DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Penyelidikan polisi!!!


Kemudian polisi memasang garis polisi menutupi TKP penemuan mayat, nampak Aceng bersama istrinya sedang dimintai keterangan oleh polisi yang ada disana, sedangkan Astuti sedang menunggu giliran untuk dimintai keterangan.


Kemudian mobil ambulance pun datang, mayat itu segera dimasukan ke dalam kantong mayat dan dibawa ke dalam ambulance.


Terdengar Aceng mengatakan sesuatu tentang pak Rahmat, karena dia mencurigai kedatangan laki-laki itu subuh tadi.


"Saya memang mencurigai seseorang pak, tadi dia bukanlah warga desa ini." jelas Aceng pada pak polisi.


"Siapa yang bapak curigai, dan dimana dia tinggal?." tanya polisi itu.


"Nama nya pak Rahmat dia seorang pedagang bakso, yang berdagang di dekat desa Randu garut, subuh tadi dia datang untuk membeli sayuran dari kebun saya, dan yang paling membuat saya curiga, saya melihat ada noda darah di lengan baju pak Rahmat, karena saya sungkan untuk bertanya, saya hanya diam saja dan menerka-nerka apa yang dilakukan pak Rahmat, sehingga ada noda darah di baju nya." jawab Aceng dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Apakah ada lagi yang bapak ketahui tentang pak Rahmat?." Tanya polisi itu.


"Saya hanya mengetahui itu saja pak, karena saya tidak mengenalnya sama sekali, dan hanya bertemu sekali saja." jawab Aceng dengan mengkerutkan keningnya.


Lalu polisi pun menanyai pertayaan yang sama pada istri Aceng, dan istri Aceng pun menjawab hal yang sama seperti Aceng tentang darah disekitar sumur itu.


"Tapi saya tidak mengenal laki-laki yang dimaksud suami saya pak, bahkan wajah nya belum pernah saya lihat." tukas istri Aceng yang mengaitkan kedua alis matanya.


Setelah itu giliran Astuti yang dimintai keterangan, dan dia pun mengatakan semua yang dilihatnya, dan setelah semua selesai, polisi pun mulai melakukan penyelidikan disekitar lokasi, dan banyak warga yang melihat dari kejauhan.


Nampak komandan polisi yang ada disana memberi perintah pada beberapa anak buahnya, untuk mencari tau dimana keberadaan pak Rahmat yang berdagang bakso disekitar desa Randu garut.


"Cari laki-laki yang berdagang bakso disekitar desa Randu garut, namanya adalah pak Rahmat setelah kalian mengetahui lokasi nya, segera bawa laki-laki itu ke kantor polisi." jelas komandan polisi itu.


Setelah mendapat perintah dari komandan nya, dua orang polisi mengemudikan mobil menuju desa Randu garut, nampak semua warga desa disana keluar dari rumahnya, termasuk pak Jarwo dan juga Kasmi yang bergegas keluar dari dalam rumahnya.


"Loh mas itu kan suara sirine, sirine ambulance atau bukan ya kira-kira." ujar Kasmi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tidak tau to dek, mari kita keluar dan melihat ada apa sebenarnya." ucap pak Jarwo seraya melangkahkan kakinya bersama Kasmi keluar dari dalam rumah.


Nampak di luar sana ada mobil polisi yang sedang terparkir di pinggir jalan, lalu dua orang polisi itu bertanya sesuatu pada warga yang ada disekitar sana, tapi tidak ada yang mengetahui siapa yang dimaksud polisi tersebut, sampai akhirnya kedua polisi itu berjalan menghampiri Kasmi dan juga pak Jarwo.


"Selamat siang pak apakah bapak atau ibu, mengenal seorang pedagang bakso yang bernama pak Rahmat?." tanya seorang polisi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Pak Rahmat pedagang bakso, apakah juragan bakso yang menggunakan penglaris itu yang dimaksud bapak polisi ini, batin pak Jarwo didalam hatinya.


"Setauku tidak ada yang nama nya pak Rahmat yang berjualan bakso, yang berjualan bakso disini nama nya Ateng dan Wisnu pak, apakah pak polisi yakin yang bersangkutan berdagang di desa ini." seru Kasmi dengan wajah yang serius.


Dan dua polisi itu menjelaskan pada Kasmi, jika pak Rahmat itu berdagang di dekat desa Randu garut, jadi mereka mencarinya disekitar desa itu.


"Jika memang begitu ada nya, sepertinya saya mengetahui pak Rahmat yang bapak-bapak polisi ini cari, sebelumnya saya ingin tau pak, memangnya ada masalah apa bapak-bapak polisi ini mencari beliau?." tanya pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.


"Berdasarkan laporan dari warga di dekat perkebunan sana, pak Rahmat dicurigai terlibat dengan tindakan kriminal yang terjadi disana, tapi ini masih kecurigaan polisi saja, karena itu lah kami mencari beliau di desa ini, karena kami harus meminta keterangan dari yang bersangkutan." jawab salah satu polisi itu.


Kemudian pak Jarwo menunjukan warung bakso pak Rahmat, yang ada di desa sebelah itu.


"Itu pak warung bakso nya, silahkan bapak-bapak bertanya pada yang bersangkutan." ucap pak Jarwo seraya berjalan bersama kedua polisi itu menghampiri pak Rahmat yang masih sibuk meracik beberapa mangkok bakso.


Kenapa ada polisi yang berjalan ke warungku, sepertinya mereka kesini bukan karena ingin membeli bakso, batin pak Rahmat yang ketakutan.


"Selamat siang pak, apakah benar nama bapak ini Rahmat?." tanya polisi itu menatap tajam pada pak Rahmat.


"Iya pak nama saya Rahmat, ada perlu apa bapak-bapak polisi ini datang ke warung saya." jawab pak Rahmat dengan keringat yang bercucuran.


"Kami mendapat laporan jika pak Rahmat tadi pagi sempat berada di kebun sayur sawi, apakah bapak mengenal pak Kardi atau Aceng." tukas polisi itu menatap tajam pada pak Rahmat.


Aduh gawat apa yang harus ku katakan pada polisi ini, sebenarnya apa yang telah terjado disana, jangan-jangan mayat Pardi sudah ditemukan, batin pak Rahmat seraya mengusap peluh dikeningnya.


Nampak pak Jarwo mengamati tingkah laku pak Rahmat yang terlihat ketakutan, lalu pak Jarwo berusaha melihat melalui mata batin nya, setelah pak Jarwo memejamkan kedua matanya, terlihat dengan jelas semua perbuatan pak Rahmat, ternyata pak Rahmat sudah membunuh Pardi, karena Pardi berniat melaporkan semua yang dilakukan nya pada mayat Bambang.


Jadi pak Rahmat sudah melakukan tindakan kriminal, laki-laki ini tetnyata nekat melenyapkan nyawa seseorang demi keuntungan nya sendiri, batin pak Jarwo seraya membuka kedua matanya dan menatap tajam ke arah pak Rahmat.


Terlihat pak Rahmat sangat cemas karena ada, tiga laki-kaki yang sedang memandangnya dengan penuh tanya, lalu polisi itu meminta pak Rahmat untuk ikut bersama mereka ke kantor polisi.


"Pak Rahmat tolong segera ikut kami ke kantor polisi, karena ada yang ingin kami tanyakan pada bapak." jelas polisi itu dengan suara beratnya.


"Tapi warung bakso saya bagaimana pak, semua karyawan saya sedang tidak ada, jadi hanya saya yang berada disini." ucap pak Rahmat dengan wajah yang sangat panik.


Lalu polisi itu meminta pak Rahmat untuk menutup warung bakso nya, karena penyelidikan harus segera dilakukan, dan dengan berat hati pak Rahmat menuruti perintah polisi itu dan segera menutup warung bakso nya.


Sialan aku bisa dalam bahaya, jika perbuatanku pada Pardi diketahui polisi-polisi ini, apa jangan-jangan mayat Pardi sudah ditemukan, lalu ada warga yang melihatku, batin pak Rahmat yang sedang sibuk membereskan perkakas di dapur.


Terlihat pak Jarwo ingin sekali mengatakan sesuatu pada pak Rahmat, supaya pak Rahmat mengakui semua perbuatan nya, lalu pak Jarwo melangkahkan kaki nya mendekati pak Jarwo dan mengatakan sesuatu yang membuat pak Rahmat terkejut dan menjatuhkan beberapa mangkok baksonya.


Pyaaar...


Terdengar suara mangkok dan gelas yang pecah, lalu kedua polisi itu bergegas masuk ke dalam dapur dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


*


*


...Terima kasih buat kalian yang selalu mendukungku, tanpa dukungan dari kalian semua aku tidak akan bisa melanjutkan cerita ini 🙏...


...Bersambung....