DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kejutan untuk hantu Belanda.


Setelah itu Jansen menatap wajah Rania dan berhenti tepat dihadapan Rania yang sedang berdiri mematung dengan menundukan kepala nya.


"Apa kau berbicara padaku Nona muda?". Tanya Jansen berdiri mengambang menatap wajah Rania dengan datar.


"Ehm iya Tuan... Perkenalkan namaku Rania putri sejagad semua orang biasa memanggilku Rania, apakah Tuan benar yang bernama Jansen?". jawab Rania dengan balik bertanya pada sosok hantu Belanda yang ada dihadapan nya.


"Ya namaku Jansen, kenapa kau ingin tau namaku Nona". Ucap Jansen yang sedang berjalan mengambang disekitar Rania.


"Begini Tuan aku mendengar jika kau mencari anakmu yang dulu bersekolah di sekolah tua, apakah namanya adalah Petter Van Disk". Seru Rania dengan menelan ludah nya kasar.


Nampak Jansen sangat terkejut ketika Rania dapat menyebutkan nama lengkap anak laki-laki nya, karena ketika dia memberitahu Anto dan juga pak Dahlan dia hanya mengatakan jika anaknya bernama Petter, dengan rasa penasaran yang sangat besar Jansen menghampiri Rania.


Wush...


Angin dingin menerpa sisi kanan wajah Rania, membuat gadis yang beranjak remaja itu mengusap wajahnya dengan kasar karena bulu-bulu halus diwajah nya meremang.


"Tu tuan tolong jangan sakiti aku, aku hanya ingin mencari tau tentang papa temanku Petter". Seru Rania yang beringsut ke bawah lantai Rumah sakit itu.


"Aku tidak akan menyakitimu Nona, katakanlah padaku darimana kau tau nama Petter Van Disk?". Tanya Jansen yang ikut berjongkok dengan mengambang di lantai.


Rania bangkit dari lantai dan duduk disebuah kursi panjang yang ada di taman Rumah sakit itu, lalu Jansen mengikutinya dari belakang.


"Begini Tuan sebenarnya dulu aku pernah bersekolah di sekolah tua yang sama dengan anakmu, saat aku mendaftar sekolah disana aku berkenalan dengan seorang anak laki-laki yang berambut pirang dan bermata biru, anak itu bernama Petter Van Disk semenjak hari itu kami berteman bahkan sampai sekarang dia bersama mama nya juga tinggal di rumahku, karena Petter pernah bilang jika dia dan mama nya masih menunggu papa nya untuk kembali ke alam keabadian, tapi aku dan mbah Karto belum bisa menemukan papa Petter, sehingga dia dan mama nya tetap ingin berada di alam manusia untuk mencari keberadaan papa nya, lalu tadi siang pak Budi bercerita kalau mas Anto dan pak Dahlan mengigau dan menyebut nama seseorang yaitu Jansen dan Petter anaknya, semenjak aku mendengar nama Petter entah kenapa aku merasa jika yang mencarinya adalah papa nya, karena itu lah Tuan aku memberanikan diri untuk bertanya padamu langsung". Cetus Rania yang masih menundukan wajahnya.


Sementara mbah Karto yang mengawasi Rania dari kejauhan terus memantau pergerakan hantu Belanda yang sedang berkomunikasi dengan Rania, karena hantu Belanda itu mengeluarkan aura positif mbah Karto membiarkan nya berdekatan dengan Rania.


"Dimana Petter dan mama nya sekarang, tolong beritahu aku Nona muda mereka adalah anak dan istriku, selama ini aku gentayangan kesana kemari hanya untuk mencari keberadaan mereka berdua". Ucap Jansen dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi Tuan ini benar papa nya Petter". Seru Rania dengan memandang wajah pucat Jansen yang sedang bersedih.


"Iya Nona aku adalah Jansen Van Disk papa Petter suami dari Evana". Sahut Jansen lirih karena air mata nya sudah tidak tertahankan.


Lalu mbah Karto yang melihat hantu Belanda itu sedang bersedih, berjalan ke taman mendekati keduanya yang sedang berbincang dibawah pohon itu.


"Ada apa nduk?". Tanya mbah Karto memandang wajah Rania.


Kemudian Rania berdiri dan berjalan menghampiri mbah Karto, Rania menjelaskan pada sesepuh desa nya jika hantu laki-laki itu adalah papa Petter yang selama ini mereka cari.


"Jadi selama ini kau berada di Rumah sakit ini". Tukas mbah Karto menatap wajah pucat yang sedah bersedih dihadapan nya.


"Iya mbah selama ini aku bertahan di Rumah sakit ini dengan harapan anak dan istriku akan datang untuk mencariku, sehingga aku tidak pernah pergi jauh dari sini, berulang kali aku datang ke sekolah Petter yang dulu tapi aku tidak pernah menjumpainya". Sahut Jansen yang kini berdiri mengambang didekat mbah Karto.


"Baiklah setelah ini kau ikutlah bersama kami pulang ke desa, karena anak dan istrimu ada disana dan setelah kalian berkumpul lagi, kalian semua bisa tenang lalu kembali ke alam keabadian". Tukas mbah Karto dengan suara berat nya.


Mbah Karto menatap Rania yang terdiam dan menyadarkan nya dari lamunan nya.


"Ayo nduk kita berpamitan pada semua orang yang sedang dirawat disini". Ajak mbah Karto seraya berjalan terlebih dulu.


Lalu Rania mengikuti mbah Karto dari belakang, terlihat Jansen juga mengikuti Rania yang sedang bermuram durja.


"Nona muda kenapa kau terlihat bersedih". Sapa Jansen memandang wajah Rania yang terlihat sendu.


"Tidak apa-apa Tuan, aku hanya sedih mendengar temanku Petter akan pergi selamanya bersamamu". Cetus Rania dengan mengerucutkan bibir nya.


"Mungkin suatu hari nanti kau akan mendapat teman baru pengganti Petter Nona". Jelas Jansen menghibur Rania.


Nampak Rania hanya tersenyum simpul tanpa menjawab ucapan Jansen, karena sekarang dia sudah sampai di ruangan pak Dahlan dan Anto.


Jansen berkata pada Rania jika dia ingin mengucapkan terima kasih pada pak Dahlan dan juga Anto karena mereka berdua sekarang dia bisa menyusul anak dan istri nya.


"Pak Dahlan dan mas Anto Tuan Jansen ingin mengucapkan terima kasih pada kalian, dan kalian berdua tidak perlu menuliskan surat untuk anaknya karena setelah ini aku dan mbah Karto akan membawa Tuan Jansen untuk bertemu dengan anak dan istri nya". Tukas Rania dengan senyum simpul nya.


Terlihat pak Dahlan dan Anto mengkerutkan dahu nya setelah mendengar perkataan Rania, mereka berdua tidak mau menghianati janji pada hantu Belanda yang sudah menolong mereka, keduanya berkata akan melaksanakan janjinya pada Tuan Belanda itu.


Lalu mbah Karto ikut menjelaskan pada mereka, jika yang dikatakan Rania itu benar karena saat ini hantu Tuan Belanda itu sudah mengetahui keberadaan anak dan istri nya berkat mereka berdua juga, jadi mereka sudah sangat membantu hantu Tuan Belanda itu.


Dan setelah mendengar penjelasan mbah Karto nampak Anto dan pak Dahlan sedikit lega keduanya menghembuskan nafas yang panjang karena mereka sudah bisa membalaskan budi pada hantu yang sudah menolong mereka terbebas dari dimensi gaib.


Kemudian pak Budi dan pak Sapri mengajak Rania dan mbah Karto untuk kembali ke Desa Rawa belatung karena hari sudah hampir sore, pak Budi mengemudikan mobil Anto sedangkan pak Sapri dan mbah Karto terdengar membicarakan tentang kejadian janggal dimalam kematian pak Broto.


Terlihat Rania mengkerutkan kening nya ketika dia tidak sengaja mendengar jika kematian pak Broto karena di patuk oleh siluman ular yang berwujud perempuan cantik, sementara Jansen yang duduk di samping Rania mengatakan jika siluman seperti itu tidak mungkin mencelakai manusia jika bukan karena perjanjian nya dengan manusia yang sudah sesat.


Dan mbah Karto pun membenarkan perkataan Jansen karena menurutnya dunia siluman itu berbeda dengan dunia manusia, dan ketika siluman ikut campur dengan kehidupan manusia itu artinya dia sedang ada perjanjian gaib dengan manusia yang bersekutu dengan nya.


*


*


...**Bersambung....


...Penilaian give away akan di undi dan di videokan yang belum beruntung yang sabar ya, author akan sering mengadakan give away kecil-kecilan seperti ini dan jika author sudah mendapat pendapatan banyak dari novel ini mungkin give away nya bukan pulsa lagi kak bantu doa saja ya hehehe 😉...


...Love you all sehat selalu ya kalian 💕**...