DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Elang membujuk Lala kembali.


Setelah memuntahkan cairan berwarna hitam itu, tubuh Lala menjadi lemas hingga akhirnya Lala tergeletak tidak sadarkan diri.


Kemudian pak haji Faruk memberikan segelas air putih yang sudah diberi doa-doa dan meminumkan nya pada Lala, lalu Lala membuka kedua matanya dan mengatakan jika sosok suami gaibnya sudah tau keberadaan nya saat ini.


"Mbah Karto tolong selamatkan anakku Senopati, aku takut kangmas Elang murka padanya, karena anakku lah yang membawaku kembali ke alam manusia". Tukas Lala terisak pilu.


"Kau tenanglah nduk, apapun kesalahan yang anakmu lakukan, dia akan tetap baik-baik saja di alam nya, romonya tidak mungkin mencelakainya". Jelas mbah Karto.


"Tapi mbah, aku sangat menghawatirkan Senopati". Seru Lala menangis sesegukan.


"Aku mengerti kehawatiranmu nduk, tapi kau tidak bisa melakukan apapun karena kau bukan bagian dari mereka". Jelas mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Dan setelah perbincangan itu semua orang beristirahat di kamarnya, tapi sesuatu tak terduga terjadi, ada seseorang yang mengetuk jendela kamar Lala berulang kali.


Tok tok tok...


Lala yang sedang terpejam di atas ranjangnya pun terperanjat, dia bangkit dari atas ranjangnya dan berjalan mengintip dari celah-celah jendelanya.


Nampak di luar sana ada Elang yang sedang berdiri mematung menghadap jendela kamar Lala.


Bukankah itu kangmas Elang, benar dugaanku jika dia tau dimana keberadaanku saat ini, karena ruqiah tadi kangmas Elang mengetahui jika aku sudah kembali ke rumah orang tuaku, apa yang harus aku lakukan sekarang, batin Lala didalam hatinya.


Nampak Lala gelisah dan berjalan bolak-balik di dalam kamarnya, sementara Rania dan Wati yang sedang tertidur di kamar Lala mendengar suara langkah kaki yang berjalan mondar mandir di dalam sana, keduanya pun terbangun dan memandang Lala dengan penuh tanya.


"Apa yang kau lakukan disana La, kenapa wajahmu ketakutan seperti itu?". Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Terlihat Lala hanya terdiam dengan menundukan kepalanya, Lala tidak mau memberitau sahabat-sahabatnya jika saat ini suami gaibnya ada di luar sana, tapi Rania yang merasakan sesuatu sedang disembunyikan Lala, bangkit dari ranjangnya berjalan ke arah jendela kamar Lala.


Dan Rania pun mendengar suara ketukan dari balik jendela itu, Rania pun mengkerutkan keningnya seraya berusaha membuka jendela itu.


"Jangan Rania, jangan di buka jendela itu, di luar sana ada suami gaibku, aku takut jika dia mencelakaimu dan di dalam sini kita aman, karena pagar suci itu sudah dipasang oleh pak haji Faruk". Jelas Lala dengan wajah sendu.


"Apa yang ingin buto itu lakukan La, kenapa dia masih datang ke rumah ini". Seru Rania dengan mendongakan kepalanya ke atas.


"Entahlah Rania aku juga tidak tau apa yang dia inginkan, apa lebih baik aku berbicara dengan nya". Celetuk Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Jangan La, aku takut kau kenapa-kenapa". Seru Wati dengan wajah ketakutan.


Kemudian Kasmi datang ke kamar Lala karena mendengar suara gaduh di kamar itu.


"Loh kalian belum tidur kenapa?". Tanya Kasmi dengan mengkerutkan keningnya.


Kemudian Lala mengtakan pada Kasmi, jika di luar kamarnya ada suami gaibnya.


"Mbak apa yang harus aku lakukan, aku takut jika dia sampai murka dan melukai orang lain". Jelas Lala dengan mengusap peluh dikeningnya.


"Kau bicarakan semuanya pada kangmas Jarwo ya nduk, biar dia yang memberimu solusi". Tukas Kasmi seraya berjalan menemui suaminya.


Setelah itu pak Jarwo datang dan memberi saran pada Lala untuk berbicara dengan suami gaibnya dari dal kamarnya saja.


"Bukalah jendela kamarmu nduk, tanyakanlah apa maksud dan tujuan nya datang kemari". Tegas pak Jarwo dengan wajah serius.


"Aku memintamu kembali karena anak kita membutuhkan ibundanya, jika kau masih marah padaku aku tidak akan memaksamu untuk bersamaku, karena yang aku butuhkan adalah kau bersama anak kita Senopati La, tolong kembalilah untuknya". Ucap Elang memohon pada Lala.


"Kau jangan terpengaruh ucapan nya nduk, bukankah anakmu sendiri yang mengirimmu kembali kesini, itu artinya anakmu sudah siap dengan semua konsekuensi nya, dan jika anakmu rindu padamu dia bisa menemuimu kapanpun dia mau". Tukas pak Jarwo memperingatkan Lala.


Kemudian Lala mengatakan pada Elang, jika dia tidak bisa kembali ke alam gaib kembali.


"Maafkan aku kangmas Elang, aku tidak bisa mengikutimu kembali ke alam gaib, sampaikan pada Senopati jika dia merindukan ibundanya kapanpun pintu rumahku ini akan selalu terbuka untuknya, dan kau bisa berbahagia dengan kedua istrimu yang lain, lupakan saja jika aku pernah ada di hidupmu mas". Tegas Lala terisak.


Nampak Elang memandang Lala dengan wajah sendu, setengah hati Elang masih dilingkupi amarah karena mengira Lala sudah menghianatinya, tapi setengah hatinya yang lain Epang begitu memcintai Lala.


"Apakah kau bisa berbicara dihadapanku La, ada yang ingin aku bicarakan empat mata denganmu". Pinta Elang dengan menundukan kepalanya.


"Aku tidak bisa berhadapan langsung denganmu, katakanlah saja apa yang ingin kau sampaikan padaku". Tegas Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Maafkan aku La jika selama kau bersamaku aku pernah menyakitimu, dan aku akan memberimu waktu untuk berpikir selama beberapa hari". Tukas Elang seraya melesat meninggalkan tempat itu.


Kemudian Elang kembali ke alam gaib dengan hatinya yang terluka, dia mendatangi Senopati dan mengatakan yang sebenarnya jika saat ini ibundanya sudah tidak berada di istana nya.


"Anakku maafkanlah romo, romo tidak mengatakan yang sebenarnya jika sudah beberapa hari ibundamu tidak berada di istana ini, dia telah kembali ke alam manusia dan hanya kau saja yang bisa membujuk ibundamu untuk bersama kita kembali". Jelas Elang dengan wajah sendunya.


Jadi romo sudah tau dimana keberadaan ibundaku, aku tidak ingin ibundaku kembali ke istana ini, jika dia harus terluka oleh perlakuan romo padanya, batin Senopati didalam hatinya.


"Maafkan aku romo, jika ibundaku memang tidak ingin kembali ke istana ini, aku tidak bisa memaksakan nya untuk kembali". Seru Senopati dengan menundukan kepalanya.


Nampak Sekar menyunggingkan senyumnya, setelah dia mendengar jika Lala tidak ingin kembali ke istana itu.


Baguslah jika manusia laknat itu tidak akan kembali lagi, batin Sekar seraya melesat menghampiri Senopati dan juga Elang.


"Sudahlah kangmas, apa yang dikatakan Senopati itu benar dan kau harus menerima keputusan Lala, biarkan dia hidup bahagia di alamnya". Seru Sekar dengan bergelayut manja dipelukan Elang.


Sedangkan Senopati yang mengetahui niat buruk Sekar, yang memanfaatkan kondisi saat itu nampak memalingkan wajahnya dan mendengus kesal.


Satu-satunya alasanku membiarkan ibundaku tetap berada di alam manusia hanya karena kau perempuan licik, aku tidak mau kau membuat hati ibundaku semakin terluka, batin Senopati kesal didal hatinya.


Dan ternyata Mekar datang untuk memcairkan suasana dingin disana, Mekar memberi saran pada Elang jika dia harus membiarkan Lala menikmati waktunya bersama keluarganya, karena Lala hanya seorang manusia biasa, suatu saat dia akan merindukan Senopati atau bahkan merindukanmu kangmas.


"Jadi alangkah lebih baik jika kangmas memberikan Lala waktu beberapa hari, supaya dia dapat menentukan pilihan nya". Cetus Melar yang sedang merangkul Senopati.


Kurang ajar Mekar, dia telah meracuni pikiran kangmas Elang, harusnya dia mendukungku supaya kangmas Elang dapat melupakan Lala secepatnya, batin Sekar dengan membulatkan kedua matanya.


*


*


...Yuk kak berikan Vote dan gift nya supaya aku tetap semangat doubel up, selain itu kalian bisa berkesempatan mendapatkan giveaway dari author loh....


...Bersambung. ...