DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kondisi mbah Karto melemah kembali.


Terasa jari jemari bude Walimah menyentuh sesuatu yang sangat menghangatkan jiwa nya, lalu mbah Karto pun mengatakan jika itu adalah energi dari sang ibu yang berada disampingnya.


"Aku tidak bisa membuatmu melihat wujudnya, selain itu adalah permintaan ibumu sendiri, kekuatanku juga belum maksimal, karena kondisi kesehatan ku yang menurun, kemampuan ku juga berkurang, maafkan aku ya nduk hanya sebatas ini saja yang bisa ku lakukan untukmu." tukas mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Sementara itu hantu Narsih nampak begitu bersedih, dia berulang kali menyentuh tubuh anak perempuan nya, yang sudah tumbuh dewasa dengan baik.


"Syukurlah nduk kau baik-baik saja dan hidup dengan baik disini, bahkan kau telah memberikanku seorang cucu yang sangat cantik, tanpa sadar aku sudah menjaganya selama di alam gaib, dan sekarang sudah waktunya untuk ku kembali ke alam keabadian, setelah mengetahui jika kau baik-baik saja di dunia ini, aku bisa lebih tenang meninggalkanmu." seru hantu Narsih berlinang air mata.


Terlihat bude Walimah hanya menundukan kepala nya dengan wajah sendu, perempuan itu seakan tau duka yang dirasakan ibunya.


"Mbah Karto tolong bantu aku untuk melihat ibuku sekali saja huhuhu." pinta bude Walimah mengiba.


"Bukan nya aku tidak mau membantumu nduk, kekuatanku sedang melemah karena kesehatanku menurun, mungkin Jarwo yang bisa membantumu, tapi entah dimana dia saat ini." jelas mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


Dan dengan sisa kekuatan nya mbah Karto berusaha mencari dimana keberadaan pak Jarwo saat itu, ternyata pak Jarwo sedang pergi mencari Anto yang disesatkan di antara lorong dimensi gaib.


Astagfirullohaladzim ternyata Anto lebih membutuhkan bantuan Jarwo saat ini, batin mbah Karto seraya membuka kedua mata dengan nafas tersengal-sengal.


Tidak lama setelah itu mbah Karto akhirnya tumbang, tubuhnya tersungkur ke lantai, nampak beliau pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Ya Alloh gusti pak." pekik mbah Darmi mengagetkan semua orang.


Terlihat bude Walimah tercekat dan langsung membantu mbah Darmi menyadarkan mbah Karto, sementara Rania dan Lala yang berada di dalam kamar Wati, ikut terkejut dan melihat keadaan di luar kamar itu, begitu tau sesepuh desa itu tengah tergeletak di lantai, kedua gadis itu bergegas berlari keluar.


"Astagfirullohaladzim ada apa dengan mbah Karto." seru Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Ini salah bude nduk, bude yang memaksakan mbah Karto untuk memakai kekuatan nya huhuhu, maafkan aku mbah sadarlah kembali." tukas bude Walimah menangis terisak.


Lalu Rania menggunakan kekuatan batin nya, gadis itu melihat kejadian beberapa saat lalu di ruangan itu, nampak dipenglihatan nya, jika mbah Karto menceritakan sebuah rahasia besar, tentang jati diri bude Walimah yang sebenarnya, dan karena ingin menolong bude Walimah untuk membuka mata batin nya, mbah Karto membutuhkan bantuan pak Jarwo, tapi nasib berkata lain, tubuh tua mbah Karto kehabisan energi, dan tubuhnya kehilangan kekuatan, akhirnya beliau pingsan disana.


"Bude semua ini bukan salah bude, mbah Karto hanya terlalu lelah, mari kita rebahkan tubuhnya di atas sofa itu." ujar Rania pada semua orang.


Nampak mbah Darmi menenangkan bude Walimah, supaya dia sedikit bersabar, karena setelah pak Jarwo pulang, dia yang akan membantunya untuk melihat jiwa ibu kandung nya.


"Benar yang dikatakan mbah Darmi bude, Lala juga melihat ada jiwa seorang perempuan disampingmu, bahkan jiwa ini lah yang telah menolong Wati selama di alam gaib, bude yang sabar dulu ya, semoga setelah ini semua akan baik-baik saja." tukas Lala yang memperhatikan hantu Narsih, yang selalu menyebut bude Walimah sebagai anaknya.


Sudah hampir setengah jam mbah Karto tidak sadarkan diri, sampai akhirnya beliau membuka kedua matanya perlahan, beliau hanya memanggil nama Rania.


"Ra Raniiaaa... Jika aku pergi sebelum memberikanmu bekal tentang kemampuan spesial yang kau miliki, bergurulah dari Jarwo, dia tidak kalah hebatnya dariku, kau harus membantu banyak orang di desa ini, karena setelah aku tiada akan banyak sekali manusia sesat, yang akan memanfaatkan keadaan itu, untuk memasuki wilayah desa ini dan menebarkan ilmu hitam pada semua orang, aku tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi, disaat Wongso menumbalkan nyawa beberapa warga lain nya." jelas mbah Karto dengan nafas yang tersengal-sengal.


Sementara bude Walimah yang masih merasa bersalah, hanya bisa mengecup punggung tangan mbah Karto, seraya mengucapkan kata maaf berulang kali.


"Aku tidak apa-apa nduk, kau tunggu saja Jarwo datang, dia yang akan membuatmu bisa melihat wujud ibu kandungmu, aku menjadi seperti ini bukanlah karenamu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau sudah seperti anak bagiku, mana mungkin aku tega melihatmu menderita seperti ini, dan jangan lupa katakanlah segalanya pada Wati, karena Wati yang lebih dulu bertemu dengan ibu kandungmu, dan Wati belum tau jika perempuan yang selalu bersamanya di alam gaib adalah neneknya, kau harus menjelaskan semua padanya nduk." cetus mbah Karto dengan wajah sendu.


Tidak lama setelah itu Wati keluar dari kamarnya, dia berjalan tertatih menghampiri ibu nya.


"Bu kenapa perempuan itu ada disini." ucap Wati dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Narsih.


Tanpa menjawab pertanyaan Wati, bude Walimah nampak mengkerutkan kening nya, seraya memandang ke sudut ruangan.


Apakah yang Wati maksud adalah arwah ibuku, apakah anakku sekarang dapat melihat makhluk tak kasat mata seperti Rania dan juga Lala, batin bude Walimah didalam hatinya.


Setelah itu Rania pun menjawab, jika perempuan itu ingin memastikan keadaan nya baik-baik saja.


"Bukankah dia yang menolongmu Wat, apakah kau tidak suka dengan kehadiran nya." tukas Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Bukan begitu Ran, justru aku sangat bersyukur karena dia mau menolongku, tapi jika aku ingat-ingat kembali, dia itu adalah hantu Ran." seru Wati dengan menundukan kepalanya.


Wuussh...


Nampak hantu Narsih melesat mendekati Wati, kedua matanya berkaca-kaca menatap haru wajah Wati, hantu Narsih berusaha memeluk tubuh Wati, tapi usahanya selalu gagal dan menembus tubuh Wati.


"Apa yang kau lakukan hah, apa kau ingin merasuki tubuhku." pekik Wati dengan membulatkan kedua mata nya.


Kemudian Wati berlari menghampiri mbah Karto, dan meminta pertolongan pada sesepuh desa itu, Wati mengira jika hantu Narsih berusaha merasuki tubuhnya, setelah itu mbah Karto mengatakan pada Wati, jika ada yang harus dia bicarakan dengan ibu nya.


"Kau dan ibumu pergilah ke kamar berdua, kalian perlu berbicara empat mata, supaya kau tau semuanya nduk, karena sekarang mata batin mu sudah terbuka sendiri, dan sampai seterusnya kau akan melihat berbagai bentuk makhluk gaib, tapi kau tidak perlu takut pada mereka, karena tidak semua makhluk gaib itu jahat, percayalah padaku tenangkanlah hatimu, dan lekas berbicaralah dengan ibumu, dan kau akan tau kenapa hantu perempuan itu masih berada disini." cetus mbah Karto menasehati Wati.


*


*


...Yuk berikan Vote dan hadiahnya, dukungan dari kalian sangat membantu Author untuk semangat menulis, terima kasih 😉...


...Bersambung....