio seraya berjalan mencari kamar Lala.
Sementara pak Jarwo yang mendengar kegaduhan di luar kamar Lala bergegas keluar dan menghentikan bapak-bapak itu.
"Pak tenang dulu, sepertinya bapak-bapak ini sudah salah paham, Lala tidak sedang mengandung diluar nikah pak, tolong jangan buat keributan disini, karena ibu mertua saya masih sakig di dalam kamarnya". Jelas pak Jarwo menghentikan langkah para warga.
Tapi mereka semua terlihat tidak percaya dan ingin melihat Lala langsung dengan mata kepalanya, dan mereka semua memaksa untuk melihat Lala di dalam kamarnya.
Dua orang dari bapak-bapak itu mendorong paksa pintu kamar Lala yang sudah ditutup dari dalam.
Braaak...
Pintu itu terbuka lebar dan mereka semua terkejut melihat Lala yang sedang tergeletak di atas tempat tidurnya dengan cairan berwarna hitam yang membasahi kedua kaki nya.
Terdengar mereka semua berkata jika Lala terkena kutukan karena sudah berbuat hal yang tidak senonoh sebelum menikah, lalu mbah Karto menghampiri mereka semua dan menjelaskan jika Lala sedang sakit dan tidak ada hubungan nya dengan kutukan.
"Mari bapak-bapak semua kita berbicara baik-baik jangan pakai emosi, semua masalah bisa kita selesaikan dengan kepala dingin". Cetus mbah Karto seraya duduk di bangku ruang tamu disusul warga yang lain nya.
Mereka semua nampak marah, dan mengira jika Lala sudah melanggar norma agama, terdengar pak Bagio berkata dengan nada tinggi jika Lala harus di usir dari desa Randu garut supaya tidak ada kejadian buruk yang akan menimpa warga lain nya.
Warga desa Randu garut sangat meyakink jika ada seorang gadis yang mengandung sebelum menikah, maka gadis itu akan membawa nasib buruk bagi warga lain nya, sehingga gadis itu harus di usir atau di asingkan dari warga desa.
Sementara Bima yang sedang membantu Lala melahirkan nampak gelisah dengan ucapan warga itu.
Jangan sampai warga itu berbuat yang tidak-tidak pada gadis ini, karena Ki Ageng sedo pasti akan sangat murka padaku karena mengira aku tidak becus menjaga ibu dari anaknya, batin Bima dengan wajah yang cemas.
*
*
...Yuk kak berikan dukungan Vote dan hadiahnya buat author kalau kalian ingin aku double up lagi, ditunggu ya list Vote dan hadiahnya supaya aku semangat nulisnya, yang semangat juga puasa nya di akhir Ramadhan ini bagi akak yang melaksanakan nya, Love u all 💖💞...
...Bersambung....