
Sesampainya di rumah bu Ani mbah Karto melihat kondisi kepala Harto yang sudah dibungkus perban, nampak guratan cemas dari wajah bu Ani ketika melihat mbah Karto datang ke rumah nya.
"Bagaimana kondisimu Le?". Tanya mbah Karto yang duduk disamping Harto.
"Sudah lebih baik mbah setelah di obati pak mantri". Jawab Harto dengan menundukan kepala nya.
"Kenapa kau bisa sampai jatuh ke gorong gorong seperti mas mu Slamet waktu dulu dikejar hantu". Ucap mbah Karto mengagetkan Harto dan bu Ani yang terbelalak mendengar ucapan mbah Karto.
"Aa aku anu mbah tersandung". Seru Harto membohongi mbah Karto.
"Kau harus hati hati jika berjalan dimalam hari di desa ini banyak gorong gorong kalau kau salah jalan ya bisa terjebak didalam sana". Tukas mbah Karto dengan suara berat nya.
"Mbah tak buatkan kopi dulu ya". Cetus bu Ani yang akan bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak usah nduk aku hanya mampir sebentar karena setelah ini aku harus ke kota ada pertemuan penting". Ujar mbah Karto menenangkan bu Ani mendengar kepergian sesepuh desa itu ke kota yang akan membuatnya melancarkan aksi nya.
Setelah itu mbah Karto pergi meninggalkan rumah nya menuju rumah simbah Rania.
Tok tok tok...
Cekleek...
"Silahkan masuk mbah". Seloroh bude Walimah yang membukakan pintu.
"Bilang simbah aku menunggu nya nduk". Terang mbah Karto yang langsung duduk di kursi ruang tamu.
Lalu bude Walimah memanggil simbah yang ada di kamarnya dan berjalan ke dapur untuk membuat kopi hitam kesukaan mbah Karto.
"Yu kecurigaanku pada Ani semakin kuat, sepertinya dia meminta bantuan dari orang pintar menggunakan ilmu hitam untuk membalaskan sakit hati nya pada keluarga Jamilah tapi aku tidak bisa langsung menuduhnya begitu saja tanpa bukti". Ujar mbah Karto menatap serius ke arah simbah Rania.
"Jika memang Ani melakukan perbuatan seperti itu kita harus cepag menghentikan nya". Seru simbah dengan memakan sirih nya.
"Aku akan menghentikan makhluk gaib yang ada dirumah Jamilah dan mengirimnya kembali pada tuan nya, tapi sebelum itu aku harus bertapa di atas puncak gunung terlebih dulu". Tukas mbah Karto dengan wajah cemas.
"Ini mbah kopi nya diminum dulu". Ucap bude Walimah menyuguhkan kopi hitam pada mbah Karto.
Wuuussshh...
Peter datang melesat menghampiri mbah Karto dan menceritakan perbincangan bu Ani dan suami nya kemarin malam.
"Wah gawat ini Yu kita harus cepat menghentikan nya, siang ini aku akan langsung berjalan ke puncak gunung kerinci supaya tidak ada korban yang berjatuhan lagi". Seru mbah Karto dengan tatapan mata yang tajam.
Setelah itu mbah Karto pamit dari rumah Rania karena dia akan melakukan perjalanan ke puncak gunung siang hari itu juga, simbah Rania menatap punggung mbah Karto dari belakang terlihat guratan cemas dari wajahnya.
Tidak berselang lama nampak Rania dan Wati yang baru saja pulang sekolah, tidak terasa mereka akan lulus dari sekolah dan melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi di Sekolah menengah atas.
Setelah mengucapkan salam kedua anak gadis yang beranjak dewasa itu mencium punggung tangan simbah nya.
"Mbah besok lusa kami akan merayakan kelulusan di kota, anak satu kelas akan piknik di kota kembang". Ucap Rania dengan seringai kecil di wajah nya.
"Baiklah lebih baik ijin dulu pada orang tua kalian". Pinta simbah pada kedua nya.
Kemudian mereka berjalan masuk kedalam kamar nya masing masing terlihat Petter mengikuti Rania dari belakang.
Wuuusshh...
"Hah kau yakin Petter? jangan asal bicara kalau tidak ada bukti nya". Ucap Rania yang membaringkan tubuh nya ke atas tempat tidur.
"Aku serius Rania bahkan mbah Karto juga curiga dengan bu Ani". Cetus Petter yang sedang berdiri mengambang didepan tempat tidur Rania.
"Lalu bagaimana ini kasihan keluarga bu Jamilah jika nemang benar bu Ani yang sudah mengirimkan guna guna pada keluarga mereka". Pekik Rania seraya bangkit dari tempat tidur nya.
"Aku harus membantu mbah Karto mengawasi gerak gerik bu Ani, karena saat ini mbah Karto akan bertapa di puncak gunung Kerinci untuk menangkap makhluk gaib kiriman bu Ani yang saat ini masih ada di rumah bu Jamilah". Tukas Petter menjelaskan pada Rania.
"Baiklah Petter kau bantu saja mbah Karto, besok lusa aku harus pergi karena ada acara kelulusan dari sekolah kau disini saja ya". Pinta Rania memandang ke arah Petter.
"Ok Ran, tapi kau harus berhati hati ya jika ditempat yang baru, karena kau bisa melihat makhluk sepertiku, aku hawatir kau akan di ganggu". Jelas Petter menatap cemas pada teman nya itu.
"Tenang saja Petter aku ini sudah besar, aku akan mengatasi semua nya". Seru Rania dengan mengangkat jempol tangan nya ke arah teman hantu nya.
*
*
Hari sudah semakin malam terlihat Petter sedang menuju ke arah rumah bu Ani.
Wuuusshh...
Petter melesat kedalam kamar bu Ani yang ternyata dia sedang melakukan ritual, dilihat nya bu Ani sedang membakar dupa dengan berbagai sajen yang ada didepan nya.
"Mati kau matii". Ucap bu Ani dengan menusuk nusuk boneka santet yang sudah dituliskan nama Rara menantu perempuan bu Jamilah.
Sementara Petter terbelalak melihat perbuatan keji bu Ani, dia tidak bisa menghentikan nya karena bagaimanapun Petter adalah hantu yang lemah dia tidak bisa berinteraksi dengan manusia.
Dilihatnya tawa puas bu Ani dengan seringai yang mengerikan dari wajah nya, kemudian keluar cahaya suar berwarna hitam terbang menembus kegelapan malam menuju rumah bu Jamilah.
Sementara Petter yang melihatnya hanya bisa berdiri terpaku disana, dia tidak bisa mengikuti cahaya gaib itu karena disana ada makhluk mengerikan yang di utus untuk mencelakai keluarga bu Jamilah.
Karena jika Petter nekat masuk kedalam sana, justru dia sendiri yang akan celaka berurusan dengan hantu sakti yang bukan tandingan nya.
Kemudian bu Ani keluar dari dalam kamar nya menatap rumah bu Jamilah dari depan teras nya, dia menyeringai dengan penuh dendam.
Dari belakang nampak Harto mengikuti langkah mbakyu nya.
"Sudahlah mbak jangan kau teruskan lagi perbuatanmu itu, aku takut itu akan berbalik pada dirimu sendiri". Seru Harto menasehati bu Ani.
"Kau diam saja Har jangan ikut campur urusanku, apa kau tidak dendam pada mereka setelah semalam hantu si Jamilah itu membuatmu celaka". Tukas bu Ani menatap tajam pada adik laki laki nya.
"Aku tidak apa apa kok mbak, biarkan saja aku ikhlas dan lebih baik kau juga melupakan dendam mu itu". Ucap Harto menatap sendu pada mbakyu nya yang sudah dipenuhi dengan dendam.
*
*
...Bersambung....