
"Tolong jangan ganggu aku Sundari". Tukas Elang mendengus kesal.
Nampak Sundari semakin mendekat dan membisikan sesuatu ditelinga Elang, membuat naluri Elang sebagai laki-laki normal bergidik kegelian.
"Menjauhlah dariku Sundari". Seru Elang berusaha menghindari perempuan cantik yang ada dihadapan nya.
Terlihat Sundari semakin nekat mendekati Elang, perempuan gaib itu tanpa malu mengecup bibir Elang.
Cuups...
Kecupan itu berlangsung beberapa detik sampai akhirnya Elang mendorong tubuh molek Sundari, dan menghempaskan nya begitu saja.
"Jangan pernah kau berbuat seperti ini padaku, aku sudah berjanji pada istriku tidak akan mendekati perempuan lain nya, bahkan kedua istriku tidak pernah lagi bersamaku, tapi kau berani sekali melakukan hal konyol itu padaku". Seru Elang seraya melesat meninggalkan Sundari.
Kurang ajar berani sekali dia menolakku, lihat saja aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, batin Sundari kesal.
Setelah itu Elang memutuskan untuk kembali ke istana nya, Elang menghampiri Senopati yang sedang terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya.
"Anakku bagaimana kabarmu hari ini, maafkan romo tidak bisa menjagamu dengan baik". Ucap Elang dengan mata berkaca-kaca.
"Romo bisakah kau berbaikan dengan ibundaku, aku rindu melihat kebersamaan kalian". Ujar Senopati lirih.
"Kami baik-baik saja anakku, tidak ada yang perlu kau hawatirkan, dan sebentar lagi obat penawar racun untukmu pasti akan segera ditemukan". Tukas Elang dengan hati yang pilu.
Beberapa hari kemudian nampak Sekar kembali ke istana Elang, dia telah pergi selama beberapa hari untuk mencari ramuan obat untuk Senopati, dan pagi itu Sekar langsung menemui Elang yang semalaman menemani Senopati di kamarnya.
"Kangmas ada yang ingin ku sampaikan padamu". Ucap Sekar memandang wajah suaminya yang terlihat tampan saat bangun dari tidurnya.
Setelah itu Elang melesat ke taman yang ada di depan sana, lalu Sekar mengatakan pada Elang jika dirinya telah menemukan obat penawar untuk Senopati, dan tabib istana boleh memeriksa contoh ramuan obat penawar itu.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan nya Sekar, lalu apa yang kau minta dariku sebagai ucapan terima kasihku?". Tanya Elang dengan dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Tapi ditengah perbincangan keduanya datanglah tabib istana yang membawa contoh ramuan obat penawar itu, dan tabib mengatakan pada Elang jika ramuan obat yang dibawa Sekar ternyata manjur dan keadaan Senopati sudah sedikit lebih baik karena tubuhnya sudah tidak terlalu dingin seperti sebelumnya.
Nampak Elang memandang haru Sekar yang telah berjasa karena telah menemukan ramuan obat untuk Senopati.
"Terima kasih Sekar, kau sudah menolong Senopati". Ucap Elang dengan haru.
"Tunggu dulu kangmas, aku belum mengatakan apa keinginanku". Cetus Sekar seraya membisikan sesuatu ke telinga Elang.
Ternyata Sekar membisikan Elang sebuah pilihan yang membuatnya sangat gelisah dan ingin marah ketika mendengar ucapan Sekar.
"Apa kau tidak waras Sekar, kau memintaku memilih antara Lala dan Senopati, aku mengira jika kau tulus memberikan ramuan penawar racun itu untuk Senopati, ternyata kau menggunakan kesempatan itu untuk memojokanku, bagaimana aku bisa memilih di antara keduanya, kau tidak bisa memintaku memilih diantara mereka berdua". Tegas Elang dengan membulatkan kedua matanya.
"Kau minta saja yang lain Sekar apapun itu, aku akan memberikan nya padamu, asal jangan memintaku memilih salah satu diantara mereka". Jelas Elang dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Setelah itu nampak Sekar memikirkan sesuatu, dia tidak mungkin memaksakan Elang lagi, karena jika Elang sampai marah padanya, Elang tidak akan lagi mau mendekatinya, dan Sekar mendapatkan ide yang lain nya.
"Baiklah kangmas jika kau tidak bisa memilih antara Lala dan Senopati, kau boleh tetap tinggal bersama Lala di istana ini tapi berjanjilah padaku jika setiap malam kau hanya akan bersamaku, aku ingin Lala merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan, saat dia merebutmu dariku dan kau tidak pernah menghabiskan malammu lagi denganku, bagaimana kangmas apakah kau setuju dengan permintaanku, jika kau menyetujuinya aku akan memberikan penawar racun ini setiap hari untuk Senopati, dengan begitu kau masih bisa bersama anakmu dan juga tetap bisa melihat Lala didekatmu, tapi ingatlah kau hanya boleh menghabiskan malammu bersamaku". Cetus Sekar dengan seringai diwajahnya.
Aku tidak mungkin menolak permintaan Sekar, karena tadi aku sudah menolaknya jika Sekar sampai marah dia tidak akan memberikan penawar racun itu untuk Seno, baiklah aku terpaksa menerima permintaan konyol Sekar, batin Elang dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Baiklah Sekar, aku menerima permintaanmu itu, tapi ingatlah kau hanya memintaku menghabiskan malam denganmu, bukan melarangku untuk bersama istriku yang lain nya". Tegas Elang dengan mengkerutkan keningnya.
Sialan kangmas Elang mempermainkanku dengan jalan pikiran nya, baiklah terserah dia saja yang terpenting setiap malam dia akan selalu bersamaku, batin Sekar seraya memeluk tubuh gagah Elang.
"Baiklah kangmas terserah kau saja, mana mungkin aku melarangmu untuk bersama istrimu yang lainnya, aku hanya memintamu untuk bersamaku setiap malam". ucap Sekar bergelayut manja pada Elang.
Kemudian Sekar memberikan beberapa ramuan itu pada tabib, dan sisanya akan Sekar berikan sendiri setiap harinya sampai Senopati benar-benar pulih.
"Aku akan menemani Senopati terlebih dulu". Ujar Elang yang berusaha melepaskan pelukan Sekar.
"Aku juga ingin menemui Senopati, dan dia harus tau jika ibu tiri nya ini yang telah menyelamatkan nya". Tukas Sekar seraya melesat bersama Elang.
Dan di dalam kamar itu nampak tabib istana sedang meracik ramuan penawar racun itu, dan Mekar yang ada disana membantu merawat Seno dan memberikan nya kasih sayang seperti seorang ibu yang sesungguhnya, lalu Elang melesat mwndekati Mekar dan mengucapkan terima kasih karena telah merawat Senopati seperti anak kandungnya sendiri.
"Kangmas tidak perlu berterima kasih padaku, meski Seno adalah anak tiriku tapi aku menyayanginya sama seperti anakku yang lainnya". Jelas Mekar dengan ramahnya.
Kurang ajar Mekar sedang mencuri perhatian kangmas Elang, padahal dia tidak melakukan apapun, batin Sekar dengan mengerucutkan bibirnya.
"Jika Senopati sembuh semua itu adalah berkat mbakyu Sekar yang telah mengembara mencari ramuan penawar racun itu". Seru Mekar memandang Sekar dengan senyumnya.
"Tentu saja Mekar kangmas Elang harus berterima kasih padaku, karena aku telah mengorbankan waktuku dan meninggalkan anak-anakku seorang diri". Terang Sekar seraya melesat mendekati Elang dan memeluknya.
Nampak Elang hanya menghembuskan nafasnya panjang karena Sekar selalu bersikap manja padanya.
"Oh iya Mekar mulai malam ini dan malam-malam berikutnya kangmas Elang akan menghabiskan malam denganku, jadi kau dan Lala harus melewati malam kalian sendirian". Tukas Sekar dengan seringai diwajahnya.
Pasti semua ini adalah permintaan mbakyu Sekar sebagai imbalan karena telah menemukan ramuan penawar racun itu, batin Mekar didalam hatinya.
*
*
...Bersambung....