
Senopati nampak cemas melihat Lala berteriak kesakitan, lalu dia melesat menghampiri Lala yang sedang berdiri setengah bersandar ditembok rumahnya.
Wuush...
Sosok gaib yang berwujud Senopati itu melesat ke teras rumah Lala, tapi dia terpental ke halaman rumah, nampak sosok gaib itu tidak bisa memasuki rumah Lala, dan dia pun mengerang kesakitan karena tubuhnya terasa panas seperti terbakar, sampai akhirnya wujudnya yang sebenarnya terbongkar.
Kangmas Bagaskara, benar dugaanku pasti dia yang telah menyamar menjadi anakku, batin Lala didalam hatinya.
Kemudian Kasmi bersama pak Jarwo melangkahkan kakinya ke teras, mereka semua terkejut mengetahui jika sosok gaib yang ingin menipu Lala bukanlah suami gaibnya.
"Siapa dia La?". Tanya Kasmi pada Lala.
"Dia kangmas Bagaskara mbak, adik tiri kangmas Elang, dia yang telah membantuku selama ini, tapi dia juga berniat memisahkanku dari suami gaibku". Jawab Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Kemudian pak Jarwo mengatakan pada Kasmi dan juga Lala, jika sebelum kecelakaan makhluk gaib itu sempat menemuinya, dan mengatakan jika dia ingin membantu supaya Lala dapat berpisah dengan suami gaibnya, tapi pak Jarwo menolak bantuan makhluk gaib itu.
"Jangan-jangan kecelakaanmu tempo hari karena campur tangan makhluk itu mas". Seru Kasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Sebenarnya aku memang mempunyai firasat yang sama dengan Kasmi, tapi aku tidak bisa melihat kebenaran nya menggunakan mata batinku, batin pak Jarwo didalam hatinya.
Setelah itu Lala mengatakan pada Bagaskara, jika dia ingin hidup tenang di alam manusia, dan meminta Bagaskara untuk tidak mengganggu hidupnya lagi.
"Jika kau masih menggangguku, aku akan mengatakan semua yang kau lakukan padaku dihadapan kangmas Elang, tolong biarkan aku tenang di alamku". Seru Lala dengan wajah sendu.
Nampak Bagaskara yang sedang kesakitan tidak menjawab ucapan Lala, dia meninggalkan rumah Lala hanya dengan satu kedipan mata saja.
Wuuush...
Suasana disana menjadi sangat sunyi setelah kepergian Bagaskara, lalu pak Jarwo meminta Lala untuk kembali ke dalam kamarnya dan istirahat.
Sementara di alam gaib sana, Bagaskara kembali dengan keadaan nya yang terluka, lalu tabib istana pun datang untuk mengobatinya, dan kabar tentang Bagaskara yang terluka terdengar ke seluruh penjuru istana gaib itu, Elang yang sedang bersama Sekar di kamarnya nampak terkejut dengan kabar yang didengarnya.
"Aku harus menemui Bagaskara, kau istirahatlah dulu Sekar". Tukas Elang seraya melesat meninggalkan Sekar di kamarnya.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bagaskara, bukankah dia sudah menyembunyikan Lala di suatu tempat, batin Sekar didalam hatinya.
Kemudian Sekar pun melesat menyusul Elang yang ingin melihat keadaan Bagaskara, sesampainya di kamar Bagas, nampak tabib sedang membaluri tubuhnya menggunakan ramuan khusus.
"Apa yang terjadi padamu Bagas?". Tanya Elang dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Aku pergi ke alam manusia untuk membawa Lala kembali mas, tapi rumah itu sudah di pagar suci, sehingga aku terpental dan terluka seperti ini". Jelas Bagaskara tidak berkata yang sebenarnya.
Dan di luar kamar itu ada Sekar yang sudah mendengar ucapan Bagas, lalu Sekar memicingkan kedua matanya, dia sedang menerka-nerka perbuatan apa yang sebenarnya Bagas lakukan.
Aku tau Bagaskara tidak berkata yang sebenarnya, mana mungkin dia berniat membawa Lala kembali, batin Sekar dengan seringai diwajahnya.
Ternyata disamping Sekar sudah ada Mekar yang memandangnya dengan penuh tanya.
Kemudian keduanya masuk ke dalam kamar Bagas untuk melihat keadaan nya, terdengar Elang mengatakan pada Bagaskara, jika urusan Lala akan dia selesaikan sendiri.
"Cepat atau lambat Lala akan merindukan anaknya, dia pasti ingin menemui Senopati, dan saat itulah aku akan memintanya kembali". Ucap Elang dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Apa kau lupa mas jika Lala sudah menghianatimu, kenapa kau masih menginginkan nya berada di istana ini". Seru Sekar dengan membulatkan kedua matanya.
"Aku tidak pernah melupakan itu, aku hanya ingin anakku Senopati tidak bersedih karena jauh dari ibundanya". Tukas Elang dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Nampak Senopati mendengar semua ucapan romo nya, dan Seno pun melesat menghampiri romo nya, lalu mengatakan jika dia baik-baik saja tanpa ibundanya.
"Aku tidak apa-apa romo, biarkan saja ibundaku hidup di alamnya, aku tidak akan bersedih karena aku masih bisa berjumpa dengan nya di alam manusia". Ucap Senopati dengan menyunggingkan senyum diwajahnya.
Dasar bocah bodoh, dengan kau mengatakan seperti itu, justru kau akan membantuku menjauhkan manusia laknat itu dari romomu, batin Sekar dengan seringai diwajahnya.
"Kenapa ibu Sekar, bukankah kau senang karena ibundaku sudah tidak ada di istana lagi". Celetuk Senopati menatap tajam pada Sekar.
"Aku hanya terkejut mendengar ucapanmu, kenapa kau tidak ingin bersama ibundamu lagi, apakah kau sudah membencinya karena dia meninggalkanmu begitu saja". Tukas Sekar.
"Aku tidak pernah membenci ibundaku, aku hanya ingin ibuku bahagia dimanapun dia berada, dan kau tidak perlu memikirkan apa yang aku inginkan". Sahut Senopati memandang Sekar penuh amarah.
Kemudian Mekar menengahi ketegangan itu dan mengajak Senopati keluar dari sana, nampak Elang menatap tajam pada Sekar dan mengatakan untuk tidak berdebat lagi dengan Seno.
"Lebih baik kau jangan ulangi perbuatanmu pada Seno, jadilah ibu yang baik untuknya, seperti Mekar yang berusaha menghiburnya kapanpun itu". Tegas Elang seraya melesat meninggalkan kamar Bagas.
Kemudian Sekar membisikan sesuatu pada Bagas, tentang apa yang baru saja dia alami.
"Aku tau kau tidak berkata yang sebenarnya". Tukas Sekar dengan seringai diwajahnya.
"Aku sangat merindukan Lala mbakyu, sampai aku melakukan tindakan yang bodoh, dengan mendatanginya di rumah, dan di sekitar rumahnya sudah ada pagar suci yang akan membuat makhluk seperti kita terluka jika nekat memasukinya". Jelas Bagaskara dengan menundukan kepalanya.
"Kalau kau sudah tau hal itu, kenapa kau nekat kesana bodoh, jangan sampai kangmas Elang mengetahui niatmu yang sebenarnya". Jelas Sekar dengan membulatkan kedua matanya.
"Aku akan lebih berhati-hati lagi mbakyu, dan aku perlu bantuan Senopati untuk membawa Lala keluar dari rumahnya". Ujar Bagaskara dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Setelah itu Bagaskara mengatakan pada Sekar, jika hanya Senopati saja yang bisa membawa Lala keluar dari rumahnya, dan setelah Lala bersama Seno pergi dari rumahnya, Bagaskara akan menyamar menjadi Elang, untuk membuat Lala percaya padanya dan mau pergi bersamanya, sedangkan Senopati yang belum memiliki kesaktian yang lebih darinya, tidak akan mengetahui jika itu adalah Bagaskara yang sedang menyamar.
"Yang perlu mbakyu lakukan adalah tetap berada disamping kangmas Elang, supaya aku dapat bebas menjalankan sandiwaraku". Tegas Bagaskara dengan seringai diwajahnya.
"Baiklah Bagas apapun yang akan kau lakukan, aku selalu mendukungmu asal kau berhasil menjauhkan manusia laknat itu dari kangmas Elang". Ucap Sekar dengan mendongakan kepalanya ke atas.
*
*
...Bersambung....