DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Misteri mata batin?


Kemudian Rania berkata dengan lantang, jika dia tidak takut dengan ancaman hantu itu, Rania terus membacakan ayat-ayat suci, sementara Wati yang tidak fokus membaca doa, hanya bisa menangis sesegukan dengan memanggil-manggil nama ibu nya, lalu tubuh bude Walimah yang sudah dikuasai hantu itu turun dari atas atap rumah, dia menghampiri Wati dan mencekik lehernya dengan kuat.


"Berhentilah membaca doa jika tidak aku akan mencekik gadis ini sampai dia mati lemas hihihi." seru nya dengan mata melotot.


Seketika Rania dan Lala berhenti membaca ayat-ayat suci kedua gadis itu sangat panik, sempat terlintas dipikiran Lala untuk memanggil anaknya Senopati, tapi saat itu Lala tidak membawa batu giok pemberian anaknya, batu itu adalah media untuk memanggil Senopati ke alam manusia, tanpa itu Lala kesulitan untuk memanggil anaknya.


Plak plak plak...


Terdengar suara langkah kaki memasuki rumah itu, nampak pak Jarwo dengan kekuatan dan doa-doa nya, melemparkan tasbih ke arah bude Walimah, lalu bude Walimah berteriak kepanasan dengan tubuhnya yang menggelepar ke lantai.


"Cepat nduk ikat tubuh bude kalian menggunakan apa saja, dan kalungkan tasbih itu dilehernya, supaya arwah itu tidak berdaya, dia akan tetap bersemayam ditubuh itu, sampai aku sendiri yang akan mengirimnya kembali ke neraka." cetus pak Jarwo dengan membaca mantra-mantra jawa.


Kemudian Rania dan Lala mengikat tubuh bude Walimah menggunakan kain, dan tasbih yang dikalungkan dileher nya, sementara Wati yang masih terguncang dengan situasi saat itu, hanya bisa menangis dengan sesegukan, lehernya terluka akibat kuku tajam yang menggores lehernya, namun Wati seakan tidak merasakan sakit, karena saat itu dia lebih menghawatirkan ibu nya.


"Jangan ada yang menghubungi mbah Karto, beliau sedang beristirahat karena besok harus melakukan semedi, biarkan aku saja yang mengatasi semua ini." tukas pak Jarwo dengan mengkerutkan kening nya.


Nampak mereka semua hanya menganggukan kepala, dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya, terlihat pak Jarwo sedang membaca ayat-ayat suci, dengan sesekali membaca mantra-mantra jawa, tangan nya menyentuh kening bude Walimah seraya memejamkan kedua matanya.


"Dengan ayat-ayat suci Alloh aku akan memusnahkanmu, kembalilah ke alammu yang seharusnya." pekik pak Jarwo.


Setelah itu pak Jarwo meminta semua orang untuk membaca ayat kursi bersamaan, supaya hantu suster itu segera musnah dan kembali ke neraka.


Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa'u 'inda Huu, illa bi idznih, ya'laim wa bay ya'laim maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min 'ilmi Hii illaa bi maa syaa', wa si'a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal 'aliyyul 'adziiim.


Tidak berselang lama terlihat kepulan asap yang keluar dari atas kepala bude Walimah, nampak tubuhnya bergetar hebat dengan mata yang melotot ke atas, terdengar lantunan ayat kursi terus dikumandangkan, sampai akhirnya tubuh bude Walimah jatuh tersungkur tidak sadarkan diri, nampak kepulan asap yang membumbung tinggi mulai menghilang.


"Alhamdulillah akhirnya hantu itu sudah pergi untuk selamanya." ucap pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Ibu bangun bu huhuhu." seru Wati seraya memeluk ibu nya.


Terlihat mereka melepaskan kain yang mengikat tubuh bude Walimah, lalu Lala memberika segelas air putih pada pak Jarwo, untuk dibacakan doa-doa.


"Ini nduk minumkanlah pada ibumu, insyaAlloh dia akan segera sadar." ujar pak Jarwo seraya memberikan segelas air pada Wati.


"Kau masih harus banyak belajar Ran, kau memiliki kemampuan ini tanpa kau sadari, sebenarnya jika aku menerawang lebih dalam, sejak kau kecil kau sudah memiliki bakat melihat makhluk tak kasat mata, karena kedua orang tuamu ketakutan dengan setiap hal yang kau lakukan seorang diri, kau selalu berbicara sendiri dan melakukan sesuatu yang membuat orang tuamu cemas, akhirnya kedua orang tua mu meminta mbah Karto untuk menutup mata batinmu, tapi setelah kau besar dan kembali ke desa ini, mata batinmu terbuka lagi dengan sendirinya, dan simbah Parti menyadari bakatmu telah kembali, tapi simbah Parti melarang kedua orang tua mu untuk menutup mata batinmu kembali, karena simbah Parti memiliki firasat lain dengan kemampuanmu, akhirnya sekarang semua sudah terjawab, kemampuanmu itu diperlukan untuk membantu semua orang disekitarmu, dan jika kau mendalami kemampuanmu kau bisa menjadi sepertiku, bahkan seperti mbah Karto yang lebih hebat, berbeda dengan Lala dan juga Wati, sejak lahir mereka tidak memiliki bakat itu, hanya kebetulan saja mata batin mereka terbuka, karena itu lah hanya kau yang memiliki cukup kemampuan untuk menghadapi makhluk tak kasat mata itu, dibandingkan dengan Lala ataupun Wati." jelas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Nampak Rania terkejut mendengar penjelasan pak Jarwo, karena dia tidak menyangka jika kemampuan yang dimilikinya itu bukanlah suatu kebetulan, seperti Lala ataupun Wati.


Uhuk uhuk...


Terdengar bude Walimah terbatuk-batuk, dia memuntahkan cairan berwarna kehitaman dari mulutnya, lalu Wati pun semakin cemas, dan meminta pak Jarwo untuk menyembuhkan ibu nya.


"Tenang nduk ibumu tidak apa-apa, ini adalah proses pembersihan aura hitam dari tubuh ibumu, setelah ini dia akan baik-baik saja, satu masalah sudah selesai sekarang, hanya masalah Luna saja yang belum terselesaikan, semoga setelah ini tidak ada kejadian-kejadian buruk yang terjadi lagi." ucap pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Setelah itu pak Jarwo bangkit berdiri, dan berjalan ke teras rumah itu, terlihat lelaki itu sedang mendongakan kepalanya ke atas dengan wajah sendu, lalu Lala menghampiri kangmas nya, dan bertanya kenapa wajahnya terlihat sedih, tapi pak Jarwo hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum pada adik iparnya itu.


"Tidak ada apa-apa nduk, hatiku hanya sedikit terguncang saja, disaat aku menerawang ke masa lalu Rania, tanpa sengaja aku melihat ke masa depan, dan hal yang tidak ingin ku lihat malah terlihat begitu saja dimata batinku." ucap pak Jarwo dengan mata berkaca-kaca.


"Memangnya apa yang pak Jarwo lihat, katakanlah pada kami pak." celetuk Rania seraya berjalan mendekati pak Jarwo.


Aku tidak ingin membebani pikiran mereka, biarlah aku saja yang menanggung beban ini, batin pak Jarwo didalam hatinya.


"Tidak ada apa-apa kok nduk, hanya akan ada sedikit masalah dimasa depan, aku harap kita semua bisa menghadapinya dengan tegar." jelas pak Jarwo dengan menyunggingkan senyumnya.


Kenapa aku merasa jika pak Jarwo sedang menutupi sesuatu ya, sepertinya bukan ini yang menjadi beban dipikiran nya, batin Rania dengan mengkerutkan keningnya.


*


*


...Semoga mereka baik-baik saja ya kak, yuk terus dukung Author dengan memberikan Vote dan hadiahnya, jangan lupa baca juga novel ku yang berjudul Dendam perempuan berjubah merah, salam sayang untuk kalian semuanya 😆...


...Bersambung....