
Siang itu Rania dan Wati masih menginap di desa Randu garut mereka mengajak Lala untuk jalan-jalan di sekitar desa nya, tapi mbah Karto melarang mereka demi keselamatan Lala di luar sana.
"Mungkin lain waktu saja nduk jika Lala sudah mendapatkan jimat duci untuk dipakainya di luar rumah, kalian keluar saja berdua". Tukas mbah Karto dengan wajah cemas.
"Baiklah mbah kami permisi dulu mau jajan di luar". Jelas Rania seraya mengecup punggung tangan mbah Karto.
Keduanya pun berjalan kaki ke desa sebelah, karena mereka mendengar kabar jika ada penjual bakso sapi yang terkenal sangat enak disana.
"Ayo Rania cepat sedikit jalan nya, nanti kalau kehabisan bagaimana". Seru Wati yang bersemangat.
"Ini kan masih siang Wati, mana mungkin habis secepat itu". Sahut Rania dengan mengerucutkan bibirnya.
Siang itu sahabat hantu Rania tidak mengikutinya, mereka sedang sibuk dengan urusan nya masing-masing.
Hmm sepi juga berjalan sendiri tanpa ada yang mengikuti, batin Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Tanpa terasa mereka berdua sudah sampai di depan sebuah warung bakso yang sangat ramai pengunjungnya, Rania memicingkan kedua matanya memandang ke segala arah.
Tidak ada yang aneh disini, mungkin karena baksonya memang enak makanya ramai pembeli, batin Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Ayo Rania kenapa melamun disana". Seru Wati yang sudah memasuki warung bakso itu.
Kemudian Rania bergegas menyusul Wati dan duduk disampingnya, keduanya memesan bakso urat beranak dan tidak lama setelah itu datanglah semangkok bakso yang nampak sedap dipandang mata.
Wati yang tidak sabar ingin mencicipi rasa bakso itu segera memakan nya tanpa basa-basi.
"Wah enak sekali bakso ini, kuahnya saja sangat sedap apalagi bakso nya, cepatlah Rania kau coba rasa bakso ini pasti kau akan ketagihan". Seloroh Wati yang menikmati semangkok bakso nya.
Terlihat Rania membaca doa dulu sebelum memakan bakso itu, tapi yang dirasakan Rania tidak sama dengan apa yang dikatakan Wati.
Kenapa bakso ini tidak ada rasanya, tapi mereka semua memakan nya sangat lahap termasuk Wati yang mengatakan kelezatan bakso ini, batin Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nampak Rania terpaksan memakan bakso itu sedikit sampai dia melihat ada belatung di dalam kuah bakso itu seketika Rania memuntahkan bakso yang ada didalam mulutnya.
Howeeks...
Terdengar suara Rania memuntahkan bakso yang ada didalam mulutnya, membuat semua mata memandang ke arahnya, dan Rania yang merasa tidak enak akhirnya meminta maaf dengan menundukan kepalanya.
"Kau itu kenapa Rania?". Tanya Wati dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Tadi aku melihat ada belatung di dalam mangkok bakso ku, hii aku jijik sekali Wati". Ucap Rania seraya mengusap tengkuknya.
"Mana belatungnya aku mau lihat". Tukas Wati seraya mengaduk-aduk mangkok bakso Rania.
"Ah kau salah lihat Rania, lihatlah tidak ada apapun di dalam mangkok bakso ini". Jelas Wati dengan mengerucutkan bibirnya.
Lalu Rania memeriksa mangkok bakso itu sekali lagi, dan seperti yang Wati katakan tidak apapun di dalam mangkok bakso itu.
Ah mana mungkin aku salah lihat, tapi memang tidak ada apapun disana, jangan-jangan pemilik warung bakso ini memakai penglaris lagi, makanya aku merasa ada yang janggal disini, batin Rania dengan mengkerutkan keningnya.
"Wati sebelum makan kau sudah berdoa belum?". Tanya Rania yang menatap tajam pada Wati.
"Hmm aku lupa Rania, habis aroma bakso ini sangat sedap membuatku ingin cepat-cepat memakan nya". Jawab Wati dengan senyumnya.
Kemudian datanglah seorang bapak-bapak yang sedang berbincang dengan penjaga warung bakso itu dan dibelakang nya ada sesosok arwah laki-laki yang mengikuti bapak itu kemanapun dia melangkahkan kaki nya, nampak Rania memandang nya dengan penuh tanya.
Kenapa hantu itu mengikuti bapak tadi ya, dan siapa bapak itu, batin Rania dengan mengkerutkan keningnya.
Lalu Wati menepuk pundak Rania dan menanyakan kenapa dia tidak memakan bakso nya, dan Rania yang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya hanya mengatakan pada Wati jika dia sudah kenyang.
"Kan mubadzir Rania, biar aku saja yang menghabiskan nya, lebih baik kau pesankan bakso untuk semua orang yang ada di rumah Lala". Tukas Wati seraya memakan semangkok bakso milik Rania.
Kemudian Rania berjalan menghampiri penjaga warung bakso itu dan memesan lima bungkus bakso, nampak bapak-bapak yang di ikuti arwah hantu tadi ikut membantu menyiapkan pesanan bakso yang Rania pesan.
Terlihat Rania melirik ke arah hantu laki-laki itu, dia nampak menundukan kepalanya dengan terus berada dibelakang pemilik warung bakso itu, tapi tiba-tiba hantu itu menolehkan pandangan nya dan menatap nanar memandang Rania.
"Astagfirullahaladzim". Seru Rania dengan membalikan tubuhnya.
"Ada apa dek?". Tanya bapak pemilik warung bakso itu.
Kemudian Rania membalikan tubuhnya dan mengatakan jika dia melupakan sesuatu.
"Ah tidak ada apa-apa pak, saya hanya teringat sesuatu yang saya lupakan, apakah semuanya sudah selesai dibungkus pak". Jawab Rania dengan pertanyaan.
Kemudian pemilik warung bakso yang bernama pak Rahmat itu memberikan beberapa bungkus bakso yang dijadikan satu dalam satu kantong plastik, dan setelah Rania membayar semuanya mereka bergegas pergi meninggalkan warung bakso itu.
Plaak...
Terdengar Wati menepuk pundak Rania yang sedang hanyut dalam lamunan nya, kemudian Wati menanyakan apa yang sedang dipikirkan sepupunya itu.
"Apa yang mengganggu pikiranmu Rania, aku tau kau sedang memikirkan sesuatu, apakah kau masih menghawatirkan Lala?". Tanya Wati dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Tentu saja aku masih menghawatirkan Lala, tapi ada hal lain yang sedang mengganggu pikiranku saat ini". Jawab Rania dengan mendongakan kepalanya ke atas.
"Ah aku tau pasti kau sedang merindukan Aldo ya, hayoo ngaku saja". Seloroh Wati dengan tersenyum simpul.
"Kau ini jangan asal bicara Wati, apa hubungan nya Aldo dengan sesuatu yang sedang ku pikirkan, ngacau saja kau itu".Sahut Rania dengan wajah yang memerah.
"Lantas kenapa kau malu-malu begitu Rania, lihat saja wajahmu semerah tomat". Ucap Wati menggoda Rania.
"Sudahlah Wati, nanti akan aku ceritakan sesuatu yang akan membuatmu ketakutan". Cetus Rania seraya berjalan kembali ke rumah Lala.
Sesampainya di rumah Lala nampak semua orang bersiap untuk memakan bakso tadi, terlihat pak Jarwo dan juga mbah Karto sama-sama mengkerutkan keningnya dan memandang mangkok bakso itu penuh tanya.
"Apa kau merasa ada yang aneh Le". Tukas mbah Karto memandang pak Jarwo.
"Iya mbah sepertinya tukang bakso ini menggunakan penglaris, supaya dagangan nya laku keras". Jelas pak Jarwo yang memejamkan kedua matanya.
Ternyata pak Jarwo sedang menggunakan mata batin nya dan melihat jika penjual bakso itu memakai penglaris dari dukun supaya dagangan nya dapat laku keras.
"Astagfirullahaladzim, bakso ini menggunakan penglaris yang salah satu bahan nya menggunakan air ludah pocong". Tegas pak Jarwo yang berbicara dihadapan mbah Karto.
"Aku sudah menduganya Le, buang saja semua bakso itu". Perintah mbah Karto.
Nampak Rania mengusap peluh dikeningnya, Rania bersyukur tidak memakan bakso itu, sedangkan Wati yang tidak tau apa-apa nampak terkejut ketika Kasmi membuang semua bakso yang dibelinya.
"Loh bu kenapa baksonya dibuang, kan sayang belum dimakan semuanya". Seru Wati dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Entahlah Wati mbah Karto memintaku membuang semua bakso ini". Jelas Kasmi dengan menggelengkan kepalanya.
Nampak Lala pun mengkerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa mbah Karto memerintahkan Kasmi untuk membuang semua bakso yang belum sempat di makan.
"Sebenarnya ada apa ya La, padahal bakso itu sangat lezat seandainya kau sempat mencicipinya pasti kau akan ketagihan sama sepertiku". Ucap Wati dengan tersenyum simpul.
Dasar Wati, seandainya kau tau darimana rasa sedap yang kau rasakan itu, pasti kau akan muntah-muntah dan tidak akan mau memakan bakso itu lagi, batin Rania didalam hatinya.
"Sudahlah Wati jangan kau bahas lagi soal bakso itu". Jelas Rania dengan mengarahkan pandangan nya ke halaman rumah Lala.
Nampak disana ada sesosok hantu yang mengikuti pemilik warung bakso tadi, arwah hantu itu tidak dapat memasuki rumah Lala, dia berdiri mengambang menatap Rania dengan wajah sendu.
Bukankah itu hantu yang di warung bakso tadi, kenapa dia berada disini, gumam Rania pada dirinya sendiri.
Sementara Lala yang masih bisa melihat makhluk gaib nampak memberitau Rania jika ada hantu yang ingin berbicara padanya.
"Kau kenal siapa hantu itu Ran?". Tanya Lala pada Rania yang terdiam.
"Entahlah La, aku hanya pernah melihatnya sekali di warung bakso tadi". Jawab Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Lalu mbah Karto datang dan memberitau Rania, jika arwah laki-laki itu ingin mengatakan sesuatu pada Rania, dan Rania pun terkejut kenapa semua arwah yang gentayangan selalu datang mencarinya, kemudian mbah Karto menjelaskan pada Rania jika aura yang dimilikinya sangat terang dibanding manusia lain nya, maka dari itu setiap arwah yang gentayangan dan mati penasaran selalu mengikuti Rania kemanapun, karena mereka ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Tapi mbah mereka selalu merepotkanku, terkadang aku tidak tau harus berbuat apa untuk menolong mereka". Tegas Rania dengan menghembuskan nafas yang panjang.
"Ingatlah nduk kau mempunyai sahabat yang tak kasat mata, dan mereka siap membantumu kapan pun itu, mungkin Alloh menakdirkan mereka untuk selalu bersamamu supaya kau bisa membantu para arwah gentayangan itu". Cetus mbah Karto dengan suara beratnya.
Kemudian Rania memutuskan untuk menghampiri hantu laki-laki itu, dan menanyakan apa maksudnya mengikutinya sampai ke rumah Lala.
"Siapa kau sebenarnya, kenapa kau mengikutiku ke rumah ini". Tukas Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Kemudian hantu itu memperkenalkan dirinya sebagai Bambang, mantan pegawai di warung bakso itu, dia meninggal dunia karena ditumbalkan oleh pemilik warung bakso itu, karena itu lah arwah Bambang gentayangan dan mengikuti pak Rahmat pemilik warung bakso tempatnya bekerja.
*
*
...Yuk panjangkan list Vote dan hadiahnya, kalau kalian ingin Author terus semangat menulis, terima kasih semuanya 💕...
...Bersambung....