
"Simbah pelan-pelan saja ya, ayshadu Alla ilaha illallah wa ayshadu Anna Muhammadarrasulullah." ucap Rania didekat telinga simbahnya.
Nampak simbah Parti sudah kesusahan untuk mengucapkan kata-kata, tapi Rania dengan sabar terus membimbing simbah, sampai akhirnya simbah bisa mengucapkan syahadat hingga selesai meski tidak terlalu jelas, karena lidah simbah sudah sangat pendek ketika mengucapkan kata-kata nya.
Setelah itu tiba-tiba nafas simbah Parti semakin tidak beraturan, dan akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." ucap pak Jarwo seraya menutup kedua mata simbah dengan tangan nya.
Seketika tangis penghuni rumah itu pecah, mengiringi kepergian simbah Parti untuk selamanya, terlihat Ranja menangis histeris dengan memeluk tubuh simbah yang sudah tidak bernyawa.
Kemudian pak Jarwo meminta Rania untuk tidak menangis didekat jenazah, karena itu akan menghambat kepergian jiwa simbah ke alam keabadian, lalu Rania mendongakan kepalanya memandang ke depan, nampak disana ada sesosok perempuan tua yang tengah berdiri mengambang menatap dirinya.
Simbah... Aku harus mengucapkan salam perpisahan pada simbah, batin Rania didalam hatinya seraya berjalan memghampiri jiwa tanpa raga yang sangat disayangi nya.
Jiwa simbah Parti melesat ke ruang sebelah, yang nampak kosong tanpa ada orang disana, dan Rania pun bergegas mengikuti jiwa simbahnya.
"Simbah huhuhu... Kenapa simbah meninggalkan kami semua." ucap Rania berderai air mata.
"Ternyata kau memang berbakat melihat makhluk tak kasat mata yo nduk, sudah jangan menangis lagi ikhlaskan simbahmu ini pergi ke alam keabadian, kau baik-baik disini ya nduk jaga semua keluarga dengan baik, karena hanya kau saja yang memiliki penglihatan hebat, kau lihat bayangan hitam itu to, simbah harus pergi bersamanya sampaikan rasa cinta simbah pada semua orang." tukas jiwa simbah Parti seraya melesat meninggalkan Rania yang terisak mendengar ucapan simbahnya.
Lalu jiwa tanpa raga simbah pun hilang bersamaan dengan sekelebat angin kencang yang masuk ke dalam ruangan itu, kemudian Rania berteriak histeris memanggil simbahnya, dan papa Rania bergegas menghampiri anak gadis nya itu seraya memeluknya.
"Ada apa sayang kenapa kau menangis histeris disini?." tanya Dedy pada anak gadisnya yang terisak pilu.
"Papa tadi Rania berbicara dengan simbah disini, tapi tiba-tiba simbah pergi meninggalkan Rania pa huhuhu." jawab Rania yang menangis dipelukan papa nya.
"Sudah ya sayang jangan berkata seperti itu lagi, biarkan simbah tenang di alam keabadian, sekarang tugas kita adalah mendoakan simbah, dan mempersiapkan tempat peristirahatan terakhir untuknya." jelas Dedy pada Rania.
Kemudian mbah Karto memanggil Dedy, supaya dia pergi ke kota untuk membeli segala kebutuhan untuk pemakaman simbah, sementara pak Jarwo pergi ke pos kampling dan meminta kedua hansip disana untuk membunyikan kentongan, supaya semua warga terbangun dan mengetahui kabar duka tentang meninggalnya simbah Parti.
Lalu pak Dahlan bersama warga lain nya mulai berdatangan ke rumah duka, nampak disana sudah ada beberapa tetangga yang membacakan ayat-ayat suci di ruang tamu rumah itu.
Terdengar suara bude Walimah yang masih sesegukan disamping jenazah simbah, lalu Anggi datang menghampiri nya.
Bruuk...
Bude Walimah jatuh pingsan karena duka yang dirasakan nya begitu besar, nampak Anggi panik dan meminta tolong pada suami nya dan pak Dahlan untuk membopong bude Walimah ke kamarnya, lalu Wati bangkit dari duduknya dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam kamar ibu nya.
"Ibu kenapa bu huhuhu... bangun bu jangan membuat kami semua hawatir." ucap Wati terisak memeluk ibu nya.
"Sudah nduk ibu mu tidak apa-apa, dia hanya terlalu lelah saja, kamu olesin minyak gosong ini ya ke hidung ibu, kami semua harus ke depan lagi membacakan doa untuk almarhum simbah." tukas Anggi seraya berjalan kembali ke ruang tamu.
Tanpa terasa pagi pun tiba proses pemakaman simbah akan segera berlangsung, Rania yang sedari malam terdiam disamping jenazah simbahnya, sekarang terlihat sangat lemah dan wajahnya sangat pucat.
"Kau di rumah saja ya sayang bersama bude mu, mama takut Rania jatuh pingsan di pemakaman." ujar Anggi memandang wajah anaknya yang lesu.
Nampak di luar rumah itu ada ketiga sahabat tak kasat mata Rania, mereka tidak dapat masuk ke dalam rumah itu, karena disana masih banyak orang yang membacakan ayat-ayat suci, sehingga ketiganya merasa kepanasan ketika berada di dalam rumah.
"Mama papa... Aku ingin menghibur Rania di dalam sana, pasti dia sangat sedih saat ini." ucap Petter dengan wajah sendu.
"Kami tau sayang jika kau ingin menghibur Rania, tapi kita tidak bisa masuk ke dalam sana, lagipula saat ini Rania pasti bersama semua keluarganya, dan mereka sedang berduka tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk menghiburnya, biarlah Rania mengatasi kesedihan nya, supaya dia bisa tegar menghadapi semuanya." jelas Evana.
Lalu terlihat beberapa orang menggotong keranda mayat masuk ke dalam mobil ambulance, nampak Rania bersama Wati duduk disamping keranda mayat, sementara bude Walimah bersama Anggi tetap berada di rumah untuk menerima tamu yang datang melayat.
Sesampainya di tempat pemakaman, beberapa tetangga membantu Dedy mengangkat keranda jenazah simbah Parti, lalu Rania dan Wati berjalan gontai dibelakangnya, sementara Petter dan kedua orang tua nya yang melesat mengikuti Rania ke pemakaman, nampak terhenti karena mereka melihat arwah Pardi melesat ke suatu tempat di pemakaman itu.
Wuuush...
Petter melesat menghentikan Pardi, yang nampak bingung memandang Petter dan kedua orang tua nya, lalu Pardi mengingat wujud Evana yang pernah menakutinya di warung bakso pak Rahmat.
"Kau kau adalah hantu londo yang menakutiku bukan." ucap Pardi terbaga-bata.
"Waktu itu aku hanya membantu Bambang, dan sekarang dia sudah beristirahat dalam damai, lalu apa yang kau lakukan disini." seru Evana memandang Pardi yang menundukan kepalanya.
"Jazadku akan di kebumikan hari ini, jadi aku datang kesini untuk melihatnya." jelas arwah Pardi dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Bukankah seharusnya kau kembali ke alam keabadian setelah jazadmu disempurnakan." tukas Jansen dengan mengkerutkan keningnya.
"Aku tidak dapat beristirahat dengan tenang, jika dendamku pada manusia jahat itu belum terbayarkan." pekik arwah Pardi dengan membukatkan kedua matanya.
Lalu Petter melesat mendekati Pardi seraya mengatakan, jika dendam hanya akan membuat jiwa nya semakin sengsara di alam fana.
"Benar apa yang anakku katakan, lebih baik kau kembali ke alam keabadian sebelum semua terlambat, jika kau telah berbuat kejahatan pada manusia maka kau akan susah kembali kesana, hanya pintu neraka yang akan terbuka untukmu." ucap Evana menasehati arwah Pardi.
"Kau jangan menakutiku nyata nya arwah seperti kalian masih berada disini." seru Pardi mendengus kesal.
"Sebenarnya kami semua harus kembali ke alam keabadian, tapi karena suatu hal kami menunda kepergian, meski begitu kami tetap melakukan perbuatan yang baik di alam fana ini, bahkan kami tidak memiliki dendam sepertimu, lebih baik kau melupakan semua dendam mu, dan beristirahat lah dalam damai." ujar Jansen yang melesat mendekati arwah Pardi.
Lalu Pardi mengatakan pada ketiganya, jika mereka tidak ada hak untuk mengatur keinginan nya, setelah itu arwah Pardi melesat meninggal Petter dan kedua orang tua nya yang masih berdiri mengambang disana.
*
*
...Udah hari senin nih kak berikan dukungan kalian pada author yuk, dengan cara memberikan Vote dan hadiah yang kalian punya, karena dukungan dari kalian bisa membuat author semakin semangat, terima kasih semua nya love u 💕...
...Bersambung....