DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Misteri yang terpecahkan.


Sesampainya di rumah Harto membopong mbakyu nya ke kamar nya dan memintanya untuk istirahat di kamar saja.


Terlihat bu Ani begitu terguncang dengan kematian suami nya dia terbaring tak berdaya dengan sesekali terisak mengingat almarhum suami nya.


*


*


Terlihat warga di desa itu mulai bergunjing membicarakan kejadian janggal akhir akhir ini, semua kejadian yang terjadi disana selalu berhubungan dengan hal gaib.


Tanpa mereka sadari Anto mendengar ucapan mereka, mata Anto menatap tajam ke semua orang yang ada disana.


Mereka ketakutan melihat kedatangan Anto, "Hih diam dulu nanti dia dengar", ucap bu Eni dengan mengernyitkan dahi nya.


Sementara Anto yang merasa jika ibu ibu itu sedang membicarakan nya nampak tidak nyaman dan segera melangkahkan kaki nya menjauh dari tempat itu.


Tapi disaat Anto berjalan dia berpas pasan dengan mbah Karto, lalu Anto mencium punggung tangan mbah Karto dan menceritakan keluh kesah nya tentang warga yang bergunjing tentang ibu nya yang menjadi kuntilanak dan memberitahu tentang kematian Rara yang misterius.


"Astaga aku sudah sangat terlambat". Seru mbah Karto dengan menepuk kening nya.


"Terlambat apa nya mbah". Tanya Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Lalu ada kejadian apa lagi di desa ini selama kepergianku". Jawab mbah Karto yang penasaran.


"Anu mbah pak Slamet juga sudah meninggal semalam". Tukas Anto mengagetkan mbah Karto.


"Semua ini sudah sangat keterlaluan". Ucap mbah Karto seraya berjalan menuju ke rumah Anto.


Kemudian mbah Karto meminta Anto menyiapkan bunga tujuh rupa dan sesajen yang lain nya, lalu mbah Karto menghidupkan dupa dan membacakan rapalan mantra dengan duduk bersila.


Tidak ada yang berani mendekati mbah Karto yang sedang melakukan ritual, nampak mbah Karto mengeluarkan peluh di dahi nya.


Sepertinya mbah Karto sedang bekerja keras melakukan sesuatu yang tak bisa ku lihat, batin Anto didalam hati nya.


Raga mbah Karto keluar dari tubuh nya, dia mencari makhluk menyeramkan yang membuat keluarga itu celaka.


"Pergi kau dari rumah ini". Seru mbah Karto menatap tajam ke arah makhluk gaib yang berada di rumah Anto.


"Ha ha ha... aku tidak akan pergi sebelum tuanku memintaku pulang". Ucap makhluk menyeramkan itu pada mbah Karto.


Karena makhluk gaib itu tidak mematuhi ucapan mbah Karto, dia melemparkan abu hitam yang dibawa nya dari puncak gunung Kerinci.


"Aaa panaaas". Pekik makhluk gaib itu dengan suara beratnya.


"Jika kau tidak mau kembali pada tuanmu maka aku akan memusnahkanmu dengan bantuan ayat ayat suci yang akan dibacakan oleh pak haji Faruk" Seru raga mbah Karto mengancam makhluk gaib itu.


"Ampun mbah jangan musnahkan aku, baiklah aku akan kembali pada tuanku tapi jangan musnahkan ragaku". Pinta makhluk menyeramkan itu.


Kemudian mbah Karto mengirimkan makhluk gaib itu kembali pada tuan nya, sementara mbah Sapto yang mengetahui jika pekerjaan nya diganggu oleh mbah Karto nampak sangat murka.


Dia bertekad akan membalaskan dendam pribadi nya, karena mbah Karto berani mengusir makhluk gaib kiriman nya.


Setelah urusan nya beres mbah Karto memasuki badan nya kembali, terlihat peluh nya bercucuran membuat baju yang di pakai nya hampir basah semua.


"Sudah Le, rumahmu sudah bersih dari hal gaib kalian tidak akan di ganggu lagi". Ucap mbah Karto dengan nafas tersengal sengal.


"Tapi mbah apa benar ini kiriman dari orang yang tidak suka pada keluargaku". Seru Anto menatap tajam pada mbah Karto.


"Memang benar Le, tapi kau tidak perlu membalasnya karena yang melakukan ini sudah mendapat balasan nya". Tukas mbah Karto dengan seringai kecil di wajah nya.


"Apakah bu Ani yang melakukan semuanya mbah?". Tanya Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Tanpa mereka sadari kedua orang tua Rara mendengar pembicaraan keduanya, nampak ibu Rara sangat murka dan ingin balas dendam pada bu Ani, tapi suami nya menghentikan langkah nya.


"Kau harus tenang bu, jika ingin membalaskan dendam kita ikuti saja cara nya saat dia mencelakai anak kita". Seru ayah Rara dengan membukatkan kedua mata nya.


Terlihat ibu Rara menangis dipelukan suaminya, dia bersumpah akan membalaskan kematian anak perempuan nya.


*


*


"Aku tak pulang dulu ya Le, pesanku hanya satu jangan kau ikuti amarahmu dan membalaskan dendam, karena dendam itu tidak akan berkesudahan ikhlaskan saja semua nya, sing legowo Le". Ucap mbah Karto menepuk pundak Anto.


Sementara Anto hanya terdiam dengan seringai kecil di wajah nya.


Aku tidak terima jika memang benar ibu ku meninggal karena disantet tapi apa yang harus aku lakukan, batin Anto didalam hati nya.


Setelah itu mbah Karto datang ke rumah bu Ani yang masih ramai orang melayat.


Nampak pak hajj Faruk yang masih ada disana menyapa mbah Karto dan menceritakan tentang bu Jamilah yang menjadi kuntilanak dan sepertinya dia lah yang menjadi penyebab kematian pak Slamet.


Sedangkan mbah Karto yang sudah mengerti dengan keadaan yang terjadi saat itu memberitahu pak haji jika semua ini berawal dari bu Ani yang melakukan santet pada keluarga bu Jamilah.


"Tapi aku harap kau tidak mengatakan hal ini pada siapa pun, karena jika ada warga yang mengetahui nya semua akan menjadi kacau". Tukas mbah Karto dengab mengernyitkan dahi nya.


Sementara pak haji Faruk yang memahami permintaan mbah Karto berjanji tidak akan mengatakan apapun pada semua orang di desa itu, tapi ternyata pak Dahlan mendengar pembicaraan kedua nya.


Astaga benar dugaanku jika ini ada hubungan nya dengan kedua keluarga itu, gumam pak Dahlan dalam hati nya.


*


*


Tanpa terasa hari sudah semakin gelap beberapa warga terbagi menjadi dua bagian untuk melakukan pengajian di rumah bu Ani dan juga rumah Anto.


Samar samar terdengar suara cekikikan kuntilanak di belakang rumah bu Ani.


"Jamilah tenanglah nduk jangan kau turuti amarahmu, kembalilah ke alammu". Ucap mbah Karto memandangi kuntilanak yang berada di atas pohon nangka.


Tanpa berkata kuntilanak bu Jamilah nampak marah dengan ucapan mbah Karto lalu pak haji Faruk datang bersama Anto untuk menghentikan arwah penasaran ibu nya.


"Bu kembalilah ke alammu, kami semua sudah ikhlas jangan ada dendam lagi di hatimu bu". Seru Anto dengan terisak.


Hihihihi...


Kuntilanak itu terbang tak tentu arah hendak memasuki rumah bu Ani tapi dia selalu terpental keluar karena didalam sana sedang ada pengajian.


Kemudian pak haji Faruk membacakan ayat ayat suci dan mendoakan supaya arwah bu Jamilah kembali ke alam nya dan menerima kematian nya supaya dia dapat tenang di alam kubur nya.


Nampak asap mengebul membumbung tinggi di kegelapan malam setelah itu wujud kuntilanak itu lenyap bersamaan dengan asap yang membutakan mata mereka semua.


Lalu pak haji Faruk dan juga mbah Karto menenangkan Anto supaya dia bisa sabar dengan berbagai cobaan yang keluarga nya alami, dan memintanya membawa Ari ke Dokter kejiwaan karena hilang nya akal sehat Ari tidak ada hubungan nya dengan hal gaib.


*


*


Bersambung.