DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Membalas dendam pada warga.


Penguasa gaib itu bertanya pada Ari tentang rencana yang akan dia lakukan selanjutnya, lalu Ari menjelaskan jika dia berniat membalaskan dendam pada warga desa Rawa belatung.


"Apa kau membutuhkan bantuanku?". Tanya penguasa gaib dengan wibawa nya.


Lalu Sukma melati menyahuti pertanyaan Romo nya dengan lembut.


"Tidak perlu Romo biarkan aku yang akan membantu suamiku". Jawab Sukma melati dengan seringai kecil di wajah nya.


Setelah itu pertemuan di pendopo pun selesai semua makhluk gaib pergi meninggalkan tempat itu satu persatu, sementara Ari bersama Sukma melati segera melakukan ritual untuk membalaskan dendam suami tercinta nya itu.


*


*


Sedangkan di desa Rawa belatung malam itu terasa sangat mencekam, udara dingin menyeruak ke seluruh penjuru desa, nampak binatang malam tidak menampakan wujudnya suasana begitu sunyi bahkan suara binatang malam pun tidak terdengar seakan ada sesuatu yang akan terjadi di desa itu.


Dari kejauhan nampak seekor macan tutul sedang berjalan bebas di semak-semak perkebunan warga, lalu dia mengaum dengan kencang membuat kedua hansip yang sedang berpatroli disana menjadi terkejut karena mendengar suara auman binatang buas.


"Lan apa kau mendengar suara itu". Ucap pak Eko dengan mengusap belakang tengkuk nya.


"Iya kang aku juga mendengarnya, sepertinya ada binatang buas yang memasuki desa kita". Seru pak Dahlan dengan berjalan pincang.


"Gawat ini Lan, jika binatang buas itu sampai melukai warga desa". Tukas pak Eko dengan mengarahkan senter nya ke semak-semak.


"Kang apa kau tidak merasa suasana malam ini berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini terasa sangat sunyi sekali seperti tidak ada kehidupan binatang malam". Jelas pak Dahlan dengan mengernyitkan dahi nya.


"Aku juga merasa begitu Lan, bahkan tadi aku melihat banyak belatung di bawah bale pos kampling". Terang pak Eko mengagetkan pak Dahlan.


"Kau yakin kang melihatnya, bukankah biasa nya jika ada banyak belatung di desa ini akan ada orang yang meninggal". Seru pak Dahlan dengan membulatkan kedua mata nya.


"Itu kan dulu Lan, sewaktu mbah Wongso masih ada di desa ini, tapi kan sekarang dia sudah pergi". Tukas pak Eko dengan seringai kecil diwajah nya.


Dan belum selesai pak Dahlan menjawab perkataan pak Eko, tiba-tiba saja ada seekor macan tutul yang berdiri di depan mereka berdua.


Nampak macan tutul itu menatap tajam ke arah kedua hansip itu, dengan suara auman nya membuat pak Dahlan dan pak Eko bergetar karena ketakutan.


"Kang bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan". Ucap pak Dahlan dengan suara yang bergetar.


"Kita tidak mungkin melawan binatang buas ini hanya berdua saja, lebih baik kau pergilah memanggil warga yang lain nya, biarkan aku yang akan memancing nya pergi menjauh darimu, supaya kau dapat memanggil warga yang lain nya". Cetus pak Eko dengan menelan ludah nya kasar.


"Tapi kang, jika macan tutul itu mencelakaimu bagaimana". Seru pak Dahlan dengan wajah yang cemas.


"Mau bagaimana lagi Lan, salah satu dari kita harus melakukan itu, jika tidak semua warga desa bisa celaka karena binatang buas ini akan bebas berkeliaran di desa kita". Terang pak Eko dengan menepuk pundak pak Dahlan seraya menyuruh nya segera pergi dari tempat mereka saat ini.


Setelah itu dengan berjalan pincang pak Dahlan berusaha melarikan diri dari sana, tapi macan tutul itu seakan tidak ingin membiarkan pak Dahlan pergi begitu saja.


Lalu macan tutul itu mengaum kencang dengan gigi taring nya yang runcing memenuhi rongga mulut nya membuat pak Dahalan ketakutan sehingga jatuh tersungkur di tanah begitu saja, kemudian macan tutul itu hendak menerkam pak Dahlan yang sudah tidak berdaya itu.


Nampak pak Eko berusaha mengalihkan perhatian macan tutul itu dengan melemparinya menggunakan batu.


Klotak klotak...


Lemparan batu itu jatuh ke tanah setelah mengenai tubuh macan tutul itu, lalu macan tutul itu mengalihkan perhatian nya pada pak Eko yang masih melempari nya dengan batu, dengan cepat binatang buas itu melompat ke arah pak Eko dan berusaha mencelakai nya.


Dengan langkah seribu pak Eko berlari kencang dengan berteriak pada pak Dahlan untuk segera pergi dari sana dan memanggil beberapa warga untuk membantu mereka menangkap macan tutul itu.


Sementara pak Eko mengalihkan perhatian macan tutul itu dengan membawa nya ke sebuah kebun supaya tidak ada warga yang terluka karena binatang buas itu.


Semoga Dahlan bisa menemukan ku di kebun ini secepat nya karena kalau tadi aku tidak mengalihkan perhatian macan tutul itu, dia bisa habis dimangsa oleh binatang buas itu, batin pak Eko didalam hati nya.


Lalu pak Eko berusaha menghindari macan tutul yang sedang mengancam nyawa nya dengan cara menaiki batang pohon yang ada didepan nya, nampak macan tutul itu sangat marah karena dia tidak bisa mencelakai manusia yang ada didepan nya.


Binatang buas itu mengaum dengan kencang, sehingga badan pak Eko bergetar tidak karuan, terlihat wajah pak Eko sangat cemas dan pucat menantikan warga lain nya datang untuk menolong nya.


Dan tiba-tiba saja ada ular sanca yang sangat besar sedang bergelatungan di dahan pohon yang sedang dia naiki, terlihat pak Eko sangat terkejut dan dia terjatuh dari atas dahan pohon itu.


Bruuk...


"Aduh... ". Pekik pak Eko dengan memegangi punggung nya.


Tapi belum sempat pak Eko mencerna keadaan macan tutul itu dengan cepat mengoyak pakaian yang dia pakai, membuat sebagian tubuhnya terluka karena goresan gigi taring binatang buas itu.


Kemudian pak Eko berusaha bangkit dan berdiri tapi badan nya masih terasa sakit akibat terjatuh dari atas pohon sana, lalu macan tutul itu berusaha menerkam pak Eko yang sudah tidak berdaya, macan tutul itu mencakar dan mencabik sebagian tubuh pak Eko sehingga punggung pak Eko terluka dengan luka sobek yang sedikit menganga.


Ya Allah tolong selamatkan hambamu ini dari incaran binatang buas yang saat ini ada dihadanku, batin pak Eko berdoa didalam hati nya.


Setelah itu pak Eko berusaha berdiri dengan menahan semua rasa sakit yang dia rasakan saat itu, tapi lagi-lagi macan tutul itu bergegas melompat mendekatinya kuku runcing dan tajam itu menusuk ke bagian kaki pak Eko dan membuatnya menjerit kesakitan.


Sementara beberapa warga bersama pak Dahlan yang sedang mencarinya mendengar teriakan nya dari arah kebun mangga pak Sapri, lalu mereka semua berlari ke kebun itu dengan tergesa-gesa.


"Pak kalian larilah lebih dulu kesana jangan menungguku, karena kaki ku masih sedikit sakit dan tidak bisa berlari kencang, jika kalian tidak segera sampai kesana aku takut kang Eko akan dimangsa macan tutul itu". Seru pak Dahlan setengah berteriak pada beberapa warga yang ada di depan nya.


*


*


...Bersambung....