DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Ari ingin membalas dendam!!!


Dan tanpa terduga tubuh sund.l bo.ong itu mengeluarkan asap yang mengepul dan ada percikan api yang membakarnya.


Nampak api membakar seluruh tubuh sund.l bo.ong itu di tengah rintikan air hujan, sementara Ari yang melarikan diri dari rumah juru kunci kuburan itu terlihat histeris ketika melihat api membakar tubuh istri tercinta nya.


"Tidaaak... Tolong padamkan api itu". Pekik Ari seraya berlari kencang menghampiri Rara yang sudah terbakar oleh api yang entah datangnya darimana.


Lalu mbah Karto dan kedua hansip itu berusaha menghentikan Ari yang akan mendekati api yang membakar hantu perempuan yang ada didepan nya.


"Le tahanlah Ari sekuat tenaga mu, karena aku harus menyempurnakan jiwa Rara supaya tenang di alam nya". Perintah mbah Karto pada pak Dahlan dan pak Eko.


Setelah itu mbah Karto bersama pak haji Faruk mendatangi kuburan Rara dan membacakan doa-doa untuknya, supaya jiwa Rara tenang di alam nya.


Nampak dari kejauhan Anto datang menghampiri Ari yang sedang menangis histeris dengan di pegangi oleh pak Dahlan dan pak Eko, sementara api yang membakar sund.l bo.ong Rara sudab mulai padam karena guyuran air hujan.


Terlihat amarah di kedua mata Ari, dia berontak mendorong kedua hansip yang sedang memegangi kedua tangan nya.


"Lepaskan aku". Seru Ari seraya berlari menghampiri jejak Rara yang tertinggal di bekas api yang sudah padam dan menjadi abu.


Kemudian Ari berteriak memaki semua orang yang ada disana, dia mengatakan akan membalas dendam karena mereka semua telah merusak kebahagiaan nya bersama istri tercinta nya.


Sedangkan Anto yang sangat menghawatirkan kangmas nya itu, berusaha menenangkan nya dengan merangkul tubuh nya.


Tapi dengan kasar Ari menepis tangan adik laki laki nya itu, dan menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan amarah.


"Jangan mendekatiku To, kau tidak pernah perduli padaku meski kau adalah adik kandungku tapi kau bersama mereka untuk memisahkanku dengan Rara, perempuan yang sangat ku cintai, mulai sekarang aku tidak akan menganggapmu sebagai saudara". Pekik Ari dengan membulatkan kedua mata nya.


"Aku tidak pernah ingin merusak kebahagiaanmu mas, justru aku ingin kau tidak tersesat dengan keinginan konyolmu itu". Tukas Anto berusaha menjelaskan pada Ari tentang niat baik nya.


"Kau bilang aku itu konyol To, kau tidak tau rasanya bagaimana kehilangan istri yang kau cintai dengan cara yang tidak wajar, lebih baik sekarang kau jangan pernah ganggu hidupku lagi". Seru Ari dengan mendorong tubuh Anto sampai terjungkal ke tanah.


Setelah mendorong adiknya, Ari berlari meninggalkan area pemakaman itu dengan amarah yang menguasai dirinya.


Terlihat Anto berusaha mengejar kangmas nya itu, tapi dia kehilangan jejak kemana Ari pergi ditengah guyuran hujan malam itu.


Sedangkan pak haji Faruk dan mbah Karto yang sudah selesai mendoakan Rara dan merapikan kembali makam nya datang menemui Anto yang sedang kebingungan berdiri di depan pintu masuk pemakaman itu.


"Ono opo Le, neng endi masmu Ari (ada apa nak, dimana kakakmu Ari)". Tanya mbah Karto dengan menepuk pundak Anto dari belakang.


"Mbah mas Ari kabur entah kemana, aku kehilangan jejaknya". Jawab Anto dengan menundukan kepala nya.


"Sudah To, biarkan kangmas mu menenangkan dirinya dulu, mungkin saat ini dia sedang ingin sendiri". Ucap pak haji Faruk dengan seringaj kecil di wajah nya.


Setelah itu pak haji Faruk meminta Anto untuk mengadakan pengajian di rumah nya, untuk membersihkan aura gaib yang masih tertinggal di rumah nya, supaya arwah Rara dapat lebih tenang di alam nya.


Lalu mbah Karto meminta pak Dahlan dan pak Eko untuk ikut Anto ke rumah nya dan membebaskan bu Siti yang dikurung didalam gudang, dan membawa nya kembali ke rumah nya.


"Tapi mbah, apa yang harus aku perbuat pada bu Ema, karena semua kejadian ini terjadi pasti tidak lepas dari campur tangan nya". Seru Anto dengan membulatkan kedua mata nya.


Dan setelah perbincangan itu Anto bersama kedua hansip itu berjalan menuju ke rumah Anto, tapi sesampainya di rumah Anto, mereka bertiga terkejut karena melihat bu Ema sudah terkapar di depan pintu kamar nya dengan mulut yang berbusa.


"Astaga apa yang beliau lakukan". Ucap pak Dahlan dengan berjalan pincang ke arah bu Ema yang sudah terbaring di lantai.


"To kau bawa bu Ema ke rumah sakit terdekat dulu, biarlah kami yang akan mengurus bu Siti". Tukas pak Eko berusaha membopong bu Ema ke sofa yang ada di ruang tamu.


Setelah Anto menyiapkan mobilnya pak Eko membantu Anto untuk memindahkan bu Ema masuk kedalam mobil dan dengan cepat Anto bergegas mengemudikan mobil nya menuju ke rumah sakit terdekat, supaya ibu mertua kangmas nya itu dapat diselamatkan nyawa nya karena dia telah meminun obat serangga.


Sementara kedua hansip yang berada di rumah Antk berusaha membebaskan bu Siti yang berada di gudang belakang rumah itu.


"Bu apakah kau baik-baik saja". Tanya pak Dahlan dengan berjalan pincang karena lutut nya masih terasa sakit.


Lalu pak Eko melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki bu Siti, nampak bu Siti berderai air mata saat kedua hansip itu berusaha melepaskan nya dari gudang gelap yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.


"Pak tolong bawa aku pulang ke rumah sekarang juga, jika tidak hantu Rara akan mencelakai kita disini". Seru bu Ema dengan wajah ketakutan.


"Kau tenanglah bu, sekarang Rara sudah kembali ke alam nya, baru saja mbah Karto dan pak haji Faruk mengalahkan sund.l bo.ong Rara". Tukas pak Dahlan dengan memegangj lutut nya yang ngilu.


"Mari bu kami antar kembali ke rumahmu, karena disana sudah ada mbah Karto dan juga pak haji Faruk yang sedang menunggumu". Cetus pak Eko seraya berjalan keluar dari rumah Anto.


Sementara diluar rumah itu nampak Ari sedang berdiri memandangi mereka bertiga dengan mata yang penuh dendam dan kebencian.


Kalian semua akan merasakan penderitaan yang aku alami saat ini, tunggu saja aku akan membalaskan dendam ini karena kalian sudah memisahkanku dari istriku, batin Ari didalam hati nya.


Kemudian Ari berjalan tergesa gesa menuju ke hutan angker tempat dimana istri gaib nya bersemayam, kali ini dia datang tanpa membawa sesajen apapun, tapi dia mempersembahkan darah nya sendiri untuk memanggil istri gaib nya itu.


Sreet...


Nampak Ari menggores telapak tangan nya menggunakan silet yang ada di dompet nya.


"Wahai Sukma melati istriku, dengan darah yang menetes di pohon keramat ini aku memanggilmu untuk datang menemuiku". Seru Ari dengan membulatkan kedua mata nya.


Setelah itu datang angin kencang yang berhembus ke segala arah membuat buli kuduk Ari meremang, nampat kilatan petir menyambar memyilaukan mata nya.


Dan tiba-tiba saja ada kepulan asap yang membumbung tinggi didekat pohon keramat itu, lalu tercium wangi semerbak bunga melati menandakan sosok wanita cantik anak penguasa alam gaib itu akan segera datang.


Terlihat sosok perempuan cantik dan anggun memakai baju adat kebaya sedang berdiri memandang ke arah Ari, dengan sorot mata yang dingin tapi penuh dengan kerinduan untuk suami tercinta nya itu.


*


*


...Bersambung. ...


...Tinggalkan jejak dengan like atau komentar di bab ini supaya author semakin semangat nulis nya ya kakak" tercinta salam sayang untuk kalian semua 💕...