
Tidak menunggu lama anak pak Udin kembali bersama pak Dahlan dengan berjalan tergesa gesa, nampak beberapa warga berdatangan dengan rasa penasaran nya.
"Permisi bapak ibu, tolong beri jalan pak Hansip mau lewat dulu". Cetus anak pak Udin membelah kerumunan warga disana.
Dengan was was pak Dahlan membalik badan laki laki yang sedang terbaring di tanah itu, dan ketika dia melihat dengan jelas wajah nya, pak Dahlan pun terkejut membuatnya tidak dapat berkata apa apa.
"Ada apa pak Hansip, kenapa anda diam saja?". Tanya Amri anak pak Udin dengan menepuk pundak pak Dahlan yang masih terdiam tanpa berkata apa apa.
"I ini pak Sugeng mertua nya Ari". Cetus pak Dahlan berbicara terbata bata.
"Jika benar ini mertua nya Ari, kita harus memberitau nya sekarang juga". Tukas pak Udin dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
Kemudian warga berbondong bondong membawa jenazah pak Sugeng ke rumah Ari.
Tok tok tok...
Terlihat pak Dahlan mengetuk pintu rumah Ari, lalu terdengar suara langkah kaki mendekati pintu rumah nya.
Ceklek...
Ternyata yang membuka pintu itu adalah bu Ema, istri dari almarhum pak Sugeng.
"Eh pak Hansip ada perlu apa ya". Ucap bu Ema dengan seringai kecil di wajah nya.
"Anu itu bu, bapak ehm". Ujar pak Dahlan tidak dapat melanjutkan kata nya.
Kemudian rombongan warga datang dengan membopong jenazah pak Sugeng, nampak bu Ema sangat terkejut melihat tubuh suami nya sudah terbujur kaku dengan kondisi yang sudah sangat pucat.
"Bapaak". Pekik bu Ema berderai air mata.
Lalu Anto dan Ari keluar dari dalam rumah nya menghampiri bu Ema yang sudah tidak kuasa menahan penderitaan nya.
Braks...
Bu Ema jatuh pingsan didepan pintu rumah menantu nya, nampak Anto dan Ari segera berlari ke arah bu Ema yang sudah terbaring di lantai itu.
Kemudian kedua bersaudara itu memindahkan bu Ema ke dalam kamar nya, dan mengurusi jenazah pak Sugeng.
"Bapak bapak sekalian apa yang sebenarnya terjadi dengan mertua saya". Tanya Ari dengan wajah sendu nya.
"Tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi mas, karena saya menemukan beliau sudah terbaring di tanah kosong dekat kebun saya, lalu saya menghampirinya tapi ternyata beliau sudah tiada". Jelas pak Udin mewakili semua orang yang ada disana.
"Padahal semalam saya masih melihat bapak sehat walafiat ketika ikut melakukan pencarian bayi pak Budi". Celetuk pak Dahlan menyauti pembicaraan mereka.
Setelah pembicaraan itu bu Ema tersadar dari pingsan nya dan meminta penjelasan pada semua orang tentang kematian suami nya, semua orang yang berada disana tidak ada yang bisa menjelaskan kejadian disaat suami nya meninggal dunia.
Lalu bu Ema meminta Ari untuk melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib, tapi Ari menjelaskan pada ibu mertua nya jika dia melaporkan kasus kematian suami nya ke pihak berwajib maka polisi akan melakukan otopsi pada jenazah pak Sugeng yang arti nya jenazah suami nya itu akan di bedah untuk mengetahui penyebab kematian nya.
Setelah mendengar penjelasan menantu nya bu Ema nampak ragu membawa kasus kematian suami nya ke pihak berwajib, karena dia tidak ingin jenazah suami nya di bedah.
Kemudian pak Dahlan menjemput pak haji Faruk yang sudah pulang dari umroh untuk membantu mengurusi jenazah pak Sugeng.
"Assalamuallaikum". Seru pak haji Faruk dengan menenteng tasbih kecil di tangan kanan nya.
Pak haji Faruk memandang heran jenazah pak Sugeng yang sudah sangat membusuk dengan darah yang terus keluar dari dalam mulut nya.
"Bapak bapak mari kita mandikan jenazah ini secepatnya". Ucap pak haji Faruk yang membantu mengangkat jenazah pak Sugeng.
Lalu mereka semua mulai memandikan jenazah itu dengan bersusah payah karena darah segar terus keluar dari dalam mulut nya, dan tiba tiba jenazah pak Sugeng mengeluarkan air mata dari kedua mata nya.
"Astagfirullah, apa yang sebenarnya terjadi dengan beliau". Seru pak haji Faruk dengan mengusap dada nya.
Sementara warga yang melihat kejadian aneh pada proses pemandian jenazah terlihat ketakutan karena jenazah pak Sugeng terus mengeluarkan air mata dan juga darah segar dari mulut nya.
"Pak haji bagaimana caranya supaya darah ini tidak terus keluar dari mulut bapak mertua saya?". Tanya Ari dengan wajah cemas nya.
"Entahlah Le, kita bantu dengan doa saja semoga setelah di mandikan jenazah ini tidak mengeluarkan darah segar lagi". Tukas pak haji Faruk dengan mengernyitkan dahi nya.
Lalu pak Sapri memberi saran jika jenazah itu harus diberi batu es di atas dada nya supaya darah dari dalam organ tubuh nya membeku dan tidak keluar lagi melalui mulut nya, dan untuk air mata yang menetes di kedua mata nya hanya Tuhan yang tau kenapa.
*
*
Setelah memandikan jenazah pak Sugeng pak haji Faruk meminta Ari untuk meletakan batu es di atas dada jenazah mertua nya sesuai saran pak Sapri.
Dan benar saja perlahan darah yang keluar dari dalam mulut jenazah itu berkurang, dan pak modin mulai melakukan tugas nya yaitu membungkus jenazah pak Sugeng menggunakan kain kafan.
Tapi tetap saja jenazah nya terus mengeluarkan air mata, seperti ada yang membuat nya menyesal.
Lalu pak haji Faruk meminta bu Ema untuk menceritakan semua rahasia suami nya yang orang lain tidak tau, karena jenazah itu seperti sedang menyesali sesuatu semasa hidup nya.
Kemudian bu Ema menceritakan semua perbuatan suami nya semasa hidupnya ketika almarhum bersekutu dengan penguasa hutan angker untuk membangkitkan arwah anak nya Rara dari dalam kubur untuk membalaskan dendam kematian nya pada orang yang telah mengirimi nya santet.
Tapi setelah itu penguasa hutan angker meminta imbalan tumbal nyawa seorang bayi yang belum berumur satu bulan, entah suami nya memberi tumbal itu atau tidak karena jika almarhum suami nya tidak memberikan imbalan sesuai perjanjian makhluk gaib itu akan mengambil nyawa suami nya sebagai ganti nya.
Terlihat semua warga terkejut dan sangat marah mendengar cerita bu Ema tentang perbuatan suami nya semasa hidup nya.
"Astagfirullah begitu besar nya dosa yang beliau tanggung di akhir hidup nya, bapak ibu sekalian saya minta kerelaan nya untuk memaafkan semua perbuatan beliau dimasa lalu, insyaallah dengan ijin dari Tuhan jenazah pak Sugeng akan lebih tenang dan tidak menyesali perbuatan nya dulu". Cetus pak haji Faruk dengan memandangi semua warga yang ada disana.
Tapi tiba tiba pak Budi datang dan berteriak memaki almarhum pak Sugeng.
"Jadi kau yang telah berniat menumbalkan bayi ku makhluk gaib itu, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu". Pekik pak Budi dengan wajah yang sangat emosi.
"Tolong maafkan suamiku pak". Seru bu Ema berderai air mata meminta pengampunan dosa almarhum suami nya.
"Aku tidak sudi mengampuni perbuatan keji orang macam dia, yang dengan tega menumbalkan anak orang lain demi tujuan nya sendiri". Pekik pak Budi dengan membulatkan kedua mata nya.
*
*
...Bersambung....