DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Pengorbanan Ari.


"Sudahlah To, kau tidak perlu menghawatirkan ibu mertuaku, bukankah lebih baik jika dia sudah mau keluar dari kamarnya, lagipula beliau sudah aku anggap seperti ibuku sendiri apalagk sekarang beliau hanya punya kita saja sebagai kerabatnya". Ucap Ari seraya merangkul adik laki laki nya Anto.


"Justru karena aku sudah menganggap bu Ema seperti orang tuaku sendiri makanya aku hawatir mas, takutnya beliau tertekan seperti dirimu waktu itu". Jelas Anto dengan menundukan kepala nya.


"Aku mengerti kehawatiranmu, tapi aku bisa memastikan jika saat ini ibu mertuaku baik baik saja To". Tukas Ari dengan seringai kecil di wajah nya.


"Ya udah mas, aku tak langsung berangkat kerja saja, daripada nunggu di rumah malah ngantuk lagi". Seru Anto seraya bangkit dari tempat duduknya.


Lalu setelah kepergian Anto, nampak Ari berjalan gontai menuju kamar nya, dia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang nya dan memejamkan kedua mata nya.


Srek srek srek...


Terdengar suara langkah kaki memdekatinya, lalu Ari membuka kedua mata nya dilihatnya Rara yang sedang berdiri dihadapan nya menatap dirinya dengan tatapan mata yang kosong.


"Ah kau ternyata kemarilah". Ucap Ari dengan melambaikan tangan nya meminta Rara untuk mendekat padanya.


Kemudian Rara berjalan mendekati Ari yang sedang berbaring di atas ranjangnya.


Braak...


Diraihnya tangan Rara dan menariknya ke atas tempat tidur, nampak Ari menatap kedua mata Rara dengan penuh kerinduan dan mengecup nya.


"Apapun akan ku lakukan untukmu istriku, tetaplah bersamaku". Bisik Ari di telinga Rara seraya memeluk tubuh molek istrinya itu.


Kemudian Ari tertidur beberapa saat dengan mendekap tubuh Rara dipelukan nya.


Sedangkan Rara yang masih belum bisa di ajak berbicara hanya terdiam pasrah dipelukan Ari yang rela melakukan apa saja untuk dirinya.


Jam menunjukan pukul 10.30 WIB ternyata Ari sudah tertidur hampir tiga jam lama nya, ketika dirinya membuka mata terlihat Rara masih berada didekatnya.


"Kemarilah sayang mandi bersamaku, nanti malam aku akan melakukan ritual untukmu supaya kau dapat sempurna kembali bersamaku dengan semua sifat manismu yang dulu". Seru Ari menggandeng tangan Rara masuk kedalam sebuah kamar mandi.


Dan ketika Ari membilas tubuh molek Rara dengan sabun mandi nampak Ari memainkan bagian atas milik Rara, dimainkan seperti sedang memijit sesuatu dan memainkan saliva nya di puncak sana.


"Sayangku kau selalu membuatku gila ketika melihatmu polos seperti ini". Ucap Ari seraya mengarahkan saliva nya menyusuri bagian tubuh Rara yang lain nya.


Terlihat Rara bergidik kegelian tapi dia tetap diam tanpa ekspresi di wajah cantik nya.


Hampir saja Ari melakukan permainan bersama Rara jika dia tidak mendengar ponsel nya berbunyi.


"Ah siapa lagi yang meneleponku". Seru Ari meraih ponsel yang berada di atas ranjang nya.


Ternyata rekan kerja nya menelepon nya untuk mengabari jika besok dia harus segera berangkat bekerja, karena sudah tidak ada yang menggantikan shift nya bekerja.


Setelah mematikan ponsel nya, Ari mendatangi Rara dan mengusap tubuh polos Rara menggunakan handuk.


"Mulai nanti malam kau yang akan melayaniku lagi sayang". Tukas Ari seraya mengecup kening Rara.


Karena jam sudah sangat siang tapi Ari dan Rara belum juga keluar dari kamar nya, bu Ema memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mereka dan mengajaknya untuk makan siang bersama.


"Ayolah Le kita makan bersama bawa istrimu juga keluar". Seru bu Ema dari balik pintu kamar.


Setelah itu Ari mengajak Rara keluar dari kamarnya dengan memakai daster kesukaan nya, membuat Rara semakin cantik dengan daster berwarna kuning yang sangat terbuka dibagian atas nya.


"Le bagaimana urusanmu semalam?". Tanya bu Ema dengan mengernyitkan dahi nya.


"Lalu apa yang makhluk gaib itu minta sebagai syaratnya Le". Ucap bu Ema dengan cemas.


"Anu itu bu, tapi jika aku mengatakan ini pada ibu, bisakah ibu menyembunyikan hal ini dari Rara, karena aku tidak ingin membuatnya sakit hati". Tukas Rara dengan wajah sendu nya.


"Baiklah Le, ibu berjanji tidak akan mengatakan pada Rara jika dia sudah kembali seperti dulu, karena apapun yang kau lakukan juga demi membuatnya bisa bersama kita lagi". Seru bu Ema dengan mata berkaca kaca.


"Jadi begini bu, penguasa hutan angker itu memintaku untuk menikahi anak perempuan nya yang bernama Sukma melati dan setiap malam jumat aku harus kembali ke hutan angker itu untuk melakukan ritual dan menghabiskan malam bersamanya, karena jika aku lupa dan tidak datang kesana, Sukma akan sangat marah dan menyakiti orang orang yang ku sayangi". Cetus Ari dengan memijat pangkal hidung nya.


"Astaga Le, kau berkorban sebesar itu demi Rara, apa kau tidak tau jika nanti kau meninggal kau akan menjadi siluman seperti mereka dan akan tinggal di alam gaib bersama mereka semua". Jelas bu Ema dengan meneteskan air mata nya.


"Bagaimana lagi bu, aku tidak mempunyai pilihan lain jika aku menolak permintaan makhluk gaib itu selain aku tidak bisa mengembalikan Rara seperti dulu, bisa saja nyawaku juga akan terancam". Seru Ari dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ya sudah Le, kau turuti saja syarat dari mereka, biar nanti ibu yang akan menjaga Rara setiap kali kau harus menemui istri gaibmu itu". Tukas bu Ema dengan wajah sendu nya.


Lalu bu Ema dan Ari makan bersama dengan lauk semur ayam kesukaan Rara tapi tetap saja Rara tidak mau memakan nya, lalu Ari berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu, kenapa Rara sama sekali tidak mau memakan nasi.


Jangan jangan selera makan Rara sudah berubah seperti makhluk halus pada umum nya, batin Ari didalam hati nya.


Kemudian Ari berjalan meninggalkan Rara yang masih duduk di bangku dengan menundukan kepala nya.


"Ini apa kau mau makan ini istriku". Ucap Ari dengan meletakan sepiring bunga tujuh rupa dan juga dupa di atas nya.


Tanpa merespon apapun Rara mengambil piring itu dan melahap habis bunga dan dupa yang sudah tersedia untuk nya.


Sementara bu Ema menatap heran melihat Rara memakan makanan yang tidak biasa nya dimakan.


"Le kenapa kau memberikan bunga dan dupa itu pada Rara?". Tanya bu Ema dengan membukatkan kedua mata nya.


"Aku hanya menebak saja bu, karena bagaimanapun Rara adalah makhluk halus, dan makanan mereka ya seperti itu". Cetus Ari dengan mengernyitkan dahi nya.


Setelah Rara menghabiskan makanan nya, Ari mengajak Rara kembali kedalam kamar nya karena dia akan melakukan ritual pengembalian jiwa Rara kedalam raga nya.


Nampak sesajen dan dupa sudah disiapkan didalam sebuah kamar khusus yang akan dipakai nya melakukan ritual, lalu Ari membaca rapalan mantra dan mengeluar sesuatu dari bungkusan putih yang diberikan istri gaibnya Sukma melati.


Ternyata bungkusan itu berisi batu giok yang berwarna keunguan, kemudian Ari meletakan batu giok itu di atas sesajen dan menyiramnya menggunakan bunga tujuh rupa dengan bacaan mantra untuk memanggil jiwa Rara yang belum sempurna kembali kedalam raga nya itu.


Wush...


Angin kencang datang dan menerjang pintu yang sudah dia tutup rapat.


Blaak...


Pintu itu terbuka lebar dengan sekali hempasan angin saja, lalu angin kencang itu menghempaskan tubuh Rara yang sedari tadi hanya duduk terdiam dan membuatnya pingsan disana.


Nampak Ari kebingungan dan berusaha membangunkan Rara, ditengah kepanikan nya dia teringat pesan Sukma melati jika bungkusan itu akan berguna untuk istri nya.


Kemudian Ari mengambil batu giok itu dan meletakan nya di genggaman tangan Rara.


*


*


...Bersambung....