
"Le jujurlah padaku sebenarnya ada apa, kenapa perasaanku mengatakan jika ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, kau pasti tau jika kondisi kesehatanku menurun, aku tidak bisa menerawang kejadian apa pun." ujar mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"InsyaAlloh mbah tidak ada apa-apa, mbah Darmi sedang bersiap untuk ke rumah sakit, sebentar lagi Anto akan datang menjemput." jelas pak Jarwo berusaha bersikap baik-baik saja.
Srek srek srek...
Terdengar suara langkah kaki mbah Darmi, nampak beliau menghampiri mbah Karto, seraya mengecup punggung tangan suami nya itu.
"Pak aku ke rumah sakit dulu, doakan saja supaya kondisi mereka baik-baik saja." ucap mbah Darmi dengan mata berkaca-kaca.
"Iya bu hati-hati di jalan, jika ada apa-apa hubungi saja aku." tukas mbah Karto dengan terbatuk-batuk.
Setelah itu mbah Darmi pergi bersama Anto ke rumah sakir, sesampainya disana sudah ada Rania dan juga Lala, yang berjalan menghampiri mbah Darmi, nampak kedua gadis itu memeluk mbah Darmi dengan wajah sendu.
"Mbah kondisi tante Wulan sangat kritis, saat ini dokter sedang menunggu persetujuanmu, mari mbah kami antar ke ruang dokter sekarang." seru Rania dengan wajah cemas.
Nampak mereka semua berjalan ke ruangan dokter, mbah Darmi bersama Rania masuk ke dalam ruangan, terlihat dokter menjelaskan pada mbah Darmi, jika operasi dibagian kepala sangat riskan, jadi resiko nya akan sangat besar.
"Kami memohon doa dari pihak keluarga, supaya operasi ini dapat berjalan dengan lancar, dan apapun hasilnya kita pasrahkan saja pada Tuhan." ujar dokter itu dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Nampak diluar ruangan itu, terlihat Anto memberi perhatian pada Lala, Anto tau jika Lala dan juga Rania belum makan ataupun minum, Anto menawarkan membelikan nya makan dan juga minuman, tapi Lala merasa sungkan, dan mengatakan jika dia belum lapar ataupun haus.
Ceklek...
Terlihat Rania berjalan dengan memapah mbah Darmi, perempuan tua itu nampak sangat lemah, setelah mendengar penjelasan dokter, tentang kondisi adik ipar nya itu.
"Lho mbah Darmi kenapa Ran?." tanya Anto seraya menghampiri mbah Darmi, dan memapahnya ke sebuah bangku.
"Sepertinya mbah Darmi terkejut mas, dokter mengatakan jika operasi yang akan dilakukan sangat riskan, dan keberhasilan nya belum pasti, karena itu lah mbah Darmi menjadi seperti ini." jawab Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Mas Anto kali ini bisa membelikan makan atau minum, biar mbah Darmi sedikit bertenaga, aku pun jadi tidak tenang setelah mendengar penjelasan Rania." ujar Lala dengan mengusap peluh dikening nya.
Setelah itu Anto pergi ke kantin rumah sakit, sementara di depan ruang IGD, ada Wati bersama Yudistira yang datang, Yudistira menawarkan diri untuk mengantarkan Wati, menemui Rania dan juga Lala, tapi di depan IGD itu mereka semua tidak ada, Yudistira menggunakan kekuatan nya untuk melihat dimana keberadaan Lala, nampak dia membulatkan kedua matanya, karena dia melihat Anto tengah memberi perhatian yang lebih pada Lala.
Siapa laki-laki itu, berani sekali dia mendekati Lala, batin Yudistira mendengus kesal.
Terlihat Wati menatap bingung wajah Yudistira, wajah lelaki itu tiba-tiba memerah dengan mata yang membulat.
"Yudistira apa kau baik-baik saja, kenapa kau seperti orang yang sedang marah." seru Wati dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gawat gadis ini menyadari kekesalanku, aku tidak boleh membuatnya curiga, batin Yudistira dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Dan belum sempat Yudistira menjelaskan, nampak Rania bersama yang lain nya, tengah berjalan kembali kesana, terlihat Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap bingung kehadiran Yudistira disana.
"Dia mengantarkanku Rania, tadi ban motorku bocor, untung saja ada dia yang mau mengantarku kesini." jawa Wati menjelaskan.
Tapi tiba-tiba suasana di dalam ruangan IGD sangat gaduh, beberapa suster berlarian, dan datanglah dokter yang berlari ke dalam ruangan itu, nampak mereka semua mendadak panik, dan terdiam tanpa kata, sampai akhirnya dokter itupun keluar dan menghampiri mereka semua.
"Dengan berat hati saya harus menyampaikan, jika kondisi saudari Luna tiba-tiba koma, padahal sebelum ini kondisi nya stabil, mohon untuk keluarga lebih tabah lagi, karena satu jam lagi kami juga harus melakukan operasi pada ibu Wulan." tukas dokter itu dengan menundukan kepala nya.
Nampak mbah Darmi sangat terkejut mendengar penjelasan dokter, tubuhnya lemas mata nya berkunang-kunang, lalu Anto menopang tubuh mbah Darmi, seraya memapahnya ke kursi.
"Mbah yang sabar ya, ini diminum dulu, mbah Darmi tidak boleh jatuh sakit disaat seperti ini, apalagi kondisi mbah Karto juga sedang kurang sehat." ucap Anto seraya memberikan segelas teh hangat.
Tanpa mereka tau kondisi Luna yang tiba-tiba koma, adalah karena ulah arwah Pardi, dia memasuki alam bawah sadar Luna, dan membawa jiwa nya ke alam lain, Luna yang merasa itu hanyalah sebuah mimpi, seperti mimpi-mimpi nya sebelum itu, tidak pernah mengira jika ternyata jiwa nya telah mengembara jauh dari raga nya, Luna diajak ke rumah lelaki tampan yang ada di alam mimpi nya, disana Luna diperkenalkan dengan kedua orang tua lelaki tampan itu, Luna terlihat bahagia karena dia akan dinikahi oleh lelaki itu.
"Mas Bayu apakah ini hanya mimpi, jika semua ini nyata dimana keberadaan ibuku mas." ucap Luna pada Bayu lelaki tampan yang selalu hadir di alam mimpi Luna.
"Ibumu akan segera datang Lun, bukankah yang terpenting kita bisa selalu bersama, itupun jika kau mau mendengarkan ucapanku." tukas Bayu dengan mengecup kening Luna.
"Katakan saja mas, apa yang harus ku lakukan, supaya kita bisa selalu bersama?." tanya Luna yang belum menyadari jika dirinya sedang koma.
"Jika kau mendengar suara seseorang yang memanggil namamu, dan meminta kau untuk kembali, jangan pernah kau ikuti dimana suara itu berasal, karena jika sekali saja kau mendengarkan nya, kau akan terpisah jauh dariku." jawab Bayu seraya memeluk manja Luna.
"Baiklah mas asal aku bisa bersamamu, aku tidak akan mendengarkan ucapan siapapun." cetus Luna membalas pelukan Bayu.
Sementara di alam manusia, nampak Rania berjalan mondar-mandir di luar ruangan itu, batin Rania tidak tenang memikirkan kondisi Luna dan ibu nya, diseberang ruangan Luna nampak ibu nya akan melakukan operasi besar, semua orang diluar sana terlihat memanjatkan doa, dan membacakan ayat-ayat suci, terlihat Yudistira kepanasan karena mendengar lantunan ayat suci, yang dibacakan didekatnya.
Sialan mereka bisa memusnahkanku, jika aku terus berada disini, tubuhku terasa seperti terbakar, batin Yudistira tidak tenang seraya berjalan menjauh dari semua orang.
Nampak Wati membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Yudistira, lelaki itu menundukan wajahnya dan berjalan menjauh dari semua orang.
Kenapa wajah Yudi merah seperti itu ya, apa dia sedang sakit dan tidak mengatakan pada semua orang, batin Wati seraya berjalan mengikuti Yudistira.
Terlihat Yudistira berjalan ke sebuah ruangan, dia masuk ke dalam ruangan itu, dan menutup rapat pintu nya, sedangkan Wati yang berjalan dibelakangnya, merasa penasaran dan berusaha melihat apa yang dilakukan Yudistira didalam sana.
*
*
...Ikuti terus kelanjutan cerita ini, dan jangan lupa baca novel terbaru Author, Dendam Perempuan Berjubah Merah, tekan tombol favoritnya, supaya mendapatkan info update an terbaru, makasi semuanya 😉...
...Bersambung....