DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Bu Ani pergi ke dukun!!!


Keesokan hari nya bu Ani sudah mengemasi pakaian nya yang akan dibawa ke rumah orang tua nya, sedangkan pak Slamet dititipkan untuk sementara di rumah kakak perempuan nya yang rumah nya di Desa sebelah.


Perjalanan ke rumah orang tua bu Ani melewati hutan hutan yang sangat angker pada malam hari, sesampainya bu Ani di rumah orang tua nya dia meminta segera di antar ke rumah dukun sakti yang ada di desa itu.


"Har ayo antarkan aku ke rumah mbah Sapto". Pinta bu Ani pada adiknya Harto dengan tatapan mata yang tajam.


"Oalah mbakyu baru sampai kok sudah mau pergi lagi, apa tidak capek to? ". Tanya Harto pada bu Ani.


"Aku itu ada perlu penting dengan mbah Sapto cepatlah antarkan aku ke rumah nya". Jawab bu Ani dengan mengernyitkan dahi nya.


Kemudian Harto membawa mbakyu nya itu ke rumah mbah Sapto yang ada di pinggiran hutan angker.


Setelah turun dari motor kaki bu Ani melangkah perlahan mendekati sebuah gubuk reot yang nampak menyeramkan dari luar, baru saja bu Ani mau mengetuk pintu tapi tiba-tiba saja pintu gubuk tua itu terbuka sendiri.


Kreek...


Terdengar suara pria tua yang menyambut kedatangan bu Ani dari dalam gubuk tua itu.


"Permisi mbah saya mau ada perlu". Ucap bu Ani dengan suara bergetar karena ketakutan masuk kedalam gubuk mbah Sapto seorang diri.


"Duduklah nduk tenangkan hatimu dulu baru setelah itu berbicara padaku". Ujar mbah Sapto dengan mengelus jenggot putih yang ada di dagu nya.


"Anu mbah saya mau... itu saya ehm...". Jelas bu Ani dengan gagap karena semakin panik untuk mengungkapkan tujuan nya datang ke tempat mbah Sapto.


"Sudah nduk tidak usah kau teruskan ucapanmu, aku sudah paham tujuanmu datang ke tempatku". Tukas mbah Sapto dengan seringai kecil di wajah nya.


Wajah bu Ani nampak terkejut lidah nya mendadak kelu tidak dapat berucap lagi, karena mbah Sapto bisa menebak apa yang ada didalam pikiran nya saat ini.


"Iya mbah saya sudah yakin dengan keinginan saya itu". Jawab bu Ani dengan suara yang tidak lagi bergetar.


"Baiklah apa kau sanggup dengan resiko yang harus kau tanggung? ". Tegas mbah Sapto dengan suara berat nya.


"Apa mbah semua yang aku minta ini ada resiko nya? ". Seru bu Ani dengan wajah cemas.


"Tentu saja nduk semua ada resiko nya jika kau melanggar syarat yang aku berikan". Terang mbah Sapto seraya menghidupkan dupa yang ada didepan nya.


"Lalu syarat apa mbah yang harus saya lakukan supaya tujuan saya bisa terlaksana". Ucap bu Ani dengan mengernyitkan dahi nya.


"Setiap santet yang akan aku kirimkan pada orang yang kau mau, kau harus memberikan sesajen dan juga dua ekor ayam cemani di malam jumat kliwon, ritual itu harus dilakukan tepat di jam dua belas tengah malam jika kau sampai melupakan syarat itu maka santet itu akan berbalik menyerang dirimu dan juga keluargamu sendiri". Ujar mbah Sapto dengan menatap tajam pada bu Ani.


"Baiklah mbah saya mengerti, yang terpenting adalah saya bisa membalaskan rasa sakit hati saya karena keluarga mereka sudah membuat keluarga saya menderita". Tegas bu Ani dengan penuh amarah.


"Kalau begitu besok kau kembali lah kesini bawakan aku tanah dari halaman rumah orang yang akan kau santet itu, setelah itu aku akan membalaskan dendam mu".


Setelah pembicaraan itu bu Ani meminta Harto untuk langsung mengantar nya pulang kembali ke rumah nya, tapi adiknya itu menolak dengan alasan ini sudah terlalu sore untuk melakukan perjalanan ke rumah mbakyu nya itu.


"Kita kembali ke rumah simbok saja mbakyu ini sudah hampir malam, besok aku akan mengantarmu pulang". Tukas Harto seraya mengendarai motor nya melewati jalanan setapak di hutan angker itu.


*


*


Bersambung.