
Hari berganti minggu Lala yang sudah hidup tanpa suami dan anaknya nampak gelisah, karena dia sangat merindukan anaknya yang berada di alam gaib, sementara Satria yang setiap hari menemuinya tidak pernah mau membawanya kembali ke alam gaib, bahkan Satria mulai berani mengungkapkan perasaan nya pada Lala.
Aku memang menyukai kangmas Satria, tapi itu hanya perasaan suka biasa, karena hatiku hanya milik suamiku saja, batin Lala didalam hatinya.
Setelah itu Lala keluar dari dalam rumah yang sudah dipagari gaib oleh Satria, lalu Evana dan Jansen yang mengawasi tempat itu nampak melihat sesosok perempuan tengah berdiri seorang diri dibawah pohon yang besar.
Wuuush...
Kedua hantu itu melesat lebih dekat disekitar Lala, dan Evana pun tersadar jika perempuan itu adalah Lala, manusia yang selama ini mereka cari, sedangkan Lala yang sudah terbiasa melihat wujud seram makhluk gaib, tidak takut sama sekali melihat kedatangan Evana dan Jansen.
Evana bertanya pada perempuan yang ada didepanya, kenapa dia tidak terkejut melihat kedatangan mereka.
"Aku sudah terbiasa melihat makhluk seperti kalian, ada apa kalian mendatangiku?". Tanya Lala pada Evana dan Jansen.
"Lala kembali lah ke rumahmu, saat ini simbokmu sudah tiada dan arwahnya gentayangan tidak tenang karena menunggumu pulang". Jelas Evana menatap nanar Lala.
"Apa simbokku sudah tiada, kalian jangan berbohong padaku huhuhu". Pekik Lala dengan berderai air mata.
"Ikutlah kami pulang ke rumahmu, dan kau akan mengetahui segalanya jika kami mengatakan yang sebenarnya, sejak kau menghilang dari rumah simbokmu jatuh sakit hingga dia meninggal dunia, tapi arwahnya tetap berada disekitar rumahmu dan dia hanya akan kembali ke alamnya setelah melihat kau pulang Lala". Ucap Jansen yang melesat mendekati Lala yang tertunduk pilu.
Dengan perasaan yang kalut Lala sudah tidak bisa menahan dirinya untuk kembali ke rumah orang tua nya, Lala melangkahkan kaki nya gontai dengan menangisi simboknya disepanjang jalan.
Kreeaak...
Lala membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci, nampak dikedua mata Lala ada sesosok arwah perempuan tua sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Simbok huhuhu... Maafkan Lala mbok, semua ini salah Lala sampai simbok meninggal seperti ini". Seru Lala berderai air mata menangis histeris bersujud dibawah kaki arwah simboknya.
Nampak arwah mbah Sumi terisak melihat anak bungsunya sudah kembali ke rumah, meski kini dia sudah tiada dan tidak bisa memeluk tubuh anaknya itu.
Kemudian Kasmi datang dengan memapah bapaknya yang sedang sakit, keduanya terkejut setelah mendengar suara Lala yang menangis kencang memanggil simboknya.
Setelah itu Lala bangkit berdiri menghampiri bapaknya dan bersujud dibawah kakinya, nampak Lala mengucapkan kata maaf berulang kali, Lala terlihat sangat tertekan dengan semua masalah yang ada dipikiran nya, dan tiba-tiba Lala tumbang tidak sadarkan diri pingsan di depan pintu kamarnya.
"Astagfirullahaladzim Lala, kau kenapa nduk". Seru Kasmi memeriksa kondisi adiknya.
Kemudian Evana dan Jansen memutuskan untuk kembali ke desa Rawa belatung untuk memberikan kabar jika Lala telah kembali ke rumahnya, kedua hantu itu melesat melewati area hutan wingit itu, nampak Evana dan Jansen penasaran dengan hajatan yang dilakukan tanpa henti, tapi kedua jiwa tanpa raga itu tidak berani mendekati keramaian disana.
"Lebih baik kita pergi dari tempat ini, jangan sampai mereka menyadari kehadiran kita". Tukas Jansen melesat meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di desa Rawa belatung Jansen pergi ke rumah mbah Karto untuk menyampaikan kabar kembalinya Lala, nampak mbah Karto menghembuskan nafaanya panjang.
"Bagaimana kalian bisa menemukan Lala di hutan?". Tanya mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Kami hanya menunggu di tempat yang agak jauh dari Lala berada, karena di pandangan mata kami, didepan sana hanyalah padang ilalang, tapi menurut Lala selama ini dia tinggal disana". Jelas Jansen yang berdiri mengambang.
"Baiklah setelah ini biar aku saja yang menyelesaikan semuanya, karena Jarwo belum kembali juga". Tukas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.
setelah itu mbah Karto meminta Jansen untuk membantu sesosok hantu yang ditemui Rania di rumah sakit, Jansen yang bersedia membantu arwah penasaran itu bergegas melesat menyusul Rania dan Petter yang sudah ada di sekolahan.
Wuuush...
"Kau mau kemana petter?". Tanya Jansen dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Papa akhirnya datang juga, kita harus membantu Ayu pa, kasihan dia menjadi arwah penasaran". Jawab Petter dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi padanya Pet, dan apa yang harus kita lakukan untuk membantunya". Ucap Jansen.
Setelah itu Petter menceritakan penyebab kematian Ayu yang disiksa dan dilecehkan ayah tirinya, nampak Jansen sangat marah mendengar kelakuan manusia yang melebihi setan jahatnya.
"Kita harus membuat manusia itu mengakui semua kejahatan nya, supaya jiwa Ayu cepat kembali ke alam keabadian". Tukas Jansen seraya melesat bersama Petter.
Dan sesampainya di rumah Ayu, nampak ayah tiri Ayu sedang duduk santai di ruang tamu, dia sedang berbincang dengan bude Lasmi tentang kekasih Ayu yang kini mendekam di dalam sel penjara.
"Apakah sudah diputuskan berapa lama dia akan mendekam disana?". Tanya bude Lasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Entahlah mbakyu, yang jelas istriku sudah memberi kesaksian pada pihak polisi jika dia melihat sendiri kalau Ayu tengah disiksa oleh kekasihnya itu". Jawab Dudung dengan menghisap sebatang rokok ditangan nya.
"Tapi Yati berkata padaku, jika kau yang memintanya berkata seperti itu supaya polisi segera menangkapnya". Seru bude Lasmi menatap tajam pada Dudung.
"Ya memang aku memintanya bersaksi seperti itu, supaya pelaku pembunuhan Ayu cepat dihukum seberat-beratnya". Tukas Dudung dengan seringai diwajahnya.
Nampak Ayu hanya terdiam di sudut rumahnya dengan berderai air mata, karena mendengar ucapan ayah tirinya yang memfitnah kekasihnya yang tidak berdosa itu.
Lalu Jansen melesat mendekati Dudung yang masih menikmati sebatang rokoknya, Jansen menampakan wujudnya yang menyeramkan dengan darah disekujur tubuhnya, seketika Dudung terperanjat dan berteriak ketakutan.
"Loh Dung kau itu kenapa malah teriak-teriak begini". Ucap bude Lastri dengan menepuk pundak Dudung.
"Anu mbakyu tadi ada setan londo yang menyeramkan disana". Sahut Dudung dengan mengarahkan jari telunjuknya ke samping jendela.
"Kau ini ada-ada saja to Dung, siang hari begini mana ada setan to, kemarin kau bilang Ayu jadi setan sekarang kau bilang ada setan londo, sepertinya kau juga setres sama seperti Yati". Seloroh bude Lasmi.
"Loh mbakyu aku itu tidak berbohong baru saja memang ada setan londo disana, seandainya mbakyu melihatnya pasti juga akan berteriak sepertiku". Ujar Dudung dengan nafas yang berderu kencang.
Lalu Jansen dan Petter melesat menghampiri Ayu yang masih berderai air mata, Jansen memperkenalkan dirinya sebagai papa Petter, dan mereka akam membantu Ayu untuk mengungkap misteri kematian nya.
"Kita harus membebaskan manusia yang tidak bersalah itu, dan membuat ayah tirimu mengakui segalanya". Tukas Jansen.
"Bisakah aku melenyapkan nyawa nya sama seperti dia melenyapkanku". Seru Ayu dengan membulatkan kedua matanya.
"Kau tidak bisa melenyapkan nya Ayu, kau hanya bisa menjadi penyebab atas kematian nya jika kau mau, tapi setelah itu kau tidak akan pernah bisa kembali ke alam keabadian, karena disana adalah tempat untuk jiwa-jiwa manusia yang dahulu selalu melakukan perbuatan baik". Jelas Jansen pada Ayu.
*
*
...Yuk kak panjangkan list Vote dan gift nya untuk mendukung novel ku, supaya aku terus semangat doubel up untuk kalian semuanya....
...Bersambung....