DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Apakah Lala benar-benar mengandung???


Tanpa terasa hari berganti minggu kondisi kesehatan pak Jarwo semakin melemah, sepertinya beliau terlalu menghabiskan energi nya sewaktu di desa Rawa belatung, kini pak Jarwo hanya terbaring di tempat tidur karena dokter di puskesmas menyarankan beliau untuk tidak melakukan kegiatan apapun.


Sementara itu Bima yang setiap hari datang ke rumah mbah Sumi dapat leluasa memberi ramuan penyubur kandungan untuk Lala, dan setiap hari pula Bima selalu mencampurkan sesuatu di air minum pak Jarwo tanpa sepengatahuan siapa pun, selain kondisi kesehatan pak Jarwo yang menurun ternyata Bima juga menambahkan ramuan supaya pak Jarwo dan mbah Sumi selalu lemas dan terbaring di tempat tidurnya.


"Dek tubuhku ini rasanya aneh sekali, aku memang merasa tidak sehat tapi tidak terlalu parah sampai aku merasa lemah untuk beranjak dari tempat tidur ini, tubuhku yang melemah ini membuat kekuatanku juga berkurang dek, tapi aku lebih menghawatirkan kondisi Lala, jika besok aku masih belum sembuh juga pergilah ke desa Rawa belatung untuk meminta tolong pada mbah Karto". Cetus pak Jarwo yang terbaring di tempat tidur nya.


"Kau pasti akan segera sembuh mas, mungkin kau hanya kelelahan saja seperti kata dokter, apakah kau benar-benar membutuhkan bantuan mbah Karto untuk mengembuhkan Lala mas?". Tanya Kasmi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Kau tidak tau apa-apa dek, jika Lala terlambat ditolong semua akan menjadi lebih kacau". Jawab pak Jarwo dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tenang saja mas, setiap hari mas Bima datang untuk merawat Lala, bahkan sekarang Lala sudah bisa di ajak bicara meski hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya saja". Jelas Kasmi menenangkan suaminya.


"Meskipun begitu aku ingin kau memberi kabar pada mbah Karto, kalau aku belum bisa kembali kesana dan minta tolong pada mbah Karto jika tidak merepotkan mintalah beliau berkunjung kesini". Ucap pak Jarwo dengan mengusap peluh di kening nya.


"Baiklah mas mungkin besok kalau aku sempat, aku akan ke desa Rawa belatung". Sahut Kasmi seraya berjalan meninggalkan suaminya yang terbaring di atas tempat tidur.


*


*


Sementara itu Rania yang sedang mengerjakan tugas di sekolahnya nampak gelisah memikirkan Lala yang sudah satu minggu lebih tidak berangkat ke sekolah.


"Kau kenapa Ran malah melamun begitu, memangnya kau sudah selesai mengerjakan soal itu?". Tanya Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Wati apa kau tidak merasa aneh dengan Lala, dia sudah satu minggu lebih tidak mengikuti pelajaran di sekolah". Jawab Rania dengan wajah cemas.


"Iya juga sih Ran, Lala sakit apa ya". Tukas Wati mengaitkan kedua alis matanya.


"Bagaimana jika pulang sekolah ini kita menjenguk Lala sebentar, kasihan dia Wat". Ajak Rania dengan wajah sendu nya.


Lalu tiba-tiba Petter melesat dengan cepat menghampiri Rania, nampak raut wajah nya berubah sangat cemas, Petter bersikeras melarang Rania untuk pergi ke rumah Lala.


"Ayolah Rania kita langsung pulang saja, aku tidak ingin kau celaka jika pergi kesana". Bisik Petter di telinga Rania.


Nampak Rania hanya terdiam mengacuhkan Petter yang selalu melarangnya pergi ke rumah Lala, sedangkan Petter yang kesal karena omongan nya tidak di dengar teman nya itu memilih untuk pergi kembali ke rumah simbah Parti.


Kemana dia pergi tanpa berpamitan padaku, dasar hantu baper gitu aja ngambek, batin Rania dengan mengerucutkan bibirnya.


Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi Rania dan Wati bergegas untuk pergi ke rumah Lala, disepanjang perjalanan Rania bercerita pada Wati tentang makhluk menyeramkan yang ada didalam kamar Lala.


"Kau jangan menakutiku Ran". Pekik Wati dengan membulatkan kedua matanya.


"Aku berkata yang sebenarnya Wati, makanya aku curiga jika Lala sakit ada hubungan nya dengan makhluk gaib itu". Seru Rania mendengus kesal.


Sesampainya Rania dan Wati di ruma Lala, keduanya nampak berdiri berhimpitan karena Wati yang merasa takut setelah mendengar cerita Rania.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum". Seru Rania seraya mengetuk pintu rumah itu.


"Waalaikumsalam". Sahut Kasmi membuka pintu rumahnya.


Cekleek...


"Eh Rania Wati, ayo masuk nduk". Ajak Kasmi seraya berjalan ke ruang tamu nya.


"Bu bagaimana kondisi Lala, sudah satu minggu lebih Lala tidak berangkat sekolah kami semua jadi hawatir". Jelas Rania dengan memandang ke segala arah.


"Lala kenapa bu, kenapa bu Kasmi menangis?". Tanya Wati penasaran.


"Sudahlah nduk kalian masih kecil, aku tidak bisa menceritakan ini pada kalian, jika kalian ingin membantu tolong sampaikan pada mbah Karto untuk berkunjung ke desa Randu garut, bilang saja pak Jarwo sedang sakit dan membutuhkan bantuan nya". Tukas Kasmi dengan wajah sendu nya.


Tok tok tok...


"Permisi". Seru seseorang diluar sana.


Setelah itu Kasmi bergegas berjalan ke depan dan membukakan pintu rumahnya, ternyata Bima datang untuk memberikan ramuan obat yang rutin dia berikan untuk Lala.


"Mari mas langsung masuk saja, kebetulan sedang ada tamu teman-teman sekelasnya Lala" Jelas Kasmi seraya berjalan ke kamar Lala.


Gadis itu, bukankah dia gadis yang dulu akan aku tumbalkan, ya tidak salah lagi dia itu cucunya Parti, kenapa dia datang kesini, aku tidak mau rencanaku sampai gagal lagi karena gadis itu, batin Bima menatap tajam ke arah Rania.


Cekleek...


"Silahkan mas Bima masuk, saya diluar saja ya menemani teman-teman Lala". Cetus Kasmi dengan senyum ramahnya.


Kenapa laki-laki itu menatapku sinis, memangnya apa salahku, batin Rania didalam hatinya dengan mengkerutkan kening nya.


"Laki-laki tadi siapa bu?". Tanya Rania penasaran.


"Dia itu mas Bima yang membantu merawat Lala karena pak Jarwo sedang sakit nduk". Jawab Kasmi dengan memandang Lala dari luar kamarnya.


Tapi tiba-tiba Bima menghampiri Kasmi dan memberitau sesuatu padanya, nampak raut wajah Kasmi berubah pucat pasi setelah mendengar ucapan Bima.


"Astagfirullahaladzim, hu hu hu malang sekali nasibmu adikku". Seru Kasmi berderai air mata.


Terlihat Bima menenangkan Kasmi dan memintanya memberitau seluruh keluarganya tentang keadaan Lala saat ini.


"Sudah Bu tenangkanlah dirimu, lebih baik sekarang kau memberitau semua keluargamu, dan minta mereka jangan mengganggu kehamilan Lala jika kalian masih ingin Lala hidup di dunia ini, karena buto ireng itu bisa marah besar jika kalian semua mengganggu kehamilan ibu dari calon anaknya". Cetus Bima dengan wibawa nya.


Tanpa mereka sadari ternyata Rania dan Wati mendengar apa yang dikatakan Bima, nampak Wati langsung terduduk lemas karena lututnya kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya.


Sedangkan Rania yang terkejut dengan apa yang di dengarnya hanya bisa menelan ludahnya kasar.


Tidak mungkin, aku tidak percaya dengan laki-laki itu, bagaimana mungkin Lala bisa hamil anak buto ireng, batin Rania pilu didalam hatinya.


Kemudian Kasmi keluar dari dalam kamar Lala, nampak dia meminta Rania dan Wati untuk pulang ke rumahnya dan menyampaikan pesan tadi pada mbah Karto.


"Sebentar bu, bisakah kami melihat kondisi Lala". Ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Lain kali saja nduk, sekarang bukan waktu yang tepat, lebih baik kalian pulang saja lain kali datanglah kembali". Cetus Kasmi dengan mata yang berlinang air mata.


Nampak Rania tidak bisa mengelak lagi, akhirnya dia dan Wati berpamitan dan segera meninggalkan rumah Lala.


Apakah benar yang dikatakan laki-laki tadi jika Lala sedang hamil anak buto ireng, batin Rania didalam hatinya penuh tanya.


*


*


...Yuk panjangkan list hadiah dan Vote nya, jangan lupa rate bintang 5 nya ya kak kalau kalian masih mau aku double up lagi, ditunggu dukungan nya terima kasih akak semuanya 😊🙏...


...Bersambung....