DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kabar mengejutkan???


"Seandainya kau bisa melihat apa yang aku lihat pasti kau akan mengerti bagaimana perasaanku saat ini Wat". Ucap Rania dengan menundukan kepalanya.


"Pasti yang kau maksud teman hantumu itu kan, meski aku tidak dapat melihatnya aku kan masih bisa melihat wajah murung mu ini Rania". Tukas Wati menghibur Rania.


"Wati kau tau tidak sebelum aku pindah ke desa ini, aku tidak pernah bisa melihat makhluk yang tak kasat mata, dan ketika aku bisa melihatnya hidupku terasa sangat mencekam, tapi semenjak ada Petter yang selalu menemaniku aku mulai memberanikan diriku untuk melihat semua makhluk halus itu, tapi sebentar lagi Petter akan pergi untuk selamanya, aku hanya tidak tau apakah aku bisa tanpa Petter menghadapi semua makhluk gaib itu". Jelas Rania dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian Wati memeluk saudara sepupunya itu dan berkata jika dia akan selalu bersama Rania meski dia tidak dapat melihat makhluk gaib seperti Rania.


Lalu datanglah Petter yang melesat menghampiri Rania yang sedang berbagi duka pada Wati.


Wuuush...


Angin dingin menerpa sebelah wajah Wati membuat bulu-bulu halus di tubuh nya meremang.


"Ran kok aku merinding apa temanmu itu datang kesini?". Tanya Wati dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Ee iya Wati sebentar ya ada yang ingin aku bicarakan dengan nya". Jawab Rania seraya berjalan ke kamar nya.


Setelah itu Rania nampak berbicara dengan Petter dan menanyakan apa rencana mereka selanjut nya, lalu Petter mengatakan kalau mama nya sudah mengambil keputusan jika mereka akan pergi sesudah mbah Karto sembuh dan pulang dari Rumah sakit, karena bagaimanapun mbah Karto sudah banyak berjasa dalam mempertemukan keluarga mereka.


"Ya sudah jika mau kalian begitu, sana kau habiskan waktu bersama keluargamu pasti kau sangat merindukan saat-saat seperti sekarang". Seru Rania seraya merebahkan tubuh nya ke ranjang.


Terlihat Petter kebingungan dengan sikap Rania yang tiba-tiba berubah padanya, setelah itu dia melesat pergi menemui simbah Parti yang tengah berbincang dengan pak Jarwo.


Sementara di Rumah sakit kondisi mbah Karto sedang kritis dan membutuhkan donor ginjal karena selama beliau tidak sadarkan diri ginjal nya tidak berfungsi dengan baik membuat kondisinya sangat memperihatinkan.


Terlihat mbah Darmi berderai air mata dengan memeluk mbah Karto yang sudah setengah sadar karena suntikan dari dokter membuat mbah Karto ingin memejamkan mata nya, lalu Anto dan pak haji Faruk berusaha menenangkan beliau.


Tidak lama kemudian anak laki-laki mbah Karto pun datang untuk mendonorkan ginjal nya untuk orang tua nya yang sudah tidak berdaya itu, tapi ternyata masalah tidak berhenti sampai disitu beberapa makhluk gaib dari hutan angker masih mengincar nyawa sesepuh desa itu, makhluk gaib itu berniat mencelakai mbah Karto dan membuatnya tiada supaya jiwa mbah Karto dapat mereka tahan kembali dan memanfaafkan kekuatan nya untuk kesejahteraan semua penunggu disana.


Sesaat sebelum operasi dilakukan kondisi mbah Karto semakin drop dan dokterpun menyatakan jika pasien sudah tidak bisa di selamatkan karena kondisi beliau sudah drop sebelum operasi dilakukan, terlihat mbah Darmi histeris menangisi suami nya yang dinyatakan telah meninggal dunia oleh dokter.


"Bapaaaak hu hu hu, bangun pak bangun". Pekik mbah Darmi meratapi kepergian suami nya.


Setelah itu tubuh mbah Darmi pun tumbang dan tidak sadarkan diri, lalu anak laki-laki nya pun berusaha menyadarkan ibu nya kembali.


"Buk bangun to buk, sudah ikhlaskan saja bapak mungkin ini sudah jalan nya". Tukas anak mbah Karto dengan memeluk mbah Darmi yang sudah pingsan.


Dan tidak jauh darisana datanglah pak haji Faruk yang belum tau kabar tentang mbah Karto.


"Lho mas ada kok mbah Darmi pingsan begini to?". Tanya pak haji Faruk dengan mengkerutkan kening nya.


"Ibuk pingsan setelah mendengar jika bapak sudah tiada pak haji". Jawab anak mbah Karto dengan berurai air mata.


"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un". Jawab pak haji Faruk dengan membulatkan kedua mata nya.


Sedangkan Anto yang berada di belakang pak haji Faruk pun menggelengkan kepala nya seakan tidak percaya jika sesepuh desa nya yang selalu menyelesaikan berbagai masalah di desa mereka telah tiada.


"To lekaslah kau pulang terlebih dulu beritahu semua warga jika mbah Karto sudah meninggal dunia, dan minta semua warga membantu persiapan untuk pemakaman beliau". Perintah pak haji Faruk pada Anto yang sedang berdiri mematung karena shock.


Terlihat Anto hanya terdiam tanpa menjawab ucapan pak haji, setelah itu pak haji Faruk menepuk pundak Anto beberapa kali untuk menyadarkan nya dari lamunan nya.


"Hei To, kok malah melamun to". Seru pak haji Faruk menepuk nepuk pipi Anto.


"Eh iya pak haji, maaf aku kaget sekali mendengar kabar tentang mbah Karto". Ucap Anto dengan mata berkaca-kaca.


Setelah itu Anto pun bergegas kembali ke desa Rawa belatung untuk memberi kabar pada semua warga desa tentang kepergian mbah Karto untuk selama nya, setelah sampai di desa Anto pun memutuskan untuk memberitahu simbah Parti terlebih dulu karena bagaimanapun beliau juga salah satu sesepuh yang di segani di desa.


Tok tok tok...


"Assalamuallaikum, ucap Anto dengan mengetuk pintu rumah simbah Parti.


"Waalaikumsallam, sahut bude Walimah seraya berjalan ke ruang depan untuk membukakan pintu.


Cekleek...


"Eh Anto bagaimana kondisi mbah Karto di rumah sakit?". Tanya bude Walimah dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Eh anu bude saya ingin bertemu simbah Parti". Jawab Anto dengan wajah sendu nya.


"Ya sudah ayo masuk dulu To, tak panggilkan simbahnya dulu". Tukas bude Walimah seraya berjalan ke kamar simbah Parti.


Tidak lama kemudian simbah Parti pun datang menemui Anto yang sedang duduk dengan wajah sendu nya.


"Ada apa Le kau ingin bertemu denganku, apa kau ingin menanyakan kangmas mu Ari". Ujar simbah Parti dengan senyum ramah nya.


"Bukan itu mbah, aku ingin menyampaikan kabar tentang mbah Karto". Sahut Anto dengan mata berkaca-kaca.


Setelah itu Anto pun mengatakan pada simbah Parti tentang kondisi mbah Karto yang lemah karena gagal ginjal dan harus mendapatkam donor ginjal, tapi disaat dokter akan melakukan operasi keadaan mbah Karto justru semakin kritis sehingga beliau meninggal dunia sebelum dilakukan nya donor ginjal.


Nampak simbah Parti terkejut dan memegangi jantung nya yang terasa sesak dengan berderai air mata sebelum akhirnya pingsan di bangku ruang tamu nya.


Anto pun sangat panik melihat simbah Parti jatuh pingsan, lalu dia berusaha merebahkan tubuh simbah Parti di bangku panjang ruang tamu nya.


Lalu bude Walimah pun datang karena mendengar tangisan simbah Parti sebelumnya.


"Loh To simbah kenapa kok pingsan begini?". Tanya bude Walimah dengan wajah cemas.


"Anu bude simbah pingsan setelah mendengar kabar jika mbah Karto sudah meninggal dunia". Jawab Anto dengan meneteskan air mata.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un, apa kau serius To mbah Karto sudah tiada". Seru bude Walimah dengan membulatkan kedua mata nya.


Terlihat Anto hanya terdiam dengan menganggukan kepala nya membuat hati bude Walimah mencelos karena tidak percaya.


Sedangkan pak Jarwo yang berada di balik pintu ruang tamu dan mendengar semua ucapan Anto nampak menggelengkan kepala nya tidak percaya.


Ini tidak mungkin terjadi pasti ada yang salah dengan ini semua, mbah Karto tidak mungkin pergi begitu saja, batin pak Jarwo didalam hati nya.


Setelah itu pak Jarwo pun bergegas memejamkan kedua mata nya, beliau berniat ingin menggunakan mata batin nya untuk mengetahui tentang kebenaran kematian mbah Karto yang menurutnya belum saat nya untuk mbah Karto meninggal dunia.


Dan disaat pak Jarwo menggunakan mata batin nya, dia melihat sesuatu yang mencurigakan disaat raga mbah Karto berada di kamar nya seorang diri karena ada...


*


*


...Bersambung....