
Pak Jarwo berusaha menembus mata batin nya, mencari tau siapa makhluk gaib yang menyusup masuk kesana, tapi lagi-lagi fokus nya terhalang, karena pak haji Faruk meminta mereka menggotong jenazah Ari ke dalam, untuk segera dikafani dan dikuburkan secepatnya, nampak Sekar yang sedang menyamar menjadi manusia, menyapa Lala dan meminta bantuan nya.
"Mbak aku minta tolong ya, naikan belanjaan yang ku bawa itu ke atas sepeda motor ku." ucap Sekar yang sedang menyamar.
Dan tanpa curiga Lala pun mengikuti Sekar yang menjelma menjadi perempuan paruh baya, mereka berjalan agak menjauh dari rumah duka itu, sementara Rania yang tadi mengambilkan minum untuk mbah Karto, nampak kebingungan mencari keberadaan Lala.
"Loh Wat kemana Lala kok tidak ada di depan?." tanya Rania pada Wati yang sedang menemani mbah Karto istirahat di dalam sebuah ruangan.
"Tadi dia di luar sana kok Ran, mungkin dia menemui pak Jarwo." jawab Wati yang sibuk memberikan obat-obatan untuk mbah Karto.
Sementara Lala yang sedang mengikuti perempuan paruh baya itu, di ajak berjalan ke sebuah kebun yang sepi, dan disana perempuan itu merubah wujudnya menjadi Sekar, terlihat Lala sangat terkejut dan membulatkan kedua mata nya, kaki nya melangkah mundur ke belakang, dengan nafas yang berderu kencang.
"Mbakyu Sekar... Apa yang kau lakukan disini." seru Lala dengan wajah cemas.
"Apa kabarmu La, sudah lama kita tidak bertemu, apakah kau masih merindukan kangmas Elang?." tanya Sekar berdiri mengambang dihadapan Lala.
"Maksud mbakyu apa, aku tidak pernah berhubungan lagi dengan kangmas Elang, bukankah kalian bersama di alam gaib, aku tidak pernah mengusik kehidupan kalian, jadi tolong mbakyu Sekar jangan ganggu kehidupanku lagi." jawab Lala dengan mengusap peluh dikening nya.
"Tapi kangmas Elang masih memikirkanmu, dan menyebut namamu hampir setiap waktu, kau harus membuatnya benci padamu, meski aku tidak bisa menyakitimu, tapi aku bisa menyakiti seseorang yang berada didekatmu, karena itu lah aku datang kesini untuk memperingatkanmu, jika suatu saat nanti kangmas Elang datang mencarimu, katakan padanya jika kau sangat membencinya, dan minta dia untuk melupakanmu, jika kau tidak melakukan nya, akan ku celakai semua orang yang ada didekatmu La, camkan ucapanku baik-baik." cetus Sekar dengan membulatkan kedua mata nya.
Apa yang harus aku lakukan jika kangmas Elang mendatangiku lagi, aku tidak mungkin sanggup mengatakan sesuatu yang dapat menyakitinya, tapi jika aku tidak menuruti ucapan mbakyu Sekar, dia pasti akan mencelakai orang-orang yang tidak bersalah, batin Lala didalam hati nya resah.
"Katakan padaku apa pilihanmu." seru Sekar menatap tajam pada Lala.
Nampak Lala hanya terdiam dengan menelan ludah nya kasar, dia berbicara dengan terbata-bata menyetujui perkataan Sekar.
"Baiklah mbakyu jika kangmas Elang datang menemuiku, aku akan mengatakan padanya jika aku tidak menginginkan nya lagi, tapi tolong jangan sakiti siapapun, dan jangan kau usik anakku Senopati, biarkan dia berbahagia di alam nya bersama keluarga nya yang lain." ucap Lala dengan berlinang air mata.
Terlihat Sekar hanya menyeringai seraya melesat pergi, perempuan gaib itu meninggalkan Lala yang masih terpaku menangisi keputusan nya.
Aku terpaksa menyetujui keinginan mbakyu Sekar, maafkan aku kangmas Elang huhuhu, gumam Lala pada dirinya sendiri dengan air mata yang berlinang.
Sedangkan Rania yang berada di rumah duka, nampak menggunakan mata batin nya untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum Lala menghilang, dan nampak dipenglihatan Rania, jika Lala pergi dengan seorang perempuan, dan ternyata perempuan itu adalah sosok makhluk gaib yang sengaja membawa Lala pergi, kemudian Rania membuka kedua mata nya dan melihat ke segala arah, dia merasakan hawa dingin yang menerpa wajah nya, ternyata sahabat hantu nya Petter telah kembali, Petter yang pergi bersama kedua orang tua nya memutuskan untuk melihat keadaan sahabat nya itu.
Petter kau sudah kembali, batin Rania dengan tersenyum bahagia.
Nampak Petter membisikan pada Rania, jika Lala saat ini sedang berada di kebun kosong, dia menangis seorang diri disana.
Astagfirullahaladzim aku harus bergegas menemukan Lala, batin Rania seraya melangkahkan kaki nua pergi.
Nampak di rumah itu, jenazah Ari akan segera dikuburkan, beberapa warga membantu mengangkat keranda mayat, tapi tidak ada yang kuat mengangkat keranda itu.
"Pak haji keranda ini berat sekali, kami berenam tidak sanggup menggotong nya." seru pak Dahlan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Terlihat semua hanya salibg memandang, mereka semua enggan mendekati keranda jenazah itu, karena bau busuk dari jazad Ari sangat mengganggu pernafasan mereka.
Kemudian mbah Karto berjalan tertatih dengan dipapah Wati, beliau mengatakan pada semua warga desa itu, jika mereka harus segera membantu menguburkan jenazah Ari, sebelum ada kejadian janggal yang lain nya, dan dengan terpaksa beberapa orang lain nya membantu menggotong keranda itu, tapi sepuluh orang itu tetap tidak dapat mengangkat keranda yang berisi jenazah Ari.
"Kami tidak sanggup mbah, seperti nya jenazah ini tidak ingin dikuburkan." seru salah satu warga itu.
Kemudian pak haji Faruk membacakan ayat-ayat suci, memanjatkan doa pada Alloh supaya proses pemakaman Ari dapat berjalan lancar, karena seperti nya ada yang menghalangi proses pemakaman hari itu.
Lalu pak Jarwo melihat melalui mata batin nya, ternyata sosok mantan istri Ari yang sengaja membuat jenazah Ari susah untuk dikuburkan, Sukma melati tidak rela menerima kenyataan, jika Ari sudah tiada dan jiwa nya tidak diketahui ada dimana.
Lalu pak Jarwo pun melangkahkan kaki nya, menuju sebuah ruangan seraya membaca mantra-mantra, untuk manggil sosok Sukma ke hadapan nya.
Iki panglengketan, iki dongane kang winaca."Bismillahir rahmanir rahim. Nuk muket sang seda muket, nuk lenyep sang seda lenyep ket muket-ku purbaning Allah.
Tidak berselang lama datanglah sesosok perempuan cantik yang mengenakan baju khas jawa, dia tertunduk pilu dengan berlinang air mata.
"Kenapa kalian ingin menguburkan raga lelaki yang ku cintai, aku masih berusaha mencari keberadaan jiwa nya, tapi kalian semua dengan tega ingin menguburkan nya." pekik Sukma melati penuh kesedihan.
"Kau sudah salah sangka nyai, raga Ari sudah tidak bernyawa, setelah lima hari jiwa nya tidak bersemayam didalam raga nya, semua organ tubuh nya mengalami kerusakan, dan dia tidak dapat bertahan hidup tanpa jiwa nya, karena detak jantung Ari sudah berhenti, kami semua harus menguburkan nya dengan keyakinan kami, tolong jangan ganggu lagi, jika tidak kau akan ikut musnah dengan bacaan ayat-ayat suci Allah." tukas pak Jarwo menatap tajam pada Sukma melati.
"Lebih baik aku musnah dengan kepergian lelaki yang ku cintai." srru Sukma melati dengan membulatkan kedua mata nya.
Tapi ditengah pembicaraan itu datanglah bayangan hitam, yang melesat cepat membawa sosok Sukma melati pergi bersamanya.
Wuush...
Hanya sekedipan mata saja sosok gaib itu sudah menghilang, lalu pak Jarwo menghembuskan nafasnya panjang, seraya berjalan menghampiri semua orang di ruang tamu.
"Mari bapak-bapak silahkan di angkat lagi keranda nya, pertama-tama diawali dengan bacaan basmalah terlebih dulu." ucap pak Jarwo dengan mengusap peluh dikening nya.
Setelah itu nampak mereka menggotong keranda jenazah itu dengan mudah, mereka semua bergegas menguburkan jenazah Ari, sebelum ada kejadian janggal yang lain nya.
*
*
...Yuk mampir baca ke novel horor Author yang terbaru, simak terus kelanjutan cerita nya ya 😉...
...Bersambung....