
Setelah menunggu sampai sore hari, warung bakso pak Rahmat akhirnya tutup, lalu pak Rahmat menanyakan pada Pardi apakah dia mempunyai teman yang ingin bekerja di warung bakso nya.
"Kau harus mencari teman untuk membantumu di warung Di, karena mulai besok dan seterusnya warung akan tetap ramai, dan aku tidak sanggup jika membantu setiap hari". Jelas pak Rahmat dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Baiklah pak, aku akan menghubungi teman-temanku siapa tau mereka sedang membutuhkan pekerjaan.
Terlihat Bambang membulatkan kedua matanya memandang pak Rahmat dengan penuh amarah, lalu Evana mengatakan pada Bambang jika tidak ada guna nya Bambang menyimpan dendam pada pak Rahmat, karena itu hanya akan menghambat perjalanan nya menuju alam keabadian.
"Kau hanya perlu menguak penyebab kematianmu dan dimana jazadmu berada, jangan kau simpan dendammu pada manusia serakah itu, karena karma buruk pasti akan menimpanya". Tukas Evana pada Bambang yang menundukan kepalanya.
"Aku memang sangat membenci pak Rahmat, tapi aku sadar dendam hanya akan membuatku semakin sengsara". Ucap Bambang dengan wajah sendu.
Kemudian Bambang melesat mengikuti Pardi yang akan kembali ke rumah mess nya, nampak Evana dan Jansen melesat mengikuti Bambang, sedangkan Petter yang merindukan Rania melesat kembali ke rumah Lala.
Sesampainya di rumah mess itu, Pardi bersiap mandi dan bersantai di kamarnya, nampak Bambang berdiri mengambang disamping Pardi.
Kenapa aku merinding begini ya, jangan-jangan hantu Bambang ada disini, batin Pardi dengan mengusap tengkuknya.
Kemudian Pardi bangkit dari duduknya dan memandang ke segala arah, wajah Pardi berubah ketakutan dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
"Mbang maafkan aku, tapi kau meninggal bukan karena aku, karena ketika aku datang kau sudah tidak bernafas, dan aku terpaksan menguburkanmu disana karena aku tidak mau berurusan dengan polisi". Gumam Pardi pada dirinya sendiri.
Lalu Bambang melesat mendekati Pardi, dan mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar oleh Pardi.
"Kembalikan jazadku pada keluargaku". Bisik Bambang ditelinga Pardi.
Tapi hanya hawa dingin saja yang terasa di daun telinga Pardi, dan Pardi pun mengusap telinga nya karena bulu-bulu halus di tubuhnya mulai meremang.
"Ampun Mbang jangan menakutiku lagi, aku tau kau ada disini". Seru Pardi seraya melompat ke atas tempat tidurnya.
Kemudian Pardi menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut, karena dia sangat ketakutan dan membayangkan jika tiba-tiba hantu Bambang datang dan menampakan dirinya, dan tanpa terasa Pardi akhirnya terlelap didalam tidurnya, nampak Evana meminta Bambang untuk segera memasuki alam bawah sadar Pardi.
"Bersiaplah kami akan membantumu memasuki mimpi Pardi". Jelas Evana seraya mendorong jiwa tanpa raga Bambang memasuki alam bawah sadar Pardi.
Wuuush...
Seketika Bambang sudah ada di alam mimpi Pardi, lalu Bambang menyapa Pardi yang nampak terkejut karena kehadiran Bambang.
"Mbang kau masih hidup to, syukurlah kau masih ada disini". Ucap Pardi didalam mimpinya.
"Pardi temanku, aku memang sudah tiada karena pak Rahmat sengaja menumbalkanku pada sesembahan nya, kau harus bersyukur karena pak Rahmat tidak berhasil menumbalkanmu malam itu, padahal malam itu seharusnya kau yang menjadi tumbal untuk penglaris warung bakso pak Rahmat, tapi aku terlalu ingin tau dengan apa yang pak Rahmat sembunyikan di gudang warung itu, setelah itu aku membuka pintu gudang yang ternyata ada pocong sesembahan pak Rahmat yang sedang menikmati sesajen yang disiapkan pak Rahmat, lalu pocong itu menyerangku dan akhirnya aku bernasib buruk dan meninggal disana". Jelas Bambang di dalam mimpi Pardi.
"Astaga Mbang, apakah kau yakin jika pak Rahmat memakai penglaris untuk usahanya". Seru Pardi tidak percaya.
Kemudian Bambang mengatakan pada Pardi supaya dia lekas berhenti bekerja dari warung bakso pak Rahmat, karena cepat atau lambat nyawa Pardi bisa dalam bahaya.
"Dan satu lagi Di, tolong kuburkan jazadku dengan layak, sampaikan pada keluargaku bahwa aku sudah tiada". Tukas Bambang.
Nampak Pardi semakin ketakutan dan berusaha bangun dari dalam mimpinya, sebelum Bambang menyelesaikan pembicaraan nya.
Nampak Pardi terbangun dari mimpinya dengan nafas yang terdengal-sengal dan keringat dingin yang bercucuran.
Terlihat Bambang melesat mendekati Pardi yang sedang berdiri mematung dengan nafas yang tersengal-sengal, lalu dengan bantuan Evana dan Jansen, Bambang menampakan wujudnya dihadapan Pardi.
"Aaaa setaan". Pekik Pardi seraya berlari meninggalkan rumah messnya.
Pardi berlari tak tentu arah dan berhenti tepat di depan rumah kosong, dan tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Plaaak...
"Kau sedang apa Di?". Tanya pak Rahmat yang mengikuti Pardi kesana.
"Astaga pak, kau mengagetkanku saja, ta tadi ada hantu Bambang pak". Jelas Pardi dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Kau pelan-pelan saja Di kalau ngomong, lagipula mana mungkin Bambang menjadi hantu". Tegas pak Rahmat dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Aku berkata yang sebenarnya pak, tadi aku bertemu Bambang didalam mimpiku, dan setelah terbangun dari tidur aku malah melihat wujudnya dengan mata kepalaku sendiri". Seru Pardi dengan wajah yang ketakutan.
"Ayo kembali ke mess kita bicara disana saja". Ajak pak Rahmat di atas sepeda motornya.
Kemudian keduanya menaiki sepeda motor pak Rahmat, tapi ditengah perjalanan motor itu mogok dan berhenti tiba-tiba.
"Kok berhenti pak?". Tanya Pardi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Entahlah Di, padahal kan ini motor baru". Jawab pak Rahmat dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah itu Pardi turun dari atas sepeda motor, dan membalikan badan nya, nampak dibelakangnya ada sesosok hantu perempuan yang sedang berdiri mengambang dengan memegangi jok belakang motor pak Rahmat.
"Se se setaan". Seru Pardi lari tunggang langgang meninggalkan juragan nya seorang diri.
Dasar penakut motor berhenti begitu saja bukan berarti ada setan disini, batin pak Rahmat didalam hatinya.
Dan setelah itu pak Rahmat memandang ke belakang motornya dari spion kaca motornya, nampak didalam kaca spion itu ada sesosok hantu perempuan londo tengah menyeringai padanya.
Dengan langkah seribu pak Rahmat berlari meninggalkan sepeda motornya begitu saja, dan dibelakangnya sosok hantu perempuan tadi tengah melesat mengikutinya dan berusaha mencekik lehernya, tapi nasib baik sedang berpihak padanya, terdengar suara adzan dari masjid sekitar yang membuat hantu perempuan itu kepanasan dan menghilang begitu saja.
Nampak pak Rahmat menghembuskan nafasnya panjang, dia sangat bersyukur karena hantu perempuan tadi sudah menghilang, dengan begitu pak Rahmat bisa mengambil sepeda motornya yang dia tinggalkan begitu saja.
Sedangkan Pardi yang kelelahan berlari nampak berhenti di depan masjid, dan dia nampak menyesali semua perbuatan nya pada Bambang.
Pardi melangkahkan kakinya memasuki area masjid, dan dia bersiap mengambil air wudhu.
Aku harus lebih sering beribadah supaya Alloh mengampuni dosaku, karena telah menguburkan Bambang dengan tidak layak, batin Pardi didalam hatinya.
*
*
...Bersambung....