DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Keributan saat melayat.


Kemudian Harto dan pak Dahlan pergi malam itu juga mengendarai sepeda motor nya menuju ke arah kota, ternyata di tengah perjalanan mereka di hentikan oleh sesosok kuntilanak yang tertawa cekikikan hingga membuat telinga kedua nya berdengung.


Lalu Harto menghentikan laju sepeda motor nya di tepi jalan yang sangat sepi.


"Aduh kang telingaku sakit sekali". Seru Harto memegangi kedua telinga nya.


"Te telingamu Har, keluar darah nya". Ucap pak Dahlan terbata bata.


Nampak bu Jamilah menertawakan kedua nya dari atas pohon mangga, Hihihi... suara tawa nya begitu memekakan telinga.


"Astaga". Seru pak Dahlan mengusal dada nya.


Terlihat pak Dahlan membacakan ayat ayat suci dengan menutup kedua mata nya, setelah itu suara tawa kuntilanak itu sudah menghilang.


"Har bukankah itu tadi seperti wajah nya bu Jamilah ya?". Tanya pak Dahlan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Ee iya kang". Jawab Harto yang masih merasakan sakit di telinga nya.


"Lho kok bisa bu Jamilah menjadi hantu to Har, aku jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi". Tukas pak Dahlan yang membantu Harto membersihkan darah yang keluar dari kedua telinga nya.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali, tapi kini pak Dahlan yang mengendarai sepeda motor nya.


Disepanjang perjalanan nampak pak Dahlan berpikir kenapa bu Jamilah bisa menjadi hantu seperti itu, tapi dia tidak dapat menemukan jawaban nya.


"Pak beli peralatan buat jenazah satu paket ya". Ucap Harto mengagetkan lamunan pak Dahlan.


Eh iya aku sudah sampai di kota ya, batin pak Dahlan didalam hati nya.


Karena mereka sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan, mereka berdua memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan nya menuju rumah bu Ani.


Sesampainya di rumah duka, pak Dahlan menceritakan pada pak haji Faruk jika dia bertemu dengan hantu bu Jamilah yang sekarang telah menjadi hantu kuntilanak.


Nampak wajah pak haji sangat terkejut mendengar ucapan pak Dahlan.


"Kita bicarakan lagi setelah urusan pemakaman pak Slamet selesai Lan, aku minta kau jangan mengatakan hal ini pada siapapun, aku tidak mau membuat semua orang cemas". Pak haji Faruk berjalan meninggalkan pak Dahlan yang masih duduk dengan nafas yang tersengal sengal.


Malam semakin larut banyak warga yang bermalam menununggui jenazah pak Slamet, samar samar mereka membicarakan kondisi jenazah pak Slamet yang berbau gosong sampai tercium keluar rumah nya.


"Aku tidak menyangka jika pak Slamet akan meninggal dengan cara seperti ini". Ujar pak Budi menatap wajah pak Eko yang sedang melotot memandang ke sebuah pekarangan kosong.


Karena pak Budi penasaran dengan apa yang dilihat pak Eko, dia pun ikut melihat ke arah pekarangan itu.


"Kuntilanak". Pekik pak Budi membuyarkan rombongan warga yang sedang melayat malam itu.


Semua orang berhamburan tidak tentu arah setelah melihat penampakan kuntilanak bermata merah melotot ke arah mereka semua.


Nampak pak haji Faruk tergesa gesa keluar dari rumah bu Ani, untuk melihat apa yanh sebenarnya terjadi.


Hihihihi...


Cekikikan kuntilanak itu memekakan telinga semua orang, pak haji terkejut melihat kuntilanak yang sedang tertawa itu adalah hantu bu Jamilah.


"Astagfirullah". Ucap pak haji yang tidak menyangka jika ternyata cerita pak Dahlan benar tentang bu Jamilah yang menjadi hantu.


Kemudian pak haji Faruk membacakan lantunan ayat suci yang membuat kuntilanak itu kepanasan dan menghilang di kegelapan malam.


"Pak haji apa yang sebenarnya terjadi di desa Rawa belatung ini, setelah kematian yang beruntun sekarang ada lagi bu Jamilah yang menjadi hantu". Seru pak Budi yang ketakutan dengan berbagai hal gaib yang terjadi saat itu.


"Hanya Tuhan yang tau ada apa sebenarnya, untuk hal gaib semacam ini hanya mbah Karto yang tau penyebabnya lebih baik kalian bertanya padanya". Tukas pak haji Faruk seraya berjalan kedalam rumah bu Ani.


"Kalau begitu kita tunggu beliau kembali, mari kita membaca ayat suci didalam rumah saja supaya tidak ada gangguan dari makhlus gaib lagi". Pinta pak haji Faruk yang duduk di lantai menyilangkan kedua kaki nya.


Terlihat wajah Harto sangag cemas mengetahu jika semua orang sudah melihat hantu bu Jamilah, dia memikirkan nasib mbakyu nya yang sekarang sudah menjanda ditinggal mati oleh suami nya.


Tiba tiba bu Ani berteriak didalam kamarnya membuat semua orang yang ada disana terkejut.


Bu Ani berteriak jika suami nya pasti sudah dibunuh oleh hantu bu Jamilah, kemudian Harto berlari menghampiri mbakyu nya.


"Mbakyu tenang lah jangan berteriak seperti itu, nanti semua orang akan curiga padamu". Bisik Harto di telinga bu Ani.


"Hu hu hu... mas Slamet meninggal pasti karena ulah kuntilanak itu Har". Ucap bu Ani dengan berlinang air mata.


"Aku mengerti mbakyu tapi kau jangan membuat kegaduhan saat ini, kasihan jenazah mas Slamet". Jelas Harto menenangkan mbakyu nya yang masih meneteskan air mata nya.


Setelah bu Ani tenang Harto berkumpul bersama rombongan bapak bapak yang sedang mengaji didepan jenazah pak Slamet.


Beberapa warga memilih untuk kembali ke rumah nya karena mereka merasa takut setelah melihat kuntilanak bu Jamilah.


Sedangkan Anto yang masih terjaga didepan teras rumah nya menyapa rombongan warga yang baru saja keluar dari rumah bu Ani.


"Mampir pak". Seru Anto dengan mengangkat cangkir berisi kopi hitam.


Terlihat semua warga menolak permintaan Anto dengan wajah ketakutan.


Lho kenapa wajah mereka berubah ketakutan saat aku meminta mereka untuk mampir, batin Anto didalam hati nya.


"Kami langsung pulang saja To, terima kasih". Sahut salah satu dari warga yang bergegas meninggalkan Anto yang masih berdiri ditempat nya.


Terdengar oleh Anto jika beberapa warga itu membicarakan ibu nya yang sekarang menjadi kuntilanak, membuat Anto jadi kesal dan berlari menyusul rombongan warga itu.


"Pak tunggu dulu". Pekik Anto menghentikan langkah warga.


"Ada apa To?". Tanya pak Budi memandangi wajah Anto yang terlihat marah.


"Pak barusan aku mendengar pembicaraan kalian tentang ibuku, kalian mengatakan jika ibuku menjadi kuntilanak, apa maksud kalian berbicara seperti itu tentang ibuku". Jawab Anto dengan nada tinggi.


"Kami tidak berbohong To, baru saja hantu ibu mu mendatangi rombongan pelayat dirumah bu Ani, tatapan matanya menakutkan To". Seru pak Rudi dengan memegangi belakang tengkuk nya.


"Kalian jangan asal bicara pak, ibuku sudah tenang di alam sana". Pekik Anto dengan membulatkan kedua mata nya.


Kemudian pak Budi menenangkan Anto dan menjelaskan jika apa yang mereka lihat benar benar nyata karena pak haji Faruk juga melihat sendiri hantu ibu nya yang sekarang menjadi kuntilanak.


Tanpa bisa menjawab cerita pak Budi, Anto hanya terdiam membisu ditempat nya berdiri, pak Budi menenangkan Anto yang terlihat sangat terkejut itu dan mengantarnya ke rumah bu Ani supaya dia dapat bertanya pada pak haji Faruk tentang kebenaran jika ibu nya sekarang menjadi kuntilanak.


Anto berjalan gontai menyusuri jalanan di desa nya, langkah nya semakin berat membayangkan jika ucapan para warga itu benar dia tidak dapat memberitahu mas nya yang masih sangat terguncang setelah kematian istri nya.


Sesampainya di rumah bu Ani terlihat Anto menemui pak haji Faruk dan menanyakan tentang ibu nya yang sekarang menjadi hantu itu.


Sementara pak haji Faruk yang masih terdiam dengan menghembuskan nafas yang dalam tidak dapat berkata apa apa lagi karena situasi di desa itu sedang sangat kacau dengan berbagai masalah gaib yang ada.


*


*


...Bersambung....