
Kemudian pak Dahlan berinisiatif mengambil kayu panjang yang tergeletak di bawah nya dan berusaha memasukan nya ke dalam sumur dengan maksud melihat wajah orang itu.
Mereka berdua terkejut mendapati yang mengampung didalam sumur tua itu adalah bu Ani, lalu kedua nya berusaha meminta warga sekitar untuk membantunya mengangkat tubuh bu Ani yang belum diketahui nasib nya itu.
Lalu mereka berdua datang bersama beberapa warga dan juga pak RT setempat, dan berusaha membawa tubuh bu Ani ke atas sumur.
Dengan bersusah payah akhirnya mereka dapat membawa bu Ani ke atas, tapi setelah diperiksa ternyata nyawa bu Ani sudah tidak dapat ditolong.
"Apa yang sebenarnya terjadi pak Hansip?". Tanya pak RT dengan wajah yang cemas.
Kemudian pak Dahlan menceritakan semua kejadian yang mereka alami termasuk pertemuan kedua mereka dengan hantu sund.l bo.ong itu.
Semua warga terkejut mendengar cerita pak Dahlan, karena mereka semua menyadari jika desa mereka masih belum aman dari teror makhluk gaib.
"Baiklah kita bicarakan ini nanti saja, lebih baik kita bawa jenazah bu Ani kedalam rumah dan mengabari keluarga nya". Seru pak RT dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Terlihat semua orang panik dan ketakutan jika ternyata bu Ani meninggal dunia karena perbuatan hantu sund.l bo.ong yang diceritakan pak Dahlan.
"Pak apa yang harus kita lakukan supaya desa ini terlepas dari teror makhluk halus seperti ini". Cetus pak Budi menatap wajah pak Sapri yang ketakutan.
"Minta tolong mbah Karto dan pak haji Faruk saja". Seru pak Sapri dengan mengernyitkan dahi nya.
"Bukankah pak haji Faruk sedang pergi umroh". Ucap pak Eko memotong pembicaraan kedua nya.
"Mbah Karto bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan bantuan pak haji Faruk saja". Cetus pak Dahlan menyauti pembicaraan mereka.
Lalu pak RT menyarankan memanggil mbah Karto untuk mengetahui apa penyebab kematian bu Ani, meski mbah Karto tidak dapat menyelesaikan masalah ini begitu saja.
Kemudian pak Sapri mengendarai sepeda motor nya untuk menjemput mbah Karto di rumah nya.
Tok tok tok...
Beberapa kali pak Sapri mengetuk pintu rumah mbah Karto, tapi tidak ada seorang pun yang membuka pintu.
Cekleek...
"Maaf lama menunggu, ada apa ya pak Sapri". Tanya anak laki laki mbah Karto yang baru saja datang dari kota.
"Mbah Karto nya ada ndak mas". Sahut pak Sapri dengan mengernyitkan dahi nya.
"Anu itu bapak sedang ke kota ada tamu yang menjemputnya tadi sore". Jelas anak laki laki mbah Karto dengan seringaj kecil di wajah nya.
Lalu pak Sapri berpamitan dan segera kembali ke rumah bu Ani dan memberitahu semua orang jika mbah Karto tidak ada di rumah nya.
Nampak wajah semua orang cemas dan semakin ketakutan, mereka terpaksa mengurusi jenazah bu Ani bersama sama malam itu juga supaya di pagi hari dapat langsung di makam kan.
Lalu pak Dahlan menghubungi Harto adik laki laki bu Ani melalui ponsel nya, dia memberitahu supaya cepat datang ke desa Rawa belatung karena ada keadaan yang sangat penting yang harus dia ketahui.
Pak Dahlan sengaja tidak memberitahu Harto jika mbakyu nya itu sudah tiada, karena pak Dahlan tidak ingin membuat Harto panik selama diperjalanan menuju ke desa nya
Sedangkan pak Sugeng yang melihat keramaian di rumah bu Ani sangat penasaran dan menghampirinya.
"Permisi pak Hansip ada apa to ini kok ramai sekali". Ucap pak Sugeng berbasa basi.
"Ini pak ada warga yang meninggal dunia tapi tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya". Tukas pak Dahlan dengan memijat pangkal hidung nya.
Jangan jangan orang ini adalah korban dari pembalasan dendam anakku, berarti dia yang menyebabkan kematian Rara, batin pak Sugeng didalam hati nya.
Berarti benar dugaanku jika orang ini adalah orang yang menyebabkan kematian anak semata wayangku, batin pak Sugeng didalam hatinya dengan membulatkan kedua mata nya.
Tiba tiba ada yang menepuk pundak pak Sugeng dari belakang membuatnya celingukan karena terkejut.
"Bapak ini mertua nya Ari to?". Tanya pak Sapri dengan seringai kecil di wajah nya.
"Oh iya pak saya Sugeng bapaknya Rara". Cetus pak Sugeng seraya menjabat tangan pak Sapri.
Lalu pak Sapri menanyakan kondisi Ari yang dirawat di Rumah sakit jiwa yang ada di kota, dan pak Sugeng berkata jika sebentar lagi menantu nya itu akan kembali ke rumah.
Setelah itu pak Sugeng berbasa basi menanyakan hubungan bu Ani dengan keluarga menantu nya itu.
Seperti yang pak Eko pernah jelaskan pak Sapri pun mengatakan hal yang sama jika kedua keluarga itu sempat bertengkar waktu itu.
Lalu semua di kejutkan dengan tangisan Harto yang baru saja datang dan melihat mbakyu nya sudah terbujur kaku.
Harto menangis histeris dan pak RT pun menenangkan nya.
"Sudah mas yang ikhlas semoga bu Ani di ampuni segala dosa nya jangan di tangisi lagi". Tukas pak RT dengan menepuk punggung Harto.
Sementara pak Sugeng yang sudah puas melihat kematian orang yang telah menyebabkan putri nya meninggal berjalan kembali ke arah rumah menantu nya.
Nampak pak Sugeng komat kamit membacakan rapalan mantra seketika hantu sund.l bo.ong itu terbang menemuinya dibelakang rumah.
"Bagus nduk kau sudah membalaskan dendammu pada orang itu, setelah ini kau pergilah cari dukun yang telah dia bayar untuk mengirimkan santet padamu". Perintah pak Sugeng dengan membelai rambut panjang sund.l bo.ong itu.
Terlihat mata hantu itu sangat hitam legam dengan darah yang mengalir di sebelah bola mata nya yang sudah hampir copot.
Pak Sugeng sangat menyayangi puteri nya itu meski sekarang dia sudah menjelma menjadi hantu yang sangat menyeramkan.
Setelah mendengar perintah bapak nya hantu Rara pergi begitu saja, terbang menembus kegelapan malam.
Lalu pak Sugeng menceritakan pada istri nya jika hantu Rara sudah membalaskan dendam nya pada orang yang telah membuatnya tiada.
Kemudian bu Ema tertawa bahagia tapi tetap saja ada kesedihan di raut wajah nya, setengah hati nya sedih mengetahui anaknya bangkit dari kubur karena dia hanya ingin jiwa puteri semata wayang nya tenang di alam sana tapi dia juga tidak senang jika jiwa puteri nya meninggal dengan penasaran
Kemudian pak Sugeng kembali ke sebuah kamar yang biasa dia pakai melakukan ritual, terlihat dia menyalakan dupa dan menaruh sesajen di depan nya.
Pak Sugeng membaca rapalan mantra untuk memanggil makhluk gaib penunggu hutan angker supaya membantu hantu anak perempuan nya membalaskan dendam pada dukun yang mengiriminya santet.
Wuuuusssh...
Makhluk gaib tinggi besar dengan gigi memcuat keluar datang di melalui asap dupa yang membentuk wujud menyeramkan nya.
Terdengar suara berat dan mengerikan ketika makhluk itu berkomunikasi dengan pak Sugeng, makhluk gaib itu bersedia menolong nya dengan imbalan yang susah dia berikan.
Karena kali ini makhluk gaib itu meminta tumbal seorang bayi yang belum berusia satu bulan, untuk menambah kekuatan dan juga membuatnya awet muda dengan wajah yang tampan.
Meski pak Sugeng keberatan dengan syarat yang diberikan nya, dengan sangat terpaksa pak Sugeng menyetujui syarat itu, dan makhluk gaib itu memberi waktu selama dua minggu jika pak Sugeng tidak memberikanya tumbal bayi maka dia sendiri yang akan di jadikan tumbal makhluk gaib itu.
*
*
...Bersambung....