
Kemudian Anto bertanya pada Lala siapakah yang mereka bicarakan, kenapa Lala terlihat sangat sedih ketika menyebut namanya, lalu Lala mengalihkan pembicaraan dengan mengajak mbah Karto ke jembatan tua, nampak mbah Karto hanya tersenyum kecil dengan tingkah Lala yang tidak ingin membahas tentang anak gaibnya Senopati.
"Baiklah mari kita pergi kesana", ucap mbah Karto seraya bangkit dari duduknya.
Sesampainya di jembatan tua itu mbah Karto melihat melalui mata batinnya, dan terjawab semua pertanyaan nya, benar dugaan Lala dan juga Anto, ternyata jiwa Rania terbawa ke dimensi alam gaib, disaat dia melihat Malik diserang hingga tak berdaya oleh sosok buto itu, seketika jiwa Rania keluar begitu saja dari dalam raganya, dan mbah Karto sendiri tidak dapat melihat keberadaan jiwa Rania di sekitar Jembatan tua itu, tapi sesepuh desa itu tidak tinggal diam begitu saja, beliau mencari lebih dalam lagi tapi beliau tidak dapat melihat apapun, lalu mbah Karto mengatakan pada Lala jika penjaga gaib yang bersama Rania telah terluka ketika berusaha menolongnya dari mangsa buto, saat penjaga gaib itu tidak mampu mengimbangi kekuatan seketika dia terkapar tak berdaya, dan jiwa Rania ingin menolong sosok penjaga nya itu, tapi yang terjadi justru diluar dugaan, jiwanya terlepas dari raganya.
"Mungkin dia sedang tersesat di alam lain, aku membutuhkan bantuan sosok seperti Senopati, supaya aku lebih leluasa menjelajahi alam gaib, bisakah kau meminta bantuannya nduk", ucap mbah Karto memandangi Lala.
Nampak Lala hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia berjalan agak menjauh dari keduanya, Lala mengeluarkan batu yang diberikan anaknya seraya menyebut namanya, beberapa saat kemudian Senopati datang ke hadapan ibundanya seraya memberikan salam, terlihat Lala langsung menghambur memeluk anaknya, sudah sekian lama mereka tidak pernah bertemu kembali, karena Lala memilih melanjutkan hidupnya tanpa ingin mengganggu kehidupan masa lalunya yang ada di alam gaib, tapi karena mbah Karto membutuhkan bantuan Senopati, Lala terpaksa memanggil anaknya ke alam manusia.
"Apa yang membuat ibunda memanggil ku, apa ada yang ibu butuhkan?".
"Senopati anakku, sekali lagi ibun harus meminta bantuanmu untuk mencari keberadaan Rania yang tersesat di alam gaib, untuk lebih jelasnya kau bisa berbicara dengan mbah Karto, bagaimana kabarmu anakku", jawab Lala dengan mata berkaca-kaca.
"Banyak yang terjadi disana bu, tapi aku tidak bisa menceritakan segalanya padamu, aku hanya ingin ibunda bahagia dengan melanjutkan hidup seperti manusia normal lainnya, aku akan selalu menjaga dan melihat ibunda dari kejauhan, kecuali ibu memanggil ku seperti saat ini, maka aku akan datang bu".
Lalu keduanya saling memeluk dan melepas rindunya, tapi Senopati melihat sekelebatan bayangan hitam yang mengitari daerah itu.
"Ibunda harus segera meninggalkan tempat ini, tidak aman bagi manusia berlama-lama disini".
Setelah itu Lala berjalan menghampiri mbah Karto dan juga Anto, nampak sesepuh desa itu menyunggingkan senyumnya memandang Senopati yang melesat di samping ibunya, Lala berkata jika Senopati akan membantu, tapi mereka harus meninggalkan tempat itu secepatnya.
"Kalian berdua saja nduk yang pergi, aku akan melakukan pencarian disekitar tempat ini, nanti aku akan pulang bersama Jarwo, karena aku juga membutuhkan nya ada disini", tukas mbah Karto dengan mengerutkan keningnya.
Setelah Anto dan Lala pergi, mbah Karto dengan bantuan Senopati menjelajahi alam gaib yang ada di sekitar jembatan tua itu, banyak jenis makhluk disana, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Rania, Senopati menegur sosok buto yang mencelakakan teman ibundanya itu, tapi sang buto mengatakan jika dia tidak berhasil mengambil jiwa Rania, karena dia hanya melukai sosok makhluk gaib yang berusaha menggagalkan rencananya untuk memangsa manusia yang akan dijadikan tumbalnya.
"Tapi aku tidak mengambil jiwa gadis itu, karena aku hanya memakan tumbal seorang lelaki saja, karena aku gagal mengambil jiwa gadis itu, sepertinya jiwanya terlepas dari raganya", jelas sang buto.
Sementara itu mbah Karto telah mendengarkan penjelasan buto penunggu wilayah itu, dan benar saja, tumbal yang diambilnya adalah seorang lelaki, setelah itu mbah Karto kembali ke alam manusia, dan beliau menghubungi pak Jarwo melalui panggilan telepon, segera pak Jarwo mendatangi sesepuh desa itu, beliau tengah duduk bersila dibawah pohon besar, disampingnya ada sosok Senopati yang berdiri mengambang menanti kedatangan pak Jarwo, lalu keduanya membahas apa yang harus dilakukan untuk menemukan jiwa Rania yang tersesat di alam antah berantah itu.
"Kita harus meminta bantuan orang tua Rania mbah, seperti dulu saat dia tersesat di alam gaib, doa ibunya lah yang menuntun nya kembali pulang, lalu Senopati juga akan mencari keberadaannya di alam gaib dibantu oleh makhluk sejenisnya", ucap pak Jarwo memberi saran.
"Tapi Le ada sosok Malik yang tiba-tiba menghilang setelah diserang buto penunggu jembatan tua, mungkinkah jiwa Rania tersesat karena mengikuti sosok Malik, aku ingin mencari dimana keberadaan Malik, dengan begitu misteri menghilang nya jiwa Rania bisa terpecahkan".
Lalu Senopati diminta menjelajahi dimensi alam gaib, seperti halnya alam manusia, di alam gaib juga banyak wilayah kekuasaan masing-masing makhluk didalamnya, dan Senopati tidak bisa memasuki nya begitu saja, kemudian Senopati kembali ke istana nya untuk meminta tolong pada Romonya, supaya dia diberi kesaktian lebih untuk melakukan negosiasi dengan berbagai penguasa alam gaib, karena hanya dengan restu Romonya saja, Senopati bisa leluasa menjelajahi dimensi gaib, sedangkan mbah Karto bersama pak Jarwo memutuskan untuk kembali ke Desa Rawa Belatung, untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk ritualnya, karena ini kali pertama bagi mbah Karto begitu susah menemukan jiwa Rania yang menghilang.
"Mbah sebelum ini Senopati mengatakan padaku, jika dia sempat melihat bayangan hitam disana, apakah mungkin bayangan itu yang membawa jiwa Rania pergi", seru pak Jarwo dengan wajah cemas.
"Ada banyak hal yang tidak bisa ku prediksi saat ini, terutama tentang sosok Malik yang ternyata memiliki ikatan dimasa lampau dengan Rania, yang ku takutkan adalah ketika jiwa Rania melupakan jalan untuk pulang ke alam manusia, karena dia mengingat kenangan nya dengan Malik, bagaimanapun kisah mereka belum selesai, semoga hal buruk itu tidak terjadi", ucap mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Karena itulah mbah kita harus meminta orang tua Rania untuk membacakan ayat-ayat suci, supaya jiwa Rania dapat mendengarkan nya, dan mengikuti suara itu", sahut pak Jarwo.
Lalu pak Jarwo menghubungi bude Walimah yang masih menjaga Rania di Rumah Sakit, terdengar pak Jarwo meminta Anggi ke rumah mbah Karto, karena ada yang harus dia jelaskan secara langsung pada orang tua Rania.
...Untuk season 2 ini akan up sedikit lama karena banyak naskah yang harus direvisi, untuk sementara baca Novel genre Romance Author yuk, sambil nunggu revisi season 2 nya, terimakasih 🙏...