DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Perpisahan Sukma melati dan Ari.


Nampak Sukma melati menundukan wajahnya sendu, dia tidak bisa menolak keinginan romonya, karena dia tidak ingin bayi yang ada didalam kandungan nya celaka, kemudian Sukma melati memohon pada romonya untuk sekali ini saja menemui suami manusianya untuk yang terakhir kalinya.


"Romo ijinkan aku menemui suamiku untuk kali ini saja, aku harus mengucapkan salam perpisahan padanya, karena aku akan menerima pinangan pangeran Asopati". Tukas Sukma dengan wajah sendu.


"Baiklah Sukma romo akan membiarkanmu menemui manusia itu untuk yang terakhir kalinya, dan jika setelah ini dia masih ingin menemuimu aku sendiri yang akan mengakhiri hidupnya". Tegas penguasa hutan wingit itu.


Dan setelah mendapatkan ijin dari romonya, nampak Sukma melati melesat ke rumah Ari, nampak disana Ari sedang mengurung diri didalam kamar dengan terus menyebut nama Sukma melati.


"Kangmas ini aku Sukma". Ucap Sukma melati berdiri mengambang dibelakang Ari.


Sukma melati istriku, apakah kau datang karena merindukanku, batin Ari didalam hatinya seraya berdiri dan membalikan badan nya.


Kemudian Ari memeluk erat Sukma melati dan membisikan kata cinta dan rindu pada istri gaibnya itu.


"Kangmas aku datang karena...". Ucap Sukma melati terhenti.


Cuuups...


Bibir Ari nampak mengecup lembut bibir Sukma melati, membuat perempuan gaib itu tidak bisa melanjutkan ucapan nya.


"Aku terlalu merindukanmu sayang, bisakah jangan mengatakan apa-apa dulu padaku". Bisik Ari ditelinga Sukma disambut dengan anggukan Sukma melati.


Setelah itu Ari mengecup kembali bibir Sukma dan memainkan salivanya didalam sana, tangan Ari memegang belakang tengkuk Sukma dan bibirnya menjamah belakang telinga dan leher Sukma melati, membuat perempuan gaib itu melenguh karena perlakuan Ari yang selalu membuatnya melayang.


Dan disaat Ari ingin membuka pakaian Sukma, nampak bagian perut Sukma sudah agak membesar, dan menyadarkan Ari jika Sukma melati telah mengandung anak dari makhluk sejenisnya, kemudian Ari menghentikan kegiatan nya dan melepaskan tangan nya yang menyentuh tubuh Sukma melati lalu berjalan mundur menjauhi Sukma.


"Kenapa kangmas menjauhiku, apa salahku?". Tanya Sukma melati dengan wajah yang kecewa.


"Maaf aku lupa, jika kau sedang mengandung bayi dari laki-laki lain, dan aku tidak boleh melakukan ini padamu". Jawab Ari dengan mengusap rambutnya kasar.


Astaga aku sampai lupa, jika saat ini aku sedang mengandung bayi pangeran Asopati, tentu saja kangmas Ari akan marah padaku, batin Sukma pilu didalam hatinya.


"Aku yang bersalah mas, aku telah menghianatimu, dan wajar saja kau sudah tidak ingin melakukan nya denganku". Seru Sukma dengan menundukan kepalanya.


"Bukan karena aku tidak ingin melakukan nya denganmu dek, tapi kau sedang mengandung dan didalam rahimmu bukanlah anakku, bagaimana aku bisa berpura-pura menutupi perasaanku ini, aku mencintaimu Sukma tapi apalah dayaku yang hanya seorang manusia biasa, dibanding dengan ayah dari bayimu itu". Cetus Ari dengan mata berkaca-kaca.


"Kangmas tujuanku kesini untuk mengucapkan salam perpisahan padamu, karena romo memintaku untuk menerima pinangan dari pangeran Asopati, dia adalah ayah dari bayiku ini". Tukas Sukma melati dengan wajah sendu.


Setelah itu Ari berjalan gontai mendekat Sukma melati dan memeluk tubuhnya erat dengan berderai air mata.


"Aku tidak sanggup kehilanganmu Sukma, lebih baik aku tiada saat ini juga". Seru Ari melepaskan pelukan nya dan membenturkan kepalanya beberapa kali ke tembok.


Brug brug brug...


Terdengar suara benturan di tembok rumahnya, membuat Anto terkaget, karena dia sedang memainkan gawainya di depan ruang tv.


Suara apa itu, seperti ada yang membenturkan sesuatu ke tembok, batin Anto didalam hatinya.


Terlihat Sukma melati panik dan melesat menghentikan perbuatan konyol Ari, nampak darah seger menetes di kepala Ari membuatnya berdiri sempoyongan dengan setengah sadar.


"Kangmas kau harus tetap hidup berjanjilah padaku, meskipun aku akan menjadi pendamping pangeran Asopati, aku berjanji akan selalu menemuimu diam-diam, jadi kau harus tetap hidup berjanjilah padaku". Ucap Sukma melati berderai air mata memeluk Ari yang hampir kehilangan kesadaran nya.


Braaaks...


Tubuh Ari terjatuh dan tergeletak di lantai kamarnya dengan darah yang membasahi wajahnya, sedangkan Anto yang mendengar suara terjatuh segera bangkit dari duduknya dan berjalan mencari dimana suara itu berasal.


Wuuush...


Sukma melati melesat meninggalkan kamar Ari, dan Anto yang sedang berjalan mendekati kamar Ari nampak curiga, karena Ari tidak menjawab panggilan nya.


Cekleek...


Anto membuka pintu kamar Ari yang tidak terkunci, dan dia pun tercekat melihat kangmasnya tengah tergeletak dengan bersimbah darah.


"Astagfirullahaladzim mas, apa yang terjadi padamu". Seru Anto berlari mendekati Ari dan memeriksa keadaan nya.


Jangan-jangan kangmas Ari membenturkan kepalanya ke tembok itu, batin Anto dengan melihat bekas darah yang ada di tembok kamar Ari.


Kemudian Anto berlari keluar rumahnya untuk meminta bantuan dari warga sekitar, dan nampak pak Sapri yang sedang berjalan dengan membawa kambing peliharaan nya.


"Pak Sapri tolong aku pak". Pekik Anto dari depan rumahnya.


Lalu pak Sapri berjalan mendatangi Anto yang wajahnya nampak panik dengan darah yang membasahi tangan nya.


"Lho ada apa To kok tanganmu berdarah begitu?". Tanya pak Sapri dengan membulatkan kedua matanya.


"Mas Ari pak dia nekat membenturkan kepalanya ke tembok sampai tidak sadarkam diri". Jawab Anto dengan mata berkaca-kaca.


"Astagfirullahaladzim, sebentar To aku akan mengikat kambing ini di bawah pohon sana, setelah itu kita bawa Ari ke rumah sakit saja". Seru pak Sapri yang terburu-buru mengikat kambingnya dan berlari masuk ke dalam rumah Anto.


Sesampainya di dalam kamar Ari nampak pak Sapri tercengang melihat darah yang membasahi kepala dan wajah Ari, dan tanpa berkata apapun Anto dan pak Sapri menggotong tubuh Ari dengan bersusah payah.


"Sebentar pak berhenti dulu, aku harus mengambil kunci mobil nya dulu". Cetus Anto berlari ke dalam kamarnya.


Dan setelah menemukan kunci mobilnya Anto dan pak Sapri menggotong tubuh Ari ke dalam mobil, dan mereka segera membawa Ari ke rumah sakit yang ada di kota.


"Astaga pak, aku sampai lupa menutup pintu rumahku". Ucap Anto dengan menepuk keningnya.


Lalu pak Sapri mengatakan pada Anto jika dia akan meminta Aldo anaknya, untuk datang ke rumah Anto dan mengunci rumah itu.


"Terima kasih banyak pak Sapri, maaf aku merepotkanmu". Ujar Anto dengan memijat pangkal hidungnya.


"Sudah To tidak usah dipikirkan, yang terpenting sekarang kita harus cepat sampai ke rumah sakit, jika tidak Ari akan kehabisan darahnya". Seru pak Sapri dengan mengkerutkan keningnya.


Setelah melewati jalanan kota yang agak lengang di pagi itu, mobil yang di kemudikan Anto sudah memasuki area rumah sakit, dan mobilnya berhenti di depan IGD rumah sakit.


"Pak Sapri tolong ikuti perawat itu, aku akan memarkirkan mobil dulu". Pinta Anto pada pak Sapri yang bergegas mengikuti perawat yang sedang mendorong brankar yang di atasnya ada Ari yang tidak sadarkan diri.


Sementara Sukma melati yang telah kembali ke alamnya nampak bermuram durja, dia sangat mencemaskan Ari.


Bagaimana kondisimu kangmas, ternyata kau terlalu mencintaiku, sampai kau rela menyakiti dirimu sendiri, batin Sukma melati dengan berderai air mata.


Kemudian terdengar suara ketukan pintu di depan kamar Sukma, membuat Sukma terperanjat dan segera menghapus air matanya.


*


*


...Bersambung....