DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Malam yang penuh teror!!!


"Tenanglah dulu nduk, ini diminum dulu air nya". Ucap pak haji Faruk seraga memberikan segelas air putih yang bu haji bawa dari dapur.


Lalu Rania meminum air putih itu dengan sesegukan, dia sangat terpukul dengan semua bencana yang terjadi saat ini.


"Pak haji mbah Karto memintamu untuk melakukan pengajian akbar untuk membersihkan semua aura gelap yang melingkupi desa ini". Jelas Rania dengan mata sembab nya.


"Aku mengerti nduk, lalu apakah kau tau apa yang akan terjadi setelah nya?". Seru pak haji Faruk membulatkan kedua mata nya.


"Rania tidak tau pak haji". Ucap Rania dengan menundukan kepala nya.


"Begini nduk masalah ini tidak sesederhana itu, seperti yang kau bilang jiwa mbah Karto dibawa pergi oleh penguasa gaib, bahkan saat ini Ari masih tidak sadarkan diri di rumah mbah Karto itu artinya jiwa Ari pun tidak tau sedang berada dimana dan hanya mbah Karto lah yang tau, dan jika aku melakukan pengajian akbar di desa ini semua nya memang akan bersih dari aura gaib tapi bagaimana nasib mbah Karto dan juga Ari yang jiwa nya sudah pergi meninggalkan raga nya, konsekuensi nya mereka berdua tidak akan dapat memasuki raga nya kembali karena semua aura gaib telah bersih dan desa ini akan terpagari dari aura gaib yang berasal dari luar desa ini, apakah kita akan mengorbankan jiwa mbah Karto dan juga Ari demi keselamatan semua warga desa Rawa belatung?". Tanya pak haji Faruk dengan memijat pangkal hidung nya.


Nampak guratan wajah cemas dari Rania dan Aldo mereka berdua saling memandang dengan menghwmbuskan nafas yang panjang, Rania mengusao rambut nya kasar karena dia sangat bimbang saat itu.


"Sabar Ran... Sekarang bukan waktu nya untuk frustasi, lebih baik kita mencari jalan keluar yang terbaik". Ucap Aldo menenangkan Rania.


"Begini saja nduk, besok aku akan pergi menemui guru besarku untuk meminta jalan keluar yang terbaik, dan mintalah pada semua warga desa untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, siapa tau Allah akan mengirimkan seseorang untuk membantu kita memecahkan masalah yang rumit ini". Tukas pak haji Faruk dengan menepum pundak Rania dan juga Aldo.


Setelah itu pak haji Faruk mengajak Rania dan Aldo untuk menemui semua warga dan melakukan shalat tahajud bersama di masjid.


Lalu mereka bertiga melangkahkan kaki nya menyusuri jalanan desa yang terlihat sangat suram tidak seperti malam-malam sebelumnya, dari udara yang tertiup angin tercium bau gosong akibat kebakaran dibeberapa tempat.


Nampak pak haji Faruk hanya bisa menghela nafas panjang dengan memainkan tasbih yang berada di tangan kanan nya.


"Assalamuallaikum pak haji". Sapa pak Tukul yang baru saja membantu memandamkan api di rumah simbah Parti.


"Waalaikumsallam...". Sahut pak haji Faruk dengan senyum ramah nya.


"Pak haji bagaimana ini keadaan di desa kita sangat menghawatirkan, banyak sawah dab rumah warga yang terbakar". Tukas pak Tukul dengan wajah cemas nya.


"Bagaimana dengan semua keluarga ku pak, apakah rumah kami hangus terbakar". Celetuk Rania dengan wajah sendu nya.


"Semua keluargamu baik-baik saja nduk, hanya bagian samping rumah saja yang terbakar, untung bude mu sudah memadamkan api menggunakan selang air terlebih dulu jika tidak mungkin akan merembet ke semua bangunan rumah simbahmu". Sahut pak Tukul dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Syukurlah jika mereka semua baik-baik saja, mari pak Tukul ikut saya untuk melakukan shalat tahajud dan doa bersama di masjid". Ajak pak haji Faruk.


"Tapi pak saya belum tertidur bagaimana saya akan melakukan shalat tahajud". Ucap pak Tukul dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ya sudah pak Tukul bersihkan diri dulu ikut berdoa bersama di masjid saja sekalian shalat subuh juga". Tukas pak haji Faruk.


"Ya sudah pak haji saya permisi dulu". Tukas pak Tukul seraya berjalan kembali ke rumah nya.


Setelah itu pak haji Faruk bersama Rania dan Aldo bergegas ke rumah simbah Parti yang masih ramai warga membantu membersihkan sisa-sisa kebakaran.


"Assalamuallaikum". Seru pak haji Faruk.


Terlihat beberapa warga sangat kelelahan, karena sebagian dari mereka masih terjaga sepanjang malam ini, nampak Rania yang sangat hawatir dengan kondisi simbahnya menghambur kepelukan simbah Parti yang sudah tersadar dari pingsan nya.


"Simbah baik-baik saja kan, Rania takut simbah kenapa-kenapa huhuhu...". Ucap Rania berderai air mata dengan memeluk erat simbah nya.


"Simbah tidak kenapa-kenapa nduk, sudah jangan menangis lagi cah ayu". Sahut simbah Parti seraya mengusap lembut air mata cucu perempuan nya.


"Kau tidak menghawatirkanku juga Rania". Seru Wati yang mengerucutkan bibir nya dengan wajah yang belang-belang akibat asap hangus dari kebakaran tadi.


Kemudian Rania membalikan badan nya memandang sepupu nya yang wajah nya belang-belang seperti hewan zebra, nampak Rania tersenyum lepas untuk sesaat.


"Kenapa kau tertawa melihatku Ran, kau ini tega sekali melihatku menderita". Tukas Wati mengaitkan kedua alis matanya.


"Maaf Wati, aku tidak ada maksud seperti itu lebih baik kau cuci muka dulu setelah ini kita akan ke masjid untuk shalat tahajud dan berdoa bersama". Ucap Rania dengan senyum manis nya.


Kemudian beberapa warga yang sudah terbangun dari tidurnya melakukan shalat tahajud dan melakukan doa bersama di masjid, sedangkan beberapa warga yang lain nya ada yang pulang ke rumah nya dan ada juga yang masih sibuk membantu warga lain nya yang menjadi korban kebakaran.


Disaat mereka semua melakukan doa bersama, datanglah angin kencang yang menumbangkan beberapa pohon disekitar masjid.


"Astagfirullah sepertinya makhluk gaib itu kembali melakukan perbuatan buruknya".Seru pak haji Faruk dengan mengusap peluh dikening nya.


Malam itu waktu terasa sangat panjang untuk dilalui semua warga desa Rawa belatung, sayu-sayu terdengar suara yang mendesis dari luar masjid.


Ternyata diluar sana ada sesosok siluman ular sedang berdiri mengambang dengan membukatkan kedua mata nya.


"Kembalikan suamiku, jika tidak kalian semua akan mengalami hal buruk sama seperti tua bangka sesepuh desa kalian itu". Pekik Sukma melati dari depan masjid karena dia tidak dapat memasuki bangunan masjid itu.


Ya Allah apakah yang siluman itu maksud adalah mbah Karto, terdengar bisik-bisik warga membicarakan sesepuh desa mereka.


Sedangkan Rania yang melihat ketakutan di mata warga desa berusaha menenangkan mereka dengan mengatakan jika saat ini mbah Karto sedang berada di rumah nya untuk melakukan ritual, tapi mereka tidak begitu saja percaya dengan ucapan Rania.


"Sudahlah bapak-bapak ibu-ibu mari kita panjatkan doa memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah supaya makhluk gaib sepertinya tidak dapat mencelakai kita semua". Seru pak haji Faruk dengan duduk bersila di lantai masjid itu.


Kemudian semua warga terdengar melantunkan ayat-ayat suci yang dipimpin oleh pak haji Faruk, mereka membacakan doa untuk mengusir jin dan makhluk gaib lain nya.


A‘udzu bi wajhillahil karimi wa bi kalimatillahit tammatillati la yujawizuhunna barrun wa la fajirun min syarri ma yanzzilu minassama’i, wa min syarri ma ya‘ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min fitanillaili wannahari, wa min thawariqillaili wannahari, illa thariqan yathruqu bi khairin, ya rahman.


"Aaargggh panaaaass... Berhentilah kalian semua dasar manusia laknat, lihatlah aku akan kembali lagi untuk membalaskan dendamku, dan sebelum kalian semua mengembalikan suamiku aku tidak akan berhenti untuk mengganggu semua warga desa ini". Gertak Sukma melati seraya menghilang karena badan nya kepanasan mendengar lantunan ayat-ayat suci.


*


*


...Bersambung....