
"Ada apa nduk kenapa kau berlari tanpa alas kaki, lihatlah telapak kaki mu terluka". Seru pak Sapri dengan wajah cemas nya.
"Pak tolong rumah simbahku kebakaran dan saat ini aku tidak tau bagaimana kondisi mereka semua". Ucap Rania terisak dengan menahan perih ditelapak kaki nya.
Dan setelah mendengar ucapan Rania beberapa warga berhamburan untuk membantu memadamkan api yang ternyata tidak hanya ada di rumah simbah Parti tapi juga di tempat lain nya.
"Wes nduk awakmu nang kene ndisek karo Aldo, Do kui sikile Rania tulong di obati, kui kotak obat nang pojokan (sudah nak dirimu disini dulu bersama Aldo, Do itu kaki nya Rania tolong di obati, itu kotak obat di pojokan)". Perintah pak Sapri pada Aldo anak laki-laki nya.
Setelah itu semua warga terbagi untuk membantu memadamkan api di beberapa tempat, bahkan saat ini semua perempuan dan anak-anak kecil banyak yang terbangun dari tidur nya dan berhamburan keluar dari dalam rumah nya karena banyaknya warga yang berteriak kebakaran.
Sedangkan Rania yang sudah selesai di obati kaki nya merasa sangat hawatir dengan kondisi keluarga nya di rumah, dia berniat untuk pulang tapi Aldo menahan nya.
"Jangan pulang dulu Ran kaki mu baru saja aku obati setidaknya tunggu sebentar lagi". Tukas Aldo dengan mengkerutkan kening nya.
"Tapi Do semua keluarga ku sedang menungguku, bahkan mbah Karto juga menungguku huhu...". Ucap Rania berderai air mata.
Lalu Aldo memegangi kedua pundak Rania, dan megusap air mata gadis yang beranjak remaja itu.
"Rania kau tenanglah dulu, setelah ini aku akan menemanimu kembali ke rumah simbar Parti, ini pakailah sandalku sebagai alas kaki supaya lukamu tidak semakin parah". Cetus Aldo seraya memakaikan sandal nya ke kedua kaki Rania yang sudah diperban.
"Terima kasi Aldo". Ujar Rania dengan wajah sendu nya.
Kemudian Rania berjalan tertatih dengan di gandeng Aldo sebagai penopang nya supaya dia tidak terlalu menapakan kedua kaki nya yang sedang terluka.
"Pelan-pelan saja Ran". Seru Aldo yang hawatir dengan gadis cantik yang sedang berjalan tertatih disamping nya.
Wuush...
Petter datang melesat dengan cepat menghampiri Rania, dia memberikan kabar jika semua keluarga nya selamat dari kebakaran itu tapi simbah Parti dan Wati sedang tidak sadarkan dirj karena terlalu banyak menghirup asap dari api yang membakar bangunan rumah nya.
Rania yang tidak bisa bertanya apapun dengan bebas pada Petter menjadi kebingungan, Rania tidak ingin di anggap aneh oleh Aldo karena dia berbicara sendiri, lalu Rania memberikan isyarat pada Petter untuk kembali ke rumah menjaga semua keluarga nya.
Petter mengkerutkan kening nya merasa ada yang berbeda dari teman nya itu, baru kali ini Rania tidak mengajaknya berbicara ketika dia sedang bersama manusia lain nya.
Kenapa Rania tidak mau berbicara padaku, mentang-mentang dia punya teman baru dia tidak menjawab perkataan ku, gumam Petter pada dirinya sendiri dengan mengerucutkan bibir nya kesal.
Lalu Petter melesat di kegelapan malam kembali ke rumah simbah Parti, tanpa mengetahui jika jiwa papa nya sedang dalam bahaya saat itu.
Sementara Rania yang sudah sedikit lega karena mendengar keluarga nya selamat dari kebakaran itu meminta Aldo untuk membawa nya ke rumah pak haji Faruk, karena dia ingin menyampaikan pesan yang mbah Karto ucapkan lewat batin pada dirinya.
"Do tolong antarkan aku ke rumah pak haji Faruk saja, karena ada hal penting yang harus aku sampaikan pada beliau". Ucap Rania memandang Aldo yang terlihat tampan dengan hidung mancung nya.
"Loh katamu kau hawatir pada keluargamu, kok malah pergi ke rumah pak haji Faruk". Seru Aldo mengaitkan kedua alis mata nya.
Nampak Rania tertegun memandang Aldo yang selama ini tidak pernah dia pandang dari jarak sedekat ini.
Ternyata Aldo tampan juga ya rajin mengaji dan baik hati, batin Rania didalam hati nya.
"Hei Raniaa... Kenapa melamun saja, apa yang kau lihat?". Tanya Aldo dengan memandang wajah gadis cantik yang sedang dia genggam tangan nya itu.
Rania terkesiap mendengar pertanyaan Aldo, dia salah tingkah dan melepaskan genggaman tangan nya dari Aldo, Rania memaksakan berjalan tanpa bertopang pada Aldo dan hampir saja dia terjatuh karena kaki nya masih sakit, dan dengan cepat Aldo meraih tangan Rania dan memeganginya dengan erat supaya gadis cantik itu tidak terjatuh ke tanah.
"Aww... Maaf Aldo aku menyusahkanmu". Seru Rania meringis kesakitan menahan luka di kaki nya.
Tidak lama kemudian mereka berdua sampai di rumah sederhana pak haji Faruk yang nampak sepi dari luar, lalu Aldo mengetuk pintu rumah pak haji Faruk.
Tok tok tok...
"Assalamuallaikum pak haji". Ucap Aldo seraya mengetuk pintu rumah yang masih tertutup itu.
Cekleek...
"Waalaikumsallam, eh Aldo sama Rania ada apa nak malam-malam kok masih ada diluar?". Tanya bu haji seraya mempersilahkan keduanya untuk mashk kedalam.
"Tidak usah bu haji, Rania hanya ingin menyampaikan pesan mbah Karto untuk pak haji Faruk". Jawab Rania dengan senyum manis nya.
"Ya sudah tunggu sebentar ya nak, tak panggilkan pak haji nya dulu". Tukas bu haji seraya berjalan masuk ke dalam rumah nya.
Terlihat Aldo sangat hawatir dengan Rania, karena wajah cantik gadis itu seperti orang yang sedang banyak pikiran.
"Kau kenapa Ran, sebenarnya ada apa tiba-tiba kau memintaku membawamu kesini?". Tanya Aldo dengan mengkerutkan kening nya.
"Kau tidak akan mengerti Do, masalah ini menyangkut nyawa warga desa Rawa belatung yang sedang terancam karena amarah penguasa hutan angker". Jawab Rania dengan wajah sendu nya.
"Aku memang tidak mengerti Ran, tapi aku tidak suka melihatmu bersedih seperti ini". Tukas Aldo dengan mengusap air mata Rania yang tiba-tiba menetes dari kedua mata nya yang sayu.
*Deg deg deg!!!
Perasaan apa ini, kenapa jantungku berdetak sangat kencang*, batin Rania didalam hati nya.
Kemudian pak haji Faruk datang dengan berjalan tergesa-gesa mengagetkan kedua remaja yang sedang saling memandang itu.
"Ada hal penting apa nak kalian datang selarut ini ke rumahku". Seru pak haji Faruk dengan wajah cemas nya.
"Ehm anu itu pak haji Rania ada yang mau disampaikan". Sahut Aldo salah tingkah menjawab perkataan pak haji Faruk.
Lalu Rania mengkerutkan kening nya menatap aneh dengan tingkah Aldo yang tidak biasa menurutnya.
Setelah itu Rania menjelaskan apa tujuan nya datang selarut itu ke rumah pak haji Faruk, Rania mengatakan jika saat ini keadaan di desa Rawa belatung sedang sangat menghawatirkan karena hampir semua makhluk gaib yang berada di hutan angker itu bekerja sama untuk mencelakai semua warga desa, bahkan saat ini jiwa mbah Karto sudah dibawa oleh penguasa gaib itu.
Rania menghentikan ucapan nya dia tidak dapat melanjutkan ceritanya, karena air mata nya mengalir deras mengingat keadaan mbah Karto yang sudah tidak berdaya ketika penguasa gaib itu membawa nya pergi.
"Pak haji tolong selamatkan mbah Karto dan semua warga desa ini, karena hanya pak haji saja yang dapat menghentikan semua tragedi mengerikan ini". Seru Rania berderai air mata dengan sesegukan.
"Tenanglah nduk katakanlah apa yang bisa aku lakukan untuk menolong mbah Karto dan semua warga desa ini". Tukas pak haji Faruk dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
*
*
...Bersambung....
...Berikanlah Author semangat dengan meninggalkan jejak kalian rate bintang 5 like, vote ataupun memberikan hadiah yang bisa membuatku semakin semangat untuk up setiap hari nya, salam sayang untuk kalian semuanya sehat selalu ya 💕...