DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Hawatir karena kehadiran mbah Karto.


Nampak buto ireng itu hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan mbah Karto, buto itu tau benar jika dia memberi tau mbah Karto maka pemuja nya akan terancam, dan dia kehilangan salah satu pemuja nya.


"Pergilah dari tempatku, jangan merusak kebahagiaanku karena sebentar lagi aku akan memiliki penerus". Seru buto ireng itu dengan bangga nya.


Kemudian mbah Karto pun meninggalkan dimensi gaib itu, jiwa nya kembali masuk ke dalam raga nya.


Aku akan ke desa Randu garut sekarang juga, karena Lala sengaja ditumbalkan oleh seseorang, sudah pasti orang itu adalah salah satu warga yang ada di desa itu, batin mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya yang sudah dimakan usia.


Setelah berpamitan dengan mbah Darmi, nampak mbah Karto pergi ke rumah Anto dan memintanya mengantarkan dirinya ke desa Randu garut.


"Tolong antar aku ya Le ke desa Randu garut sekarang juga". Pinta mbah Karto pada Anto yang sedang berbincang dengan Ari.


"Baiklah mbah, memangnya ada acara apa to kok buru-buru sekali". Sahut Anto yang penasaran.


"Itu lho Le si Jarwo sedang sakit, aku mau memberinya ramuan obat, sudah hampir satu minggu dia terbaring sakit di rumah mertuanya". Jelas mbah Karto tidak mengatakan segalanya.


Pak Jarwo, desa Randu garut, apa maksudnya pak Jarwo berada di desa itu, semoga saja waktu itu dia tidak melihatku, aku tidak ingin mereka semua menggagalkan rencanaku, karena mas Bima belum tau kapan bisa membantuku, batin Ari didalam hatinya.


"Mas aku mau mengantar mbah Karto dulu, apakah kau mau ikut bersamaku?". Tanya Anto dengan menepuk pundak Ari yang sedang hanyut dalam lamunan nya.


"Aku ikut kalian saja To, aku bosan di rumah terus". Jawab Ari menyeringaj.


"Kau sudah baik-baik saja to Le, jangan di ulangi lagi berhubungan dengan hal gaib, nyawa mu bisa melayang jika kau mengulanginya lagi". Tukas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Nampak Ari hanya menganggukan kepalanya saja tanpa menjawab ucapan mbah Karto, Ari tidak ingin semua orang curiga jika dia masih memiliki niat untuk bersama istri gaibnya kembali, bahkan dia sudah meminta tolong pada Bima untuk mewujudkan keinginan nya.


Sesampainya di desa Randu garut, mbah Karto meminta Anto untuk pulang saja, karena mbah Karto belum tau berapa lama dirinya akan berada di desa itu.


"Terima kasih ya Le, kau langsung pulang saja jangan menungguku, karena aku belum tau berapa lama aku disini, dan sampaikan pada mbah Darmi untuk tidak menungguku malam ini, karena sepertinya aku akan berada di desa ini untuk beberapa hari kedepan". Tukas mbah Karto pada Anto yang masih berada didalam mobilnya.


Setelah itu mbah Karto bergegas masuk ke dalam rumah mbah Sumi, karena pak Jarwo dan juga istrinya sudah menunggu kedatangan mbah Karto di depan pintu.


"Akhirnya mbah Karto datang juga". Tukas pak Jarwo seraya mengecup punggung tangan mbah Karto disusul oleh Kasmi.


"Silahkan masuk mbah, tak buatkan kopi hitam dulu ya". Ucap Kasmi dengan senyum ramahnya.


"Nanti saja nduk, aku ingin melihat keadaan Lala dulu, karena aura mistis di desa ini sangat pekat begitu aku masuk ke dalam lingkungan desa ini, apalagi setelah masuk ke dalam rumahmu aura mistis disertai bau amis darah sangat mengganggu pernafasanku". Cetus mbah Karto seraya berjalan ke arah kamar Lala.


Loh mbah Karto kok tau to kalau itu kamar Lala, batin Kasmi didalam hatinya.


"Sudah tidak usah ngebatin begitu, jelas mbah Karto tau, kau pikir tanpa datang kesini mbah Karto belum melakukan apa-apa". Celetuk pak Jarwo mengagetkan Kasmi.


"Loh kangmas kok bisa membaca pikiranku, katanya masih kurang sehat". Seru Kasmi menyipitkan kedua matanya.


"Aku memang masih kurang sehat, tapi kalau hanya untuk menebak pikiran manusia biasa sepertimu aku masih sanggup dek". Cetus pak Jarwo menyunggingkan bibirnya.


Kreeaaak...


Nampak mbah Karto mendorong pintu kamar Lala yang sudah terbuka setengahnya.


"Astagfirullahaladzim, bagaimana mungkin perutnya bisa membesar secepat ini, meskipun dia mengandung anak buto, seharusnya masih tiga bulan lagi dia akan melahirkan, tapi jika dilihat dari perutnya yang sebesar itu mungkin tidak akan lama lagi dia akan melahirkan". Ucap mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Iya mbah kami sekeluarga sudah diberitau mas Bima, jika Lala akan melahirkan dalam waktu dekat ini". Jelas Kasmi yang duduk disamping Lala.


"Bima anaknya warga desa sini mbah, dia yang sudah membantu merawat Lala selama aku terbaring di atas tempat tidur". Jawab pak Jarwo yang berkeringat dingin.


"Ya Allah Le, kau itu belum sehat lekaslah kembali ke kamar dan istirahat, aku sudah membawakanmu ramuan obat tradisional, semoga saja setelah kau meminumnya kondisimu lekas membaik". Tegas mbah Karto seraya menyerahkan satu botol ramuan obat yang diraciknya sendiri.


*


*


Sore berganti malam terdengar suara burung gagak berkicauan saling sahut, kilat menyambar dan petir yang tiba-tiba menggelegar tapi langit di atas sana tidak mendung bahkan cahaya rembulan nampak bersinar terang.


Terdengar Lala menjerit sangat keras di dalam kamarnya, perutnya berkedut sangat kencang, nampak semua orang yang ada disana panik karena Lala menjerit kesakitan.


Lalu mbah Karto pun duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Lala.


Ternyata malam itu adalah malam bulan purnama, sesuai keinginan buto ireng itu, Lala akan melahirkan bayinya, sementara Bima yang akan berjalan menuju rumah mbah Sumi nampak menghentikan langkahnya tiba-tiba.


Kenapa aku merasakan kehadiran kangmas Karto, apakah mungkin dia berada di desa ini, batin Bima di dalam hatinya.


Wuuush...


Datang asap yang membumbung tinggi membentuk sesosok buto ireng yang menyeramkan dengan bulu-bulu kasarnya yang lebat.


"Lekaslah pergi untuk menyambut kelahiran penerusku". Seru buto itu dengan air ludah yang berpercikan.


"Maafkan aku Ki, sepertinya aku merasakan kehadiran musuhku di desa ini, dia adalah kangmasku tapi kami berbeda keyakinan, aku takut jika dia sampai mengenaliku". Cetus Bima dengan bersimpuh dibawah kaki makhluk menyeramkan itu.


"Jadi manusia itu adalah saudaramu ha ha ha, dia sudah mendatangiku dan bertanya tentangmu, tapi kau tenang saja aku akan memberikanmu ilmu malih rupo sehingga manusia itu tidak akan mengenali wujudmu yang sebenarnya". Tukas buto itu seraya memberikan ajian mantra pada Bima.


Dan setelah buto ireng itu memberikan ajian mantra malih rupo, nampak Bima semakin percaya diri, karena identitas aslinya sebagai mbah Wongso tidak akan diketahui oleh mbah Karto.


Karena mbah Karto memiliki ilmu khusus yang dapat melihat wujud asli siapa pun yang menyamar sebagai orang lain, maka dari itu Bima dibekali ilmu malih rupo oleh makhluk menyeramkan itu.


Tok tok tok...


"Permisi". Seru Bima diluar rumah.


Cekleek...


"Mas Bima untunglah kau datang, Lala sepertinya akan segera melahirkan mas". Ucap Kasmi dengan wajah cemas.


"Ehm maaf apakah saya mengganggu sepertinya ada tamu di dalam". Tukas Bima dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Iya mas itu kerabat jauh kami yang datang untuk menjenguk Lala, mari mas Bima silahkan masuk". Seru Kasmi mengajak Bima masuk ke dalam rumah nya.


Setelah itu Bima nampak komat-kamit membaca ajian malih rupo supaya mbah Karto tidak dapat mengenali jati dirinya yang sebenarnya.


*


*


...Bersambung....