
Dengan berat hati akhirnya Elang menuruti ucapan Lala, untuk segera kembali ke alam gaib, nampak Senopati berpamitan pada ibunda nya, kedua nya saling memeluk dengan penuh kasih sayang, tertunduk pilu Elang menatap kedua nya, sepasang ibu dan anak harus terpisah karena ego nya dimasa lalu, ingin sekali Elang mendekap tubuh Lala dengan penuh cinta, tapi dia sadar jika dirinya tidak bisa melakukan itu, karena untuk menyentuh Lala seluruh tubuh Elang akan terbakar.
"Mari romo kita kembali ke istana." ucap Senopati dengan wajah sendu.
"Kau pergilah terlebih dulu nak, romo akan segera menyusulmu, ada yang ingin romo katakan pada ibundamu." jelas Elang seraya memandang wajah cantik Lala.
Kemudian Senopati melesat pergi meninggalkan kedua orang tua nya, terlihat Elang mendekati Lala dan memandang kedua mata sayu perempuan yang dicintai nya.
"Jika kau tidak ingin kembali ke istana bersamaku, aku tidak akan memaksamu, tapi bisakah aku memelukmu dan rasakanlah setiap darah yang mengalir ditubuhku, itu semua karena aku masih mencintaimu La, aku masih berharap kelak kita akan bersama kembali, apakah kau mengijinkanku untuk memelukmu La." ucap Elang lirih.
Aku juga merindukanmu kangmas, tapi dunia kita berbeda, batin Lala didalam hati nya.
Begitu pula Elang yang dapat mendengar suara batin Lala, karena ikatan batin mereka masih menyatu, terdengar Elang mengatakan didalam batin nya, jika Lala harus melepaskan jimat suci yang melingkar dileher nya, supaya Elang bisa leluasa memeluk tubuh Lala, tanpa takut tubuh nya melepuh kembali.
"Apakah kau mendengar suara batinku La, itu pun jika kau melepasnya supaya kita bisa saling bersentuhan, tapi jika kau keberatan kau tidak perlu melepasnya." tukas Elang dengan menundukan kepala nya.
Tanpa diduga terlihat Lala melepas kalung suci yang melingkar dileher nya, disimpan nya jimat suci itu didalam kantong celana nya, lalu nampak Lala bergegas menghambur kepelukan suami gaib nya, kedua nya saling memeluk dengan berderai air mata, kerinduan sangat terasa diantara kedua nya, sampai pada akhirnya terdengar suara mbakyu nya yang berteriak memanggil nama Lala.
"Kangmas aku harus segera masuk ke rumah, jika tidak mbakyu ku akan curiga." seru Lala dengan wajah cemas.
"Tapi aku masih merindukanmu La, apakah kau tidak ingin menghabiskan waktu bersamaku." tukas Elang seraya mengecup kening Lala.
"Ta tapi kita tidak bisa bertemu lagi kangmas." tukas Lala yang bersembunyi dibalik pohon, supaya mbakyu nya tidak dapat melihat dirinya disana.
"Bisa La, jika kau tidak ingin kembali ke istana bersamaku, aku yang akan datang menemuimu disini, kita bisa melepaskan rindu bersama, aku berjanji akan sering mengunjungimu, dan menunggumu di pohon ini, tapi ketika kau datang menemuiku lepaskanlah jimat suci itu, kau percaya padaku kan La, aku tidak akan menyakitimu meski kau melepas jimat suci itu." ucap Elang meyakinkan Lala.
Terlihat Lala hanya menganggukan kepala nya, dengan mata yang berkaca-kaca, hati nya iba mendengar permohonan tulus dari lelaki yang masih dicintai nya.
"Baiklah kangmas kita akan bertemu kembali, lebih baik sekarang kau lekas kembali ke alam mu, sebelum kepergianmu disadari mbakyu Sekar." ujar Lala seraya mengecup punggung tangan Elang.
Setelah itu Lala berjalan gontai masuk ke dalam rumah nya, sementara Elang yang masih berdiri mengambang dibalik pohon besar itu, nampak mengkerutkan kening nya, Elang sedang menerka-nerka kenapa ibu dan anak itu sama-sama menyebut nama Sekar.
Apakah kepergian Lala ada hubungan nya dengan Sekar, setiap kali Senopati selalu menyebut nama Sekar, tapi aku pikir dia hanya salah paham saja pada ibu tirinya, tapi hari ini Lala mengatakan hal yang sama tentabg Sekar, sebenarnya apa yang dilakukan Sekar dibelakangku, batin Elang penuh penasaran.
Kemudian Elang memutuskan untuk segera kembali ke alam nya, dan hanya dengan sekelebatan saja, lelaki tampan itu sudah sampai di depan singgasana istana nya, kemudian Elang memerintahkan pelayan istana untuk memanggil Sekar ke hadapan nya.
Dan ternyata saat itu Sekar sedang tidak berada di istana, nampak Elang kesal karena pertanyaan yang mengganjal dipikiran nya tidak dapat dia utarakan saat itu juga, lalu Elang melesat pergi dari singgasana nya, tapi tangisan Surtikanti menghentikan nya, Elang membalikan tubuh nya melesat mendatangi sumber suara Surtikanti berasal, nampaknya bayi perempuan itu sedang demam, karena berkat yang diterima nya sama seperti Kinanti, membuat tubuh mungil bayi itu panas dingin.
Dibopong nya tubuh mungil Surtikanti, bayi perempuan itu nampak sedikit tenang didekapan romo nya, terlihat wajah lega Mekar ketika bayi perempuan nya sudah mulai tenang.
Lalu dengan membopong bayi perempuan nya, nampak Elang menceritakan pertemuan nya dengan Lala, terlihat Mekar terharu mendengar cerita yang Elang katakan.
"Apakah Lala benar-benar tidak ingin kembali lagi kangmas, bukankah dia sudah memaafkanmu?." tanya Mekar tertunduk sedih.
"Sepertinya ada kejadian yang tidak ku ketahui selama ini, entah Lala tidak berani mengatakan nya, atau memang dia hanya menerka-nerka saja." jawab Elang dengan mengkerutkan kening nya.
Sebenarnya aku juga tidak tau apa-apa, tapi firasatku mengatakan jika mbakyu Sekar mengetahui segala, alasan Lala pergi dari istana ini, batin Mekar dengan menaitkan kedua alis mata nya.
Dan setelah menidurkan Surtikanti nampak Elang, ingin meletakan bayi perempuan nya di ranjang, tapi tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di luar sana, sepertinya Abimana dan Senopati sedang berdebat.
Dengan terburu-buru Elang melesat menghampiri kedua anak lelaki nya, kedua nya tengah bertengkar seraya menggunakan kekuatan gaib nya masing-masing, suar cahaya dan kikatan-kilatan berpantulan disana, sepertinya kedua anak itu ingin salung menyakiti.
Wuush...
"Hentikan semuanya, jika tidak romo akan menghukum kalian berdua." pekik Elang dengan membulatkan kedua mata nya.
"Romo semua ini adalah salah Senopati, dia dengan tidak sopan nya menyebut ibu ku telah berbuat jahat pada ibunda nya, padahal ibunya pergi dari sini karena dia sadar telah menghianati cinta romo." seru Abimana.
"Tutup mulutmu itu, jangan pernah kau berani mengatakan hal buruk tentang ibundaku." ucap Senopati penuh amarah.
"Sudahlah kalian tidak perlu ikut campur sejauh ini, tidak seharusnya kalian saling menyakiti, romo dan pangeran Bagaskara saja tidak pernah terlibat pertengkaran seperti kalian, tapi kalian yang masih muda malah arogan, ingin saling melukai, apakah kalian tidak pernah berpikir jika kalian adalah saudara." tukas Elang menatap tajam kedua anak nya.
Romo tidak tau saja apa yang dilakukan pangeran Bagaskara dibelakang nya, jika romo mengetahui segalanya, pasti romo tidak hanya ingin mencelakai nya, tapi romo pasti akan melenyapkan nya seketika, batin Abimana didalam hati nya.
Dan tanpa Abimana sadari ternyata romo nya, mendengar suara batin nya, nampak romo nya menatap tajam pada dirinya, digenggam nya lengan Abimana, lalu Elang meminta Senopati untuk pergi ke kamar nya.
"Seno kembali ke kamarmu sekarang juga, ada yang ingin romo bicarakan dengan Abimana sekarang juga." cetus Elang dengan suara berat nya.
*
*
...Sebenarnya Author sudah rilis novel horor yang terbaru, tapi karena proses review yang lama dari pihak aplikasi, Author belum bisa launching bab pertama nya, jadi kecewa padahal lagi semangatnya, tapi terhalang review, maaf jadi curhat kan 😢...
...Bersambung....