
"Sudah nduk tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja". Tukas pak Jarwo menenangkan Rania.
Kemudian pak Jarwo membantu proses pemakaman mbah Wongso, banyak kejanggalan yang terjadi disana, jazad mbah Wongso yang baru saja meninggal mengeluarkan aroma yang tidak sedap karena kulitnya sudah mulai membusuk.
Nampak banyak warga yang enggan membantu proses pemakaman mbah Wongso, karena mereka tidak tahan dengan aroma nya.
Terdengar semua orang yang mengatakan hal-hal buruk tentang almarhum, dan pembicaraan mereka terdengar oleh mbah Karto yang nampak pilu hati nya.
Ya Alloh, ampunilah semua dosa-dosa adik hamba, batin mbah Karto dengan meneteskan air mata.
"Ya sudah kalau bapak-bapak tidak mau membantu, saya mengerti tapi tolong persiapkan makam untuk almarhum biar saya bersama pak modin yang memandikan jenazah ini, karena semakin lama jenazah ini tidak di urus kita semua yang akan berdosa". Tukas pak Jarwo seraya berjalan menghampiri jenazah mbah Wongso.
Lalu pak Jarwo bersama mbah Karto dan juga pak modin memandikan jenazah mbah Wongso, aroma busuk dari jazad almarhum tidak hanya tercium oleh mereka yang memandikan jenazah, tapi juga tercium oleh warga yang berada jauh dari tempat itu.
"Siapa sih laki-laki tua itu, sepertinya dia bukan orang baik-baik lihat saja kondisi jazadnya yang sudah rusak, dan caranya meninggal tadi, sangat mengerikan to". Ucap seorang perempuan paruh baya pada suaminya.
"Iya bu, dia memang bukan orang baik-baik lha wong itu dukun santet kok, jelas sakaratul mautnya tersiksa". Seru suami perempuan itu.
Lalu tetangga samping rumahnya menimpali pembicaraan pasangan suami istri itu, terdengar tetangganya mengatakan jika mereka harus menolak jika jenazah itu di kuburkan di desa itu.
"Apa kalian tidak takut jika jenazahnya di kuburkan di desa kita, nanti desa kita bisa kena sial, tulahnya akan berakibat pada kita semua, lebih baik kita berbicara pada mereka yang memandikan jenazah itu, jika kita menolak kalau jenazah dukun santet itu di kuburkan di desa kita". Cetus pak Sapto, orang kaya yang cukup berpengaruh di desa itu.
Lalu semua warga desa itu berkumpul di depan rumah nenek Rohyati dengan memakai masker penutup hidung, karena mereka semua tidak tahan dengan aroma busuk yang melingkupi sekitar rumah nenek Rohyati.
Mereka berbicara dengan pak Jarwo sebagai perwakilan dari keluarga almarhum, nampak semua warga itu berkata bersamaan jika mereka menolak jenazah mbah Wongso di kuburkan di pemakaman desa nya.
"Kami bukan nya jahat, tapi kami sudah tau siapa almarhum itu sebenarnya, dia bukan orang baik-baik dan kami tidak ingin jenazahnya dikuburkan disini". Tegas pak Sapto mewakili semua warga disana.
"Astagfirullahaladzim bapak-bapak nyebut pak, tidak ada yang nama nya menguburkan jenazah itu membawa sial atau nasib buruk, justru jika kita menyusahkan proses pemakaman ini, kita semua yang akan berdosa". Sahut pak Jarwo dengan menghembuskan nafas yang panjang.
"Pokoknya kami tidak ingin jenazah itu dimakam kan di pemakaman desa ini titik". Cetus pak Sapto seraya meninggalkan pekarangan rumah nenek Rohyati.
Sementara itu mbah Karto nampak menundukan wajahnya sendu, beliau sangat sedih mendengar penolakan warga desa setempat jika mbah Wongso tidak boleh dimakamkan disana.
"Sudahlah mbah, lebih baik kita kuburkan almarhum di tanah kelahiran nya, di desa Rawa belatung, aku akan menghubungi puskesmas terdekat untuk mengirimkan ambulance". Ucap pak Jarwo seraya meraih ponsel di saku celana nya.
Nampak Rania memandang mbah Karto dengan tatapan haru, Rania mengerti jika mbah Karto sangat terluka hati nya.
Ya Alloh kasihan sekali almarhum mbah Wongso, sudah meninggal masih disusahkan penguburan nya, batin Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kau menangisi laki-laki jahat itu Rania, dia sudah mendapatkan karma nya karena berbuat jahat pada siapapun". Celetuk Petter melesat mendekati Rania.
"Sudahlah Petter semua sudah berlalu, kita harus bisa memaafkan nya, kau tidak lihat kesedihan mbah Karto". Sahut Rania dengan mengkerutkan keningnya.
Lalu Petter tertunduk lesu setelah mendengar penjelasan Rania, lalu pak Jarwo berlari melewati Petter yang masih menunuduk.
Lalu pak Jarwo segera membantu pak modin untuk mendandani jenazah dan mengkafani nya, setelah semua selesai ambulance pun datang dan jenazah pun segera dimasukan ke dalam mobil ambulance.
Nampak pak Jarwo dan mbah Karto mengucapkan terima kasih pada nenek Rohyati dan semua warga desa itu, dan mereka semua segera menaiki ambulance untuk membawa jenazah mbah Wongso ke tempat peristirahatan nya yang terakhir.
Dan di tengah-tengah perjalanan Rania yang duduk dikursi depan nampak memperhatikan seorang perempuan yang berada di pinggir hutan, perempuan itu tengah memetik sayur-sayuran dan dia berdiri membalikan badan nya ke arah Rania.
Bukankah itu Lala, apakah benar yang aku lihat itu Lala, nampak Rania mengusap kedua matanya karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, itu memang Lala, aku harus menghentikan ambulance ini, batin Rania didalam hatinya.
"Pak tolong berhenti sebentar". Pinta Rania pada sopir ambulance itu.
Tapi sopir ambulance itu menjelaskan pada Rania, jika mereka sedang membawa jenazah dan tidak baik jika harus berhenti disana.
Nampak Rania menghembuskan nafasnya panjang, wajahnya yang tadi sempat cerah kini muram kembali.
Jika tadi benar Lala bagaimana ya Alloh, apa yang harus aku lakukan, batin Rania dengan memijat pangkal hidungnya.
"Pak Jarwo, sepertinya tadi aku melihat Lala dipinggir hutan sana". Tukas Rania menoleh kebelakang kursinya.
"Mana mungkin nduk, jika Lala memang sudah kembali pasti dia akan segera pulang ke rumah, bukan nya berkeliaran di pinggir hutan". Sahut pak Jarwo.
Benar juga sih yang dikatakan pak Jarwo, tapi aku tidak mungkin salah lihat, karena aku sudah memastikan penglihatanku, batin Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Dan tanpa terasa ambulance itu sudah memasuki area pemakaman di desa Rawa belatung, terlihat disana banyak warga yang datang, semua warga desa datang bukan untuk menyambut jenazah mbah Wongso melainkan mereka semua menghargai mbah Karto sebagai sesepuh di desa itu, sehingga semua orang hadir disana untuk membantu proses pemakaman adiknya.
Kemudian pak Dahlan dan Anto menghampiri mbah Karto untuk memberikan salam, dan membantu mengangkat keranda mayat itu.
"Wah mbah ini berat sekali to". Ucap pak Dahlan dengan memegangi keranda itu.
Lalu datanglah beberapa warga yang lain nya untuk membantu mengangkat keranda mayat itu, mereka semua menutup hidungnya dan menahan nafas untuk sesaat karena aroma busuk sangat terasa.
Lalu mbah Karto mengatakan pada semua warga desa Rawa belatung jika ada yang tidak tahan dengan aroma dari jenazah itu bisa menjauh dari sana, tapi hanya ada beberapa warga yang menjauh karena mereka sangat sungkan pada mbah Karto, yang di anggap sangat membantu di desa nya.
Proses pemakaman pun berlangsung agak lambat, karena ada beberapa warga yang membantu justru mual-mual karena mencium aroma busuk dari jenazah mbah Wongso, tapi warga yang lain nya pun menggantikan sehingga jenazah itu dapat segera dikebumikan.
*
*
...Yuk kak panjangkan list Vote dan hadiahnya ya, aku tunggu ya dukungan dari kalian semua, Love u all 💕...
...Bersambung....